Saturday, June 30, 2007

“Mengenang Korban Agresi Jepang di Kalbar”


Kami adalah bagian dari keluarga yang menjadi korban agresi Jepang merasa bersyukur dan menghargai usaha dan upaya Pemerintah Daerah beserta wakil wakil rakyat Kalimantan Barat yang akhirnya menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah untuk memperingati tragedi pembantaian terhadap 21.037 jiwa rakyat Kalbar oleh rezim tentara Jepang selama tahun 1942-1945.

Gubernur juga menginstruksikan agar masyarakat Kalbar menaikkan bendera Merah Putih setengah tiang pada tanggal 28 Juni sebagai wujud menghormati serta menghargai para pejuang kita yang telah menjadi korban keganasan tentara Jepang.

Menyinggung keganasan tentara Jepang di Kalbar, penulis teringat 5 tahun yang lalu pada tanggal 1 Juli 2002 pernah menulis satu artikel dengan judul : “SEPOTONG MEMORI, BUKAN DENDAM”. Intinya memaparkan keganasan tentara Jepang menindas serta membunuh rakyat Kalbar pada masa tahun 1942 – 1945. Tulisan ini mendapat tanggapan simpatik dari seorang anggota dari I.K.K.A.J. (Ikatan Keluarga Korban Agresi Jepang) di Singkawang dengan menghadiahkan 1 buah buku dalam bahasa Mandarin dengan judul buku: “KEADAAN NAN YANG SEHABIS PERANG”, yang dibukukan pada tahun 1947 oleh wartawan-wartawan Singapura dan Pontianak yang berwawancara langsung dengan tokoh-tokoh masyarakat Kalbar dan saksi hidup pada tahun 1946.

Dalam buku ini dihalaman 9 terdapat satu artikel yang berjudul : “SELEMBAR TRAGEDI BERDARAH HOA CHIAU DI WEST BORNEO”, ditulis oleh wartawan bernama She Heung yang berwawancara langsung dengan seorang saksi hidup yang lolos dari maut bernama Liauw A Ciu yaitu pengusaha keramik di Singkawang.

Untuk diketahui masyarakat Kalbar, terutama pendatang-pendatang baru dan generasi muda, bagaimana tentara Jepang semena-mena menindas rakyat Kalbar diluar perikemanusiaan.
Disini kami menterjemahkan secara bebas cerita nyata dari Bpk. Liauw A Ciu yang mengalami sendiri kejadian pada waktu itu, sebagai berikut:

Saya ditangkap pada tanggal 12 bulan 8 Imlek subuh pagi di rumah. Sebab apa saya ditangkap tidak diketahui. Tanggal 13 dibawa ke Pontianak, dalam perjalanan saya ada niat untuk melarikan diri dengan cara meloncat dari lory/ truk. Sebab sejak saat ditangkap, sudah ada perasaan atau firasat tidak ada harapan pulang dengan hidup. Niat saya ini tidak mendapat dukungan dari teman-teman dalam truk. Pada umumnya mereka tidak berani dan sebagian besar menganggap dirinya tidak ada berbuat kesalahan yang besar dan yakin tidak akan terjadi hal yang sampai menyebabkan mereka kehilangan nyawanya.

Pada waktu 3 hari di kamp tahanan di Pontianak, saya ada usaha dengan teman-teman sekamar memberontak. Karena situasi saat itu masih mungkin, kami masih bebas bergerak. Tetapi semua teman-teman sekamar tidak setuju akan pikiran saya untuk mencoba melakukan hal yang menurut mereka berbahaya.

Pada tanggal 14 dan 15, kami lihat banyak “Thiat Lian Ci” (Narapidana) berbaris berangkat pergi kerja berjalan melalui pintu di ruangan kami dengan kepala tertunduk. Saya menangkap sorot mata mereka mengintip ke arah kami. Pada saat itu, saya perkirakan mereka pergi menggali liang kuburan untuk kami. Hal ini saya bicarakan dengan teman-teman sekamar bahwa hari maut kita akan segera tiba. Tetapi sebagian besar sesama tahanan ragu-ragu dan tidak percaya.

Pada tanggal 15 adalah hari raya “Chung Chiu Chiat” (Festival Kue Bulan). Kompetai membawa sehelai kertas blanko dan menyuruh saya menandatanganinya, segera saya lakukan. Malam itu nampak remang-remang, hujan gerimis sekitar pukul 10 malam, mendadak di seluruh pelosok dalam ruang tahanan kamp bergerak serentak diikuti dengan berkerumunan. Dalam hati saya berbisik, malaikat elmaut akan tiba. Pada saat itu lampu telah dinyalakan terang benderang seluruh kamp. Ratusan kepala bergerak-gerak disekililing. Setiap orang hanya memakai singlet dengan celana pendek dan kepala ditutupi kain, 2 tangan di ikat ke belakang. Setiap orang memiliki nomor. Sewaktu saya masuk kamp diberikan nomor 15 dan pada waktu akan dinaikkan ke truk maut nomor saya menjadi 101. Semua antri ke barisan dan dipanggil satu per satu hingga semua selesai waktu sudah jauh malam. Saya perkirakan ada sepuluhan truk yang pelan-pelan mulai bergerak jalan sampai menimbulkan suara yang bergemuruh. Truk maut yang saya naiki kebetulan yang paling akhir/belakang. Dalam 1 truk berdesakan puluhan orang tanpa suara apapun selain gemuruh mesin truk. Saya dapat merasakan perjalanan truk yang kami naiki terus berjalan tanpa menyeberangi sungai Kapuas, karena masa itu belum ada jembatan Kapuas, maka kalau menyeberang tentu akan terasa menaiki ferry/pelampong.

Truk arahnya menuju ke lapangan Sungai Durian,saya terus berusaha melepaskan tali yang terikat kebelakang pinggang pada tangan saya dan akhirnya berhasil. Semua truk yang kami naiki ditutupi kain terpal seluruhnya dan 3 tentara Jepang duduk di atas terpal tersebut mengawasi kami. Kami sama sekali tidak bisa berdiri dan berjalan. Mendadak truk yang kami naiki berhenti. Diperkirakan ada truk di depan truk kami mogok/rusak, sehingga truk kami tidak bisa maju. Pelan-pelan saya coba angkat kain terpal yang menutupi diatas kepala, rasanya agak kendor. Tetapi saya masih belum berani mengambil resiko. Saya coba berusaha mengetahui keadaan disekitar truk kami. Merasa sudah yakin kalau tentara Jepang tidak berada diatas truk, segera saya membuka kain terpal dan meluncur keluar dari samping truk, remang-remang (bulan purnama dan gerimis) saya lihat seorang tentara Jepang berdiri di depan truk dengan arah membelakangi saya. Di bawah sinar bulan yang remang-remang, saya harus mengambil keputusan kearah mana saya akan lari, tentunya masuk ke semak-semak disamping jalan besar. Dalam pikiran saya daripada di eksekusi lebih baik saya ambil resiko ini, maka saya berlari terus kearah hutan menjauhi jalan raya, onak dan cape tak di hiraukan, akhirnya sampai disebuah rumah yang beratap daun rumbia, hari sudah pagi. Rumah seorang nenek tua yang menyelamatkan jiwa saya yang kemudian mengakui saya sebagai anak angkatnya.

Soal truk-truk maut itu selanjutnya saya sama sekali tidak tahu. Tetapi ada satu hal yang harus saya tegaskan bahwa saya pernah bersumpah dimuka teman-teman setahanan, seandainya saya Liauw A Ciu berhasil melarikan diri, saya akan berusaha semaksimal mungkin membalaskan dendam atas pengorbanan mereka yang telah "hilang" tak berbekas .Satu hal yang pasti ialah mereka ditangkap tentara Jepang, sama sekali tidak ada harapan hidup kembali ke rumah.

Wartawan She mewawancarai Bpk. Liauw 1 jam lebih dan amat terharu sampai hampir menetaskan air mata karena mendengar cerita nyata yang tulus dan spontanitas. Bapak Liauw menambahkan lagi bahwa ratusan kerangka tulang belulang manusia yang tidak diragukan, terutama disekitar lapangan terbang Sungai Durian, kita harus menggali kembali dan memberikan tempat peristirahatan terhormat sebagai pejuang rakyat Kalbar serta membuktikan kepada kita semua bagaimana ganasnya dan tanpa perikemanusiaan tentara Jepang bertindak semasa perang dunia ke-2 di Kalbar.

Akhir-akhir ini beredar isu-isu dikalangan masyarakat bahwa tahanan yang ditangkap tentara Jepang berada di Kuching, ada yang berada di pulau, ada juga yang berada di pegunungan. Ini semua berita bohong yang sengaja ditiupkan oleh orang Jepang. Kita jangan percaya dan terperangkap. Wartawan She mendengar kalimat terakhir ini membuktikan bahwa Bapak Liauw yakin benar apa yang dituturkan adalah kenyataan. Karena masih ada keluarga korban yang masih berharap bahwa tahanan-tahanan itu akan kembali tidak begitu lama lagi.

Demikian tulisan dan terjemahan kami. Sebagai informasi, penulis masih mengenal keturunan almarhum Bpk Liauw yang berada di Pontianak. Sebagai penutup, kami berharap jangan melupakan sejarah. Seperti kata bijak Kuno China: “Chian She Puk Wang, How She Ce She”, yang secara harfiah artinya: Kejadian yang lalu tidak dilupakan adalah guru bagi masa depan .
Salam Sejahtera.
X F. Asali, Jl. Sisingamangaraja, Pontianak
Foto: By Lukas B. Wijanarko/Borneo Tribune
Read More....

Friday, June 29, 2007

Peristiwa Mandor sebagai Media Pembelajaran


Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Mandor

Peristiwa Mandor seharusnya menjadi media pembelajaran bagi generasi muda dan pembentuk nilai-nilai luhur dalam memahami sejarah. Bila tidak, peristiwa Mandor, hanya ritual yang dilakukan setahun sekali. Setelah upacara selesai, Mandor, sepi lagi.

Puluhan wajah belia terlihat serius. Mereka menyimak setiap kalimat yang keluar dari orang di depannya. Tiga orang tua, sedang bercerita tentang sejarah dan tragedi Mandor. Ketiganya, Aswandi, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan. Dia menjadi moderator. Paulus Alep Kopin, saksi peristiwa Mandor. Sudarto, pemerhati sejarah Kalbar. Siang itu, Kamis (28/6), mereka berdiskusi dengan sekitar 60 siswa dan guru, dari berbagai SD-SMA se-Pontianak.
“Sejarah itu data, fakta dan interpretasi. Kemampuan kita memotret sejarah, akan memberikan interpretasi terhadap fakta,” kata Aswandi, memulai diskusi.

Ia bercerita, ketika anak-anak Amerika tidak bisa mengerjakan ilmu eksakta dan ilmu alam lainnya, pemerintah tidak langsung memberikan penambahan terhadap ilmu tersebut. Tapi, pemerintah malah memberikan pelajaran ilmu sejarah. Hasilnya, anak-anak itu bisa mengerjakan berbagai ilmu yang diberikan.
Kenapa bisa demikian? Karena sejarah membuat sang anak menjadi bangga dan tahu jati dirinya. Hal itulah yang membuat mereka makin bersemangat mempelajari ilmu lainnya. Demikian, kata sang dekan dari FKIP ini.

Paulus Alep Kopin, 88 tahun warga Anjungan menuturkan, ketika Jepang datang, pasukan Jepang sering mengunjungi pasar Anjungan. Jepang membutuhkan tenaga pemuda desa, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan pangkalan militernya.
Ia seorang romusha. Tenaga kerja paksa zaman Jepang. Tak ada upah. Makan pun sulit. Jepang mencari pemuda ke berbagai kampung, untuk dipekerjakan pada berbagai proyek. Kalau pemuda tidak mau ikut kerja paksa, ia akan dicari ke rumah, dan keluarganya bakal terancam. Alep pernah kerja paksa di Mempawah. Di sana, ia membabat hutan bakau demi, keperluan perang Jepang.

Semua serba susah. Sanking sulitnya bahan makanan dan sandang, orang harus berjalan puluhan kilometer, menukar hasil kerajinan dan bumi untuk beras.
Namun, sering kali apa yang dibawa, dirampas Jepang hitam –istilah bagi penduduk Kalbar-- yang menjadi kaki tangan dan bekerja bagi Jepang. Akibatnya, beras tak dapat, barang bawaan pun, dirampas.

Ketika itu, ia sering mendengar perbincangan orang di Anjungan, Jepang mulai menangkap orang terkenal, kaya, pejabat pemerintah, pengusaha, dokter, dan keluarga kerajaan dari berbagai daerah di Kalbar.
Saat berada di pasar Anjungan, ia biasa melihat tentara Jepang berkeliaran di sana. Dari sepatu yang dikenakan, ia melihat sepatu bala tentara Jepang, sering terlihat bercak darah.

Menurutnya, ketika Jepang mendapat laporan orang yang dianggap berbahaya bagi kekuasaannya, mereka tidak mengecek dulu sejauhmana kebenaran berita itu. Tapi, tentara Dai Nippon langsung menculik dan menghukumnya. Ia sering melihat lalu lalang truk menuju Mandor. Yang ketika itu masih berupa hutan.
Dia pernah kerja paksa di Mandor. Setiap ada pesawat terbang lewat, ia berlari dan sembunyi. Ia berharap pada generasi muda yang hadir, untuk selalu memperkuat persatuan dan kesatuan. “Bila tidak, kita akan mudah dijajah, oleh siapa pun,” kata Alep.
Murid yang hadir dalam perbincangan, seolah tak mau melewatkan setiap kata dan kalimat yang terucap, terlewat begitu saja. Mereka dengan serius mendengarkan para saksi sejarah ini.

Pembicara kedua, Sudarto. Ia pernah menjadi guru di SMA Paulus selama 30 tahun. Ia pernah meneliti berbagai sejarah di Kalbar. Dari apa yang dipaparkan, ia tahu setiap detail peristiwa dan sejarah di Kalbar.
Menurutnya, terungkapnya peristiwa Mandor, tidak bisa dipisahkan dengan era pemerintahan Gubernur Kadarusno. Ia gubernur Kalbar kelima, tahun 1972-1977. Ia bekas tentara KNIL Belanda. Saat masih menjadi kopral, ia anak buah Sultan Hamid II. Yang ketika itu menjadi perwira militer dan mendapat pendidikan ketentaraan di Belanda.

Saat menjadi gubernur, ia memerintahkan anak buahnya meneliti keberadaan makam yang terletak di Mandor, sekitar 89 arah timur kota Pontianak. Dari penelusuran yang dilakukan, ditemukan makam kerangka berserakan di berbagai area di Mandor.
Kadarusno memerintahkan tulang belulang itu dikumpulkan dan dikuburkan kembali dalam 10 makam besar itu. “Saat ini, yang ada di sepuluh pemakaman massal itu, tak lebih dari 800 orang,” kata Sudarto.

Lalu, di mana mayat lainnya?
“Sungai Kapuas,” kata Sudarto. Sungai Kapuas dan Landak, ketika itu menjadi jalur bagi pengangkutan tahanan dari Pontianak ke Mandor. Para tahanan diculik di daerahnya dan dibawa ke Pontianak. Setelah itu, baru dibawa ke Mandor. Dalam perjalanan ada yang sakit. Mereka langsung dilempar ke sungai. Orang yang tidak sakit pun, bisa saja di lempar ke sungai. Sungai menjadi kuburan termurah dan efisien bagi para tahanan. “Karena, tak mungkin Jepang menguburkan satu persatu tahanan. Biayanya akan sangat besar,” kata Sudarto.

Pembunuhan para korban peristiwa Mandor, tidak sekaligus. Namun, bertahap. Pembunuhan itu berawal sejak April 1943, dan berakhir sekitar Juli 1944. Alasan pembunuhan dilakukan pada April 1943, ketika itu di Banjarmasin sudah mulai terjadi pemberontakan melawan Jepang. Ada dua orang dari Banjarmasin dikirim ke Kalbar. Tugasnya, memberitahu permasalahan yang sedang terjadi di Banjarmasin, kepada para pemimpin di Kalbar. Keduanya seorang dokter. Rubini dan Makaliwe.

Dua orang dokter ini, sering bertemu dengan para pemimpin Kalbar di Gedung Medan Sepakat, Jalan Jenderal Urip, Pontianak. Dulunya, gedung itu sering menjadi tempat berkumpul para pejabat, pengusaha, aktivis kemerdekaan, dokter, dan para pembesar kerajaan di Kalbar. Mereka terdiri dari beragam etnis. Sekarang ini, keberadaan gedung ditempati satu organisasi kemasyarakatan.
Dalam berbagai pertemuan itulah, mereka mencari jalan dan berdiskusi untuk melawan Jepang. Caranya, melalui gerakan massa rakyat. Mereka beranggapan, penyebab berbagai kesulitan hidup, akibat penjajahan Jepang. Maka, negeri matahari terbit itu, mesti memperbaiki kondisi di masyarakat.

Saat itu, sulit menemukan keberadaan senjata. Jepang tidak percaya memberikan senjata, meskipun kepada warga Indonesia yang menjadi tentara dan bekerja untuknya.
“Namun, negeri ini memang sarang penghianat,” kata Sudarto.

Para penghianat yang merupakan warga Indonesia sendiri, menambahi berita itu dengan berbagai bumbu dan cerita. Seolah-olah, para pemimpin itu, akan melakukan perlawanan bersenjata pada Jepang. Tentara pendudukan Jepang langsung merespon dengan berbagai penangkapan.
Ada dua hal yang menjadi kekhawatiran Jepang, saat itu. Pertama, pasukan Jepang di berbagai medan pertempuran, mulai terpukul mundur. Bahkan, dalam berbagai pertempuran di lautan Pasifik, Jepang mulai kalah dan terjepit. Misalnya, di Filipina dan berbagai medan pertempuran lainnya. Kedua, orang yang dibunuh, punya massa dan menjadi pemimpin bagi warganya. Bila mereka memerintahkan sesuatu pada rakyatnya, Jepang sangat khawatir, bakal menjadi perlawanan bagi pemerintahan pendudukan Jepang.
Penculikan selalu terjadi pada tengah malam. Setelah diculik, para pemimpin itu disungkup. Kepalanya ditutup dengan karung goni. Para pemimpin itu dibawa ke kantor Kepolisian Residen atau benteng Belanda.

Sekarang ini, bekas benteng itu telah berubah menjadi Pasar Nusa Indah. Ironis memang. Ketika kita berteriak untuk mengabadikan 28 Juni, sebagai Hari Berkabung Daerah (HBD), melalui berbagai cara atau Perda. Di sisi lain, kita membongkar berbagai monumen sejarah yang berhubungan dengan hal itu. Begitu pun dengan bangunan penjara yang sekarang berubah menjadi Rumah Sakit Antonius.
Pemerintah Pusat mesti memperhatikan peristiwa Mandor. Dari peristiwa ini, ada hal bisa dilihat mengenai perjuangan rakyat Kalbar. “Meski tidak mengalami perjuangan fisik atau revolusi, tapi Kalbar berperan mempersiapkan kemerdekaan di Indonesia,” kata Sudarto.

Munculnya jumlah angka korban Mandor sebanyak 21.037 orang, karena berita di harian Akcaya. Angka ini masih menjadi kontroversi hingga sekarang. Bahkan, seorang komandan Jepang yang dihukum mati di Kalbar, Yamamoto, juga mengaku tidak tahu.
Menurut Sudarto, hal yang bisa dilakukan sekarang ini, untuk mengetahui jumlah sebenarnya tentang jumlah korban peristiwa Mandor, harus meneliti berbagai dokumen pengadilan perang di Jepang. Sudah ada kebijakan dari pemerintah Jepang, untuk mengakses berbagai dokumen pengadilan itu. Dokumen itu, tentu menggunakan huruf Kanji. “Karenanya, mulai sekarang kita mesti belajar hufuf kanji, bila ingin mengakses berbagai dokumen mengenai peristiwa Mandor,” kata Sudarto.

Pada diskusi itu juga dilakukan acara tanya jawab. Mereka yang mengikuti diskusi, terlihat antusias. Berbagai cerita dari sang narasumber dicatat pada sebuah buku.
Salah satunya, Chamsiah. Ia guru SD 25 Pontianak Kota. Terhadap kegiatan itu, ia memberikan pendapatnya, “Kegiatan seperti ini penting untuk mengenang masa lalu. Rencananya, peristiwa Mandor, akan dimasukkan dalam muatan lokal sekolah.”
Begitu juga dengan Afriyanti, siswa kelas 2/2, SMP 8 Pontianak. Menurutnya, kegiatan seperti ini menarik. Banyak informasi bisa diperoleh. “Kita juga ingin tahu, bagaimana peristiwa itu selanjutnya,” kata Afriyanti.

Ada satu kegelisahan diungkapkan Sudarto tentang peristiwa Mandor. Ia berharap, peristiwa Mandor jangan hanya seremoni dengan mengunjungi makam juang Mandor, setahun sekali. “Tapi, harus dijadikan sebagai media pembelajaran,” kata Sudarto.
Karenanya, di Mandor bisa dibangun berbagai kegiatan yang mendukung sebagai media pembelajaran. Seperti, area camping bagi anak sekolah dan dilengkapi berbagai film dan foto-foto tentang peristiwa Mandor. Dengan mengetahui peristiwa Mandor, anak sekolah bisa mengetahui sejarah daerah dan bangsanya. Sebab, sejarah merupakan ilmu dasar. “Sebelum belajar ilmu lain, belajarlah sejarah,” kata Sudarto.

Foto: By Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune tanggal 30 Juni 2007
-------------------------
Komentar Pembaca
-------------------------
Dear Tanto,
Saya baca posting Anda soal peristiwa Mandor ini. Sangat menarik. Apalagi lihat response yang muncul. Mungkin Anda bisa menambah riset ini dengan membaca karya Mary Somers Heidhues, seorang ahli overseas Chinese, dalam karyanya berjudul The Makam Juang Mandor Monument: Remembering and Distorting the History of the Chinese of West KalimantanDia meneliti cukup lama pembantaian ini sekaligus mengkritik manipulasi sejarah yang dilakukan oleh pihak Indonesia dalam kasus Mandor. Tentu saja, dia juga mengungkapkan ketidakbecusan militer Jepang dalam menghadapi kasak-kusuk yang tak jelas dari Banjarmasin. Dia juga meneliti jumlah korban.Kalau saya tak salah ingat, karya ini ada dalam buku Chinese Indonesians: Remembering, Distorting, Forgetting dengan editor Tim Lindsey dan Helen Pausacker. Saya sangat terkesan dengan ketelitian Mary Somers Heidhues. Terima kasih.
Salam,
Andreas Harsono, Jakarta
Read More....

Ketika Kenal Kata Papa, Papa pun Pergi


Tanto Yakobus
Borneo Tribune, Pontianak

Kurang dari 24 jam, setelah blogspot yang merekam peristiwa Mandor pada zaman penjajahan Jepang dan kondisi sekarang ini, respon pembaca Borneo Tribune dan kenalan saya lumayan bagus. Rupanya, setelah membaca berita box Borneo Tribune soal peristiwa Mandor dapat diakses di Mancanegara, Jumat (29/6) pagi kemarin, tak sedikit yang langsung membuka internet--mengakses menelusuri web http://www.peristiwamandor44.blogspot.com/, yang saya rampungkan 12 jam sebelumnya.
Blog tersebut memuat banyak peristiwa miris yang dilakukan Jepang terhadap satu generasi di Mandor. Cerita miris itu coba kami telusuri dari keluarga atau anak cucu korban yang masih hidup.
Salah satu anak korban yang saya temui usai peringatan hari berkabung daerah (HBD) di Mandor dua hari lalu adalah, Soewito Limin. Pendiri lembaga pendidikan Bina Mulia ini punya cerita memilukan menjelang pembantaian Jepang di Mandor.
Saat diwawancarai saya, Nur Iskandar dan Munawar serta Gumai dari MTA TV (TV Muslim London) yang siarannya ditayangkan ke kurang lebih 200 negara, Soewito Limin awalnya tampak terharu dengan peringatan HBD yang mendapat sambutan hangat keluarga korban, pemerintah dan warga masyarakat Kalbar.
Namun ketika beliau mengingat kejadian masa lalu, Soewito Limin sempat termanggu.
“Waktu itu umur saya dua tahun kurang satu bulan. Dan baru bisa menyebut papa…papa….”
Suara Soewito Limin hilang. Bulir-bulir bening keluar dari matanya. Ia pun menyeka air matanya dan menarik napas dalam-dalam.
Bebrapa saat Soewito menghentikan bicaranya. Ia terdiam, tatapannya menerawang ke depan dengan pandangan kosong.
Lalu ia melanjutkan ceritanya, “Baru malam itulah saya bisa menyebutkan nama papa. Saat papa pulang kerja, saya buru-buru menghampirinya dan memanggil papa…papa. Hanya beberapa jam datang serdadu Jepang menangkap dan membawa papa keluar. Mulai saat itu papa tidak pulang lagi,” ceritanya dengan mulut gemetar.
“Bagi saya pribadi permintaan maaf Jepang itu tidak cukup, tapi bagaimana Jepang bisa membantu pendidikan anak-anak Kalbar ini supaya bisa maju dan sejajar dengan mereka,” katanya.
Tapi lanjutnya, jangankan memperhatikan pendidikan terutama anak cucu korban keganasan Jepang, minta maaf saja sulit mereka lakukan.
Katanya, peristiwa itu betul-betul cambuk. “Kemudian bagi masyarakat Kalbar, saya juga mendirikan sekolah Bina Mulia. Mengapa Bina Mulia? Kita ingin membina anak-anak kita dengan pendidikan yang lebih baik,” katanya lagi.
Sementara itu, Andreas Acui Simanjaya yang menemani kami ke makam Juang Mandor mengatakan, terkesan dengan apa yang dialami Bapak Soewito Limin. Beliau masih ingat benar bahwa malam sebelum ayahnya ditangkap Jepang, beliau masih balita saat itu, baru belajar bicara dan pada malam itu baru pertama kali bisa memanggil papa .... papa ... itu kata-kata yang baru bisa diucapkannya malam itu yang pasti membuat seluruh anggota keluarga terbawa dalam keceriaan karena seorang anak mulai bisa bicara dan memanggil ayahnya.
Menurut Acui, dirinya sendiri sangat memahami bagaimana rasa bangga dan bahagia itu timbul sebagai seorang ayah ketika putra pertamanya, Chrisdion Simanjaya (7 tahun) belajar bicara dan kata pertama yang bisa di ucapkan adalah papa ...
Bagi anak-anak yang kehilangan seorang ayah yang juga berarti kehilangan satu masa manis yang seharusnya dialami oleh seorang anak yang memiliki orang tua yang lengkapadalah suatu kejadian yang sangat menyakiti hati dan sepanjang kehidupan anak para korban Jepang, dan itu terasa sampai kini.Jika seorang ayah dalam kehidupan kita direnggut begitu saja tanpa ada penjelasan dan sebab, apalagi kelak diketahui ternyata sang ayah mengalami perlakuan tidak manusiawi hingga dikuburkan tanpa nisan di Mandor, ini kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan terhadap seorang anak yang membutuhkan ayah dalam hidupnya. (bersambung)

Foto: By Andreas Acui Simanjaya
Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune, tanggal 29 Juni 2007
Read More....

Yang Terlupakan


Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Dalam setiap hajatan dan seremoni, selalu ada kemeriahan. Ada kesedihan tertahan. Ada proses berulang. Dan, ada sesuatu yang terlupakan. Salah satunya, dalam peringatan Hari Berkabung Daerah (HBD) Peristiwa Mandor. Ketika orang berduyun-duyun memperingati peristiwa itu, mereka melupakan sosok-sosok yang terlibat di dalamnya.

Ia terlihat semangat ketika bercerita. Kalimatnya bergelora. Ada ekspresi. Ada penumpahan. Ia seolah menemukan ruang untuk berbagi. Dengan ceritanya, ia menarik saya pada waktu. Yang seakan ingin direngkuhnya kembali. Dalam perbincangan itu, sesekali ia menyisipkan bahasa Jepang.
Rambutnya telah memutih. Ia kelahiran Singkawang, 1 September 1928. Tak terlihat ringkih pada tubuhnya. Namanya, Kasilan. Ayahnya, dari Jawa. Yang dijadikan serdadu Belanda, untuk menumpas pergolakan di Mempawah. Ayahnya tinggi besar. Karenanya, ia ditempatkan dalam kesatuan Marsose. Satu pasukan elit jaman penjajahan Belanda.
Ketika Jepang masuk ke Kalbar, Kasilan direkrut sebagai tentara Heiho. Ini merupakan satuan tentara yang dibentuk Jepang, untuk membantu dalam peperangan melawan sekutu. Pada perkembangannya, pasukan Heiho dikirim ke berbagai front peperangan di pasifik, Pilipina, Myanmar, Indochina dan lainnya.
Ketika itu umurnya masih 16 tahun. Supaya diterima sebagai serdadu Jepang, orang tuanya memberikan saran. Supaya umurnya ditambah setahun. “Supaya bisa diterima,” katanya.
Setelah diterima, ia bertugas di Kompi Merah Kuning Pasukan Jibakutai. Ini pasukan khusus dari angkatan darat, yang dilatih untuk berani mati. Pasukan berani mati di udara, bernama Kamikaze. Dalam berbagai pertempuran, pasukan ini sangat ditakuti.
Kasilan masuk regu I, Si Buntai. Komandannya bernama Kamiguci Hidewo. Di atasnya lagi, ada Zamada Heso dan Watanabe Kinjiro.
Ia pernah bertugas di Sungai Tebelian. Ketika itu, Jepang mengerahkan penduduk untuk membuat bandara. Sekarang ini, bandara itu bernama Bandara Supadio Pontianak. Landasan bandara terbuat dari batu-batu yang diambil di Batu Ampar. Batu itu dimuat di perahu. Sesampai di dekat Sungai Tebelian, batu itu diluncurkan dalam sebuah parit yang sengaja dibuat, untuk memudahkan pengangkutan batu. Maka, nama parit itu disebut dengan Parit Jepang.
Jepang membagi pekerja menjadi puluhan kelompok. Setiap kelompok ada sepuluh orang. Dalam satu hari, Jepang memberi makan tiap kelompok dengan sekilo beras. Masyarakat serba kekurangan. Beras sulit sekali. Beras hanya dimakan para pegawai pemerintahan yang ketika itu, sebagian besar ada di Jalan Sidas, Pontianak.
Masyarakat makan apa saja. Ada ubi makan ubi. Pokoknya apa saja. Ia makan dengan sumpit. “Ini yang membuat makan tidak kenyang,” kata Kasilan.
Semasa menjadi tentara Heiho, ia pernah ditugaskan dalam berbagai macam front. Ia pernah menjaga daerah dari serbuan tentara sekutu. Selama berbulan-bulan, ia harus hidup berbulan-bulan di lubang pertahanan. Karenanya, kakinya mengalami pembengkakan dan meradang. Penyakit itu susah sembuh. Oleh tentara Jepang, ia diminta mencabut kuku-kukunya. Akibat penyakitnya itu, ia tidak bisa berjalan sempurna. Alias pincang.
Semasa penjajahan Jepang, rakyat dikelabui dengan berbagai macam cara. Salah satunya, Jepang berbicara kepada masyarakat yang ada di sekitar Landak, Mandor, Ngabang dan sekitarnya, supaya menyerahkan intan berliannya kepada pemerintah Jepang. Alasannya, pesawat-pesawat sekutu tidak mempan ditembak dengan senjata biasa. Harus dengan intan supaya bisa tembus dan mengenai badan pesawat.
Akhirnya, masyarakat menyerahkan persediaan intan mereka pada Jepang. Ratusan kilo jumlahnya. Kasilan melihat sendiri intan yang dikumpulkan itu.
Menurutnya, ketika Jepang menjajah ke Indonesia, mereka juga menjadikan rakyat yang dikuasai sebagai tentaranya. Tak heran, dalam kesatuan tentara Dai Nippon, banyak terdapat tentara dari Manchuria, Korea, Shantung dan lainnya.
“Para kucing kurap inilah, yang selalu membuat kekacauan,” kata Kasilan. Yang dimaksud kucing kurap adalah balatentara Dai Nippon dari Manchuria, Korea, Shantung dan lainnya. Kalau mereka datang ke suatu perkampungan, mereka main tangkap perempuan dan memerkosanya.
Perilaku tentara pendudukan ini, membuat marah masyarakat Dayak. Inilah yang membuat perlawanan di wilayah pedalaman, kata Kasilan.
Semasa bekerja sebagai tentara Heiho, ia mendapat gaji sebesar 22,5 zen. Pada kenyataannya, gaji itu tidak pernah dibayarkan. karena itulah, melalui persatuan eks mantan Heiho seluruh Indonesia, mereka mengajukan kompensasi pada pemerintah Jepang.
Di Indonesia, ada sekitar 600 ribu mantan eks tentara Heiho. Di Kalbar, jumlahnya ada 6 ribu orang. Persatuan eks mantan Heiho, melalui pemimpinnya, Tasrib Raharjo, pernah ke Jepang, untuk melakukan negosiasi terhadap uang kompensasi. Pemerintah Jepang sudah menyetujui.
Namun, pemerintah Jepang tidak mau menyalurkan uang kompensasi itu secara langsung ke organisasi mantan Heiho ini. Alasannya, ini menyangkut satu pemerintah Indonesia dan Jepang. Mantan Heiho inginnya, uang itu langsung diserahkan kepada mereka. “Alasannya, supaya uang itu tidak dikorupsi pemerintah,” kata Kasilan.
Hal sama terjadi pada mantan perempuan yang dijadikan budak seks tentara Jepang, atau Jugun Ianfu. Perjuangan panjang mereka, seolah tak ada ujung dan tak ada akhir. Sementara, waktu memberi jarak pada kehidupan mereka. Banyak dari mereka telah menemui ajal, sebelum perjuangan itu mencapai keberhasilan.
Menurut Kasilan, uang gaji itu, bila dibayarkan kepada setiap anggota sebesar Rp 100 juta. Hitungannya, gaji selama tiga tahun menjadi serdadu, ditambah bunga selama 50 tahun.
Sejak tahun 1990, mantan pasukan Heiho memperjuangkan, supaya mendapat kompensasi gaji mereka. Namun, Pemerintah Pusat dan Daerah, tidak punya kepedulian dalam hal ini. “Apalagi pada zaman pemerintahan sebelum presiden SBY,” kata Kasilan.
Sekarang ini, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, sedang berupaya menyelesaikan masalah ini.
Pemerintah daerah Kalbar, juga tidak punya perhatian terhadap masalah ini. begitu juga dengan DPRD-nya. Ia mencontohkan Sulawesi. Di sana, DPRD punya kepedulian terhadap masalah eks Heiho. Ada satu partai di DPRD yang begitu peduli, sehingga mereka mendapat perhatian dan bisa menjalani hidup dengan baik.
Kini, Kasilan hidup di Takong, Kecamatan Tohok, Kabupaten Landak. Ia hidup dengan kesederhanaan. Ia menggantungkan hidup dari gaji pensiun semasa ia menjadi TNI. Ia pensiun dengan pangkat Peltu, Pembantu Letnan Satu.Sebelum meninggalkan tempat itu, aku menatap dalam pada wajah yang telah menua itu. Ada rasa menggumpal. Orang harus melihat pada nasibnya. Nasib orang-orang yang terlupakan.

Foto: By Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune, tanggal 29 Juni 2007
Read More....

Permohonan Maaf Jepang Urus Bersama SBY



Nur Iskandar dan Tanto Yakobus
Borneo Tribune, Mandor

Luar biasa pemandangan di Taman Makam Juang Mandor, Kamis (28/6) kemarin. Ribuan orang memenuhi lapangan terbuka untuk berziarah. Bendera setengah tiang berkibar sepanjang jalan menandai Hari Berkabung Daerah di mana 21.037 jiwa tewas dibantai Dai Nippon Jepang secara bengis dan sadis.
Kendaraan roda empat—mulai dari milik pribadi hingga bus-bus carteran penuh di halaman parkir. Deret parkir itu sampai keluar ke jalur jalan raya Mandor. Ditaksir 3.000-an massa memenuhi pekuburan massal yang dikehendaki pula oleh keluarga korban menjadi Taman Makam Nasional.
Upacara yang berlangsung sejak pukul 09.15 itu berlangsung khidmat. Beberapa keluarga korban tak sanggup menahan air mata ketika terompet ditiup tim koor. Lagu kejuangan menggedar-gedor perasaan mereka. Terutama keluarga korban yang masih sempat menyaksikan orang tua atau keluarga mereka manakala diculik atau diciduk Nippon lantas disungkup dan dipenggal.
Salah seorang yang terisak menangis adalah Soewito Limin yang juga Ketua Umum Yayasan Budi Mulia. Isak tangis itu masih tersisa ketika pimpinan perusahaan Papa Sari ini diwawancarai. “Sehari sebelum papa diciduk saya sempat bilang kepadanya papa...” katanya. Soewito tak lagi sanggup mengurai kata-katanya. Bulir air matanya menetes membasahi pipi. Suaranya berat tercekat. Peristiwa itu benarbenar membuat luka di hati.
“Mamalah yang mengasuh saya sampai besar. Umur saya ketika itu 2 tahun 1 bulan,” ujar ayah empat anak yang semuanya lulusan luar negeri (AS dan Taiwan).
Hal senada dikemukakan Ketua ICMI Korwil Kalbar Drs H Ilham Sanusi. “Saya anak korban Jepang. Ayah saya ditangkap saat itu 44 tahun. Beliau adalah pegawai Duane atau Bea dan Cukai.”
Ilham yang kini Ketua Kadin UKM dengan mata berkaca-kaca mengenang cerita ibunya. “Setelah ayah ditangkap yang kembali hanya baju kerja, sepeda rally dan jam tangan. Siapa yang tak sedih,” ujarnya.
Ilham Sanusi menilai peringatan HBD kali ini meningkat dari tahun-tahun yang lalu. Penilaian serupa diungkapkan Soewito Limin, Panembahan Landak Gusti Suryansyah, Rektor Untan Chairil Effendi, Kadis Diknas Ngatman, Dekan FKIP Untan Aswandi, mantan anggota DPRD Kalbar Andreas Acui Simanjaya, Pemimpin Radio Divasi Zulfidar Zaedar Mochtar dan keluarga korban dari Tanjung Hulu Nurjamilah yang sempat diwawancarai di lokasi upacara. Namun kesemuanya berpandangan peningkatan harus terus dilakukan pada tahun-tahun mendatang, misalnya dengan lebih menyosialisasikan pemasangan bendera setengah tiang, pemuatan pelajaran di sekolah, serta mengundang menteri, pihak Kedubes Jepang, bahkan Presiden SBY agar masalah “genocida” ini bisa ditangani secara profesional dan proporsional.
Kalau dapat perhatian Pusat barulah pampasan Jepang yang diperuntukkan bagi pendidikan atau rumah sakit, atau demi kepentingan rakyat banyak di Kalbar dapat diajukan.
Prihal tersebut Gubernur Usman Ja’far merespon positif. Katanya, memang dari masa gubernur-gubernur terdahulu pun aspirasi ini sudah disampaikan kepada Pusat. “Kebijakan luar negeri memang tidak diotonomikan. Saya hanya bisa melaporkan aspirasi keluarga korban agar ada permohonan maaf Jepang itu ke Pemerintah Pusat,” ujarnya.
Usman mengatakan sejak Perda HBD ditetapkan, Pemprov dan Pemkab Landak akan memagar lokasi Taman Makam Juang Mandor. “Ini prioritas pertama. Anggarannya dimasukkan dalam APBD.”
Berkenaan dengan rencana kedatangan Presiden SBY pada 9 Juli mendatang, berbagai aspirasi berkembang. “Bagus jika Presiden SBY dapat berkunjung ke Mandor. Beliau jadi bisa memperjuangkan secara langsung kepada Pemerintah Jepang,” ungkap mantan Kadis PU Kalbar, Ir H Said Dja’far. Hal senada dikemukakan penjaga makam, A Samad. “Tiga bulan yang lalu sudah datang menteri Meutia Hatta. Beliau merasa terenyuh dengan kondisi makam di sini. Apalagi terlihat aksi PETI. Beliau putri Bung Hatta memang menghargai sejarah,” ujarnya seraya berharap SBY pun dapat hadir memperjuangkan hak-hak Mandor.





Foto: By Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune

Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune tanggal 29 Juni 2007

Read More....

Pejabat Daerah dan Anak Cucu Korban Ziarahi Mandor


Budi Rahman
Borneo Tribune, Mandor

Memori kelam kebiadan bala tentara Dai Nippon terhadap putra-putri terbaik Kalbar kembali diperingati, Kamis (28/6) kemarin. Sejumlah pejabat daerah dan ahli waris istana dan dan anak cucu korban menghadiri upacara peringatan Hari Berkabung Daerah (HBD) di Makam Juang Mandor.
Upacara berlangsung khidmat dan penuh penghayatan di bawah sengatan matahari. Gubernur Kalbar H Usman Ja’far bertindak sebagai inspektur upacara.
Wajah Gubernur dan beberapa pejabat daerah lainnya seperti Wagub, Kapolda, Danrem, Danlanal, Danlanud, bersama jajaran Muspida nampak memerah. Keringat bercucuran tapi upacara tetap berjalan serius.
Pembesar-pembesar istana di Kalbar yang sanak keluarganya turut jadi korban tragedi Mandor juga nampak larut dalam kisah kelam masa lalu. Sultan Pontianak Syarif Abubakar Alkadrie bersama Panembahan Mempawah Gusti Mardan Adiwijaya, Pemangku Kraton Ismayana Landak Gusti Suryansyah serta Panembahan Sintang dan Sekadau nampak hadir dalam peringatan HBD ini. Keluarga istana dari masing-masing kerajaan pada periode 1942-1944 ini diyakini menjadi korban keganasan Jepang serta terkubur secara massal di Komplek Makam Juang Mandor.
Gubernur Usman Ja’far dalam upacara peringatan HBD kemarin memimpin prosesi penghormatan dan mengheningkan cipta bagi arwah para syuhada yang kini terbaring di areal perbukitan kawasan Mandor. Pembawa acara membacakan nama-nama korban Tragedi Mandor, namun tidak semua korban dibacakan. Hanya perwakilan nama-nama tokoh yang memiliki strata sosial dan kedudukan cukup penting di masyarakat yang sempat dibacakan.
Dari nama-nama yang dibacakan terdapat tokoh dari berbagai etnis dan profesi. Ada sosok Sultan, Pengajar, Pedagang, Dokter bahkan wartawan. Usai pembacaan doa dalam upacara kemarin Gubernur memimpin peletakan karangan bunga di monumen makam dan diikuti pejabat serta ahli waris istana lainnya. Usai melakukan peletakan karangan bunga, gubernur beserta rombongan melakukan tabur bunga ke sepuluh kuburan massal yang ada di Komplek Makam Juang Mandor.
Sebagaimana dilansir oleh media pada masa transisi penjajahan, Jepang memang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalbar kala itu. Borneo Shinbun, koran yang terbit pada masa itu mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang. Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu.
Kalbar kehilangan satu generasi terbaiknya, 21.037 nyawa menjadi tumbal keganasan dan kebiadaban tentara fasis negeri Matahari Terbit. Pada tanggal ini pula peresmian Makam Juang Mandor oleh Gubernur Kalbar, Kadarusno pada tahun 1977 dilakukan.
Tak terkira kerugian yang dialami oleh bangsa Indonesia di bawah pendudukan Jepang. Moril maupun materil bangsa Indonesia, khususnya Kalbar dirampas oleh tentara-tentara Jepang yang dikenal bengis dan biadab itu. Meski hanya 3 tahun Jepang bercokol di Indonesia namun keberingasan mereka mampu menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia yang berulang kali berpindah tangan dijajah para imperialis.
Peringatan HBD yang kini sudah memiliki payung hukum di Kalbar secara umum berlangsung semarak. Beberapa dinas, instansi pemerintah dan swasta nampak mengibarkan bendera setengah tiang sesuai surat edaran dari Gubernur Kalbar. Namun untuk rumah-rumah warga belum nampak banyak yang mengibarkan bendera tanda berkabung tersebut.
Usai mengikuti peringatan HBD, Gubernur Usman Ja’far mengakui masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk mendukung peringatan HBD tersebut. Payung hukum yang sudah dibuat dalam bentuk Perda Hari Bekabung Daerah nantinya bisa dijadikan dasar pijakan bagi penataan kawasan makam yang kondisinya cukup memprihatinkan. Pada kesempatan ini Gubernur berpesan agar peringatan ini tidak dijadikan sebagai pembangkit luka masa lalu, namun hendaknya dijadikan media mengenang jasa para pahlawan.
Anggota DPRD Kalbar, Awang Sofian Rozali yang turut dalam acara peringatan ini merasa prihatin dengan kondisi dan penataan situs bersejarah ini. “Fasilitas yang tersedia sangat minim,” keluhnya mengomentari kondisi WC yang jorok. “Hendaknya Pemprov berkoordinasi dengan Pemkab Landak untuk menata kawasan ini,” harap Ketua Fraksi Golkar ini saat mengayunkan langkahnya ke arah kuburan nomor 2 di areal Makam Juang Mandor.
Anggota Komisi B DPRD ini melihat sebenarnya Makam Juang Mandor ini bisa dijadikan sebagai kawasan wisata ziarah jika ditata dengan baik. Ia merasa prihatin dengan kondisi yang ada di sekitar makam para syuhada ini. Bukit-bukit tampak gundul gersang. Bahkan tak jauh dari lokasi makam, antara makan I dan makam 2 terdapat hamparan pasir luas dengan pohon dan tumbuhan yang merangas, genangan air tampak mengisi lubang-lubang bekas aktivitas penambangan emas liar (PETI). Ironis memang. “Sebenarnya akan sangat bagus kalau kawasan ini dihijaukan dengan pepohonan mulai langka di Kalbar ini,” usulnya.
Memori kelam atas kebiadaban dan kebangsatan Jepang ternyata juga menyisa pada salah satu pelaku sejarah tersebut. Kasilan seorang legiun veteran, anggota Heiho yang juga seorang Zibakutai (tentara berani mati) pada masanya sempat menuturkan tragedi kemanusiaan biadab di Abad 21 itu. “Suasana sepi waktu itu. orang kerjapun tak berani keluar. Sebab kalo keluar takut diangkut,” kenang kakek yang rambutnya sudah uban semua ini. “Jepang pakai truk DPO, Departement van Orlo, sisa perang dunia ke-2 untuk mengangkut ke sini,” ujarnya merujuk kendaraan yang digunakan untuk mengangkut para korban ke killing field di Mandor.
Menurut kisah Kasilan tentara Jepang sangat licik dan biadab terhadap rakyat. “Jepang membohongi warga dengan bikin isu Amerika mau menyerang. Mereka minta semua emas, intan berlian yang ada diserahkan untuk dibikin peluru menembak pesawat Amerika,” ujar pejuang yang hingga hari ini masih gigih menuntut ganti rugi atas haknya sebagai ex-Heiho kepada pemerintah Jepang.
Dalam peristiwa pembantaian di Mandor Jepang sangat licik dan jahat. Menurut Kasilan, untuk membuat liang-liang kubur para korban Jepang mengerahkan warga dari Sungai Durian untuk menggalinya. Mereka tidak diberi tahu untuk apa lubang tersebut digali. Setelah lubang-lubang itu menganga lebar para warga penggali liang itu menjadi penghuni pertama kuburan yang mereka gali sebelum disesaki oleh korban-korban berikutnya yang sudah dijemput masing-masing.
Tragedi Mandor memang teramat pilu untuk dikenang. Mengingat kebiadaban para tentara “penyembah matahari” terhadap para martir yang meregang nyawa demi Nusa dan Bangsa ini hati kita pasti tersayat. Mestinya generasi emas yang ada di Kalbar pada masanya itu dapat mewariskan sikap dan teladan patriot bagi generasi saat ini. Seperti tertulis di Monumen Makam Juang. Sudah seharusnya memang Peristiwa Mandor tak hanya dikenang, tapi bagaimana semangat melawan segala bentuk penjajahan harus terus dikobarkan. Termasuk keterbelakangan dan kebodohan yang masih menghinggapi akal sebagian besar warga Kalbar ini.


Foto: By Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune

Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune tanggal 29 Juni 2007
Read More....

Arti Monumen Mandor Bagi Perjuangan Bangsa Indonesia


Oleh: Basrin Nourbustan

Mandor, sebuah kota kecil, ibukota Kecamatan Mandor, Kabupaten Pontianak (sekarang Kabupaten Landak-red). Terletak sekitar 89 km sebelah Timur Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.
Kota kecil tersebut mempunyai arti penting dan mengandung kenangan yang dalam di hati sanubari setiap pendudukan Kalimantan Barat. Karena di kota itulah 33 tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal 28 Juni 1944, tentara pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II melakukan pembunuhan missal terhadap pemimpin politik, pemuka masyarakat serta kaum cerdik pandair dan raja-raja di Kalimantan Barat.
Kini di kota kecil itu telah berdiri dengan megah sebuah monument. Monumen sejarah bangsa yang akan selalui mengisahkan betapa kekejaman bangsa asing sipenjajah, tetapi sebaliknya monument itu menggambarkan betapa berani dan nekadnya perlawanan rakyat terhadap penjajahnya. Untuk pembangunan monument yang menjadi idaman rakyat Kalimantan Barat sejak lama itu, pmerintah daerah dengan persetujuan DPRD provinsi mengeluarkan anggaran belanja tahun 1977/1978 sebesar Rp48 juta. Untuk pembiayaan pintu gerbang, jalan, monument, plaza serta rumah petugas, pemugaran makam missal serta bangunan penyerta lainnya.
Peresmian monument Mandor dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat, Kadarusno, hari Selasa tanggal 28 Juni 1977 bersamaan dengan ziarah missal secara tradisional yang diikuti para ahli waris korban, pejabat pemerintahan serta masyarakat umum.

Kisah relief
Monumen Mandor dilengkapi dengan lukisan relief memanjang yang melukiskan kisah kejadian sebenarnya antara tahun 1942 hingga tahun 1945 di Kalimantan Barat. Bahagian pertama melukiskan kedatangan Angkatan Laut Jepang ke Kalimantan Barat seraya merampas harta milik penduduk terutama perhiasan emas dan berlian dan melakukan perkosaan terhadap kaum perempuan terutama gadis-gadis.
Karena tidak senang melihat tingkah laku tentara Jepang itu, maka pemuka masyarakat dan cerdik pandai bersama raja-raja mengadakan usaha perlawanan. Dimulai dengan rapat-rapat tersembunyi. Bahagian ketiga lukisan itu menggambarkan usaha perlawanan berhasil diketahui oleh pihak tentara Jepang yang dilanjutkan dengan penangkapan-penangkapan. Bahagian berikutnya menggambarkan pemeriksaan serta penyiksaan-penyiksaan dan pembunuhan. Klimak dari lukisan itu menggambarkan perlawana rakyat terhadap tentara Jepang di bawah pimpinan Panglima Pang suma, seorang Panglima adapt Dayak di Meliau, kabupaten Sanggau. Panglima Pang suma berhasil membunuh beberapa perwira Jepang. “Relief ini melukiskan bahwa cacingpun akan melawan bila terus-menerus diinjak-injak,” komentar seorang pengunjung pada hari pembukaan monument tersebut.
Dua versi
Mengenai jumlah korban yang terbunuh dan terkubur secara massal di Mandor itu sampai dewasa ini terdapat dua versi. Versi pertama bersumber dari orang-orang yang menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Yamamoto, Komandan Kompeitai jepang di Kalimantan Barat tahun 1942-1945.
Yamamoto oleh Pengadilan Militer Sekutu dinyatakan bersalah sebagai penjahat perang. Ia dijatuhi hukuman mati di depan regu tembak di lapangan terbuka, yang menjadi lapangan sepak bola Khatulistiwa (saat ini markas Poltabes Pontianak).
Pasukan sekutu yang mengambil alih kekuasaan dari Jepang di Kalimantan Barat dipimpin oleh Jenderal Sir Thomas Albert Blamey GBE, KCB,CMG,DSO, ED; pemimpin tertinggi tentara Australia. Karena pelaksanaan hukuman mati itu berlangsung di tempat terbuka, maka masyarakat umum turut menyaksikannya. Di antara orang-orang yang menyaksikannya terdapat Sultan Hamid II, guru-guru dan murid-murid sekolah.
Menurut keterangan orang-orang yang menyaksikan saat Yamamoto akan ditembak mati, Pengadilan Sekutu memenuhi permintaan Yamamoto untuk mengemukakan sesuatu beberapa menit sebelum hukuman dilaksanakan. Bekas komandan Kompeitan itu mengemukakan, bahwa dia merasa ikhlas menerima hukuman itu, karena merasa seimbang dengan korban yang dibunuh atas tanggungjawabnya sejumlah 50.000 orang.
Mayat Yamamoto kemudian dikubur dekat komplek Kantor Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat sekarang (di Jl Sutan Syahrir, Kota Baru). Sekitar tahun 1971, seorang penggali parit menemukan mayat tersebut dalam keadaan sebagian masih utuh. Selanjutnya memindahkan kuburannya ke tempat lainnya. Menurut keterangan, mayat Yamamoto oleh pihak kedutaan Besar Jepang di Jakarta telah diangkut ke negerinya.
Versi ini kemungkinan benar, sebab berdasarkan pengakuan dari orang yang langsung bertanggungjawab atas pembunuhan itu, yaitu Yamamoto. Tetapi sebaliknya mungkin juga tidak benar, sebab Yamamoto mengucapkannya pada saat dia akan ditembak mati. Sehingga besrakemungkinan factor perasaannya sangat mempengaruhi, terutama sikap kepahlawanan terhadap negerinya, sehingga ingin menyatakan, bahwa kematiannya sendiri berbanding dengan kematian penduduk daerah itu sebanyak 50.000 orang.
Sedangkan versi lain bersumber dari keterangan Kiyotada Takahashi, seorang wartawan Jepang yang berkunjung ke Kalimantan Barat tanggal 21 sampai 24 Maret 1977. Dia datang bersama 20 orang temannya yang umumnya pernah bertugas di Kalimantan Barat tahun 1942-1945.
Dia menjelaskan jumlah korban ketika Jepang menduduki Kalimantan Barat seluruhnya 21.037 orang. Dokumen mengenai itu telah diserahkannya kepada sebuah museum di Jepang.
Untuk menemukan angka yang pasti mengenai jumlah korban tersebut, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat dewasa ini mempersiapkan sebuah tim. Kemungkinan tim tersebut akan dikirim ke Jepang mengunjungi museum yang disebutkan oleh Kiyotada Takahashi itu.
Komplotan besar
Surat kabar “Borneo sinbun” yang terbit Sabtoe 1 sitigatu 2604 menurunkan berita utama berjudul “Komplotan Besar yang mendoerhaka oentoek melawan Nippon soedah dibongkar sampai ke akar-akarnya”. Kepala-kepala komplotan serta lain-lainnya ditembak mati. Keamanan di Borneo-Barat tenang kembali dengan sempoerna. (Pengoemoeman Pasoekan di daerah ini pada tanggal 1 sitigatu 19 Syowa).
Surat kabar yang terbit tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu itu dipimpin oleh R. Koakimoto, kini merupakan sumber yang paling penting sebagai bahan penelitian kejadian tahun 1942-1945.
Pada halaman depan yang memuat berita utama itu, dimuat foto beberapa pemimpin yang disebutkannya sebagai komplotan besar melawan Jepang. Antara lain Foto Pangeran Adipati (pewaris kesultanan Pontianak), Panangian, J.E Pattiasina, Noto Sudjono, C.W Octavianus Lucas, Raden Nalaprana, Ong Tjoe ie, Ng Ngiap Soen, Kai Liang Kie dan Ny. Amaliah Rubini (istri Dr Rubini).
Penangkapan pertama berlangsung tanggal 23 Zyugatu 1943 dan kedua tanggal 24 Irigatu 1944. Kedua kali penangkapan itu berlangsung waktu subuh. Mereka yang ditangkap itu langsung disungkup kepalanya dengan selipi (kantong yang dibuat dari daun nipah atau daun pandan). Sebagian dibunuh di Pontianak tetapi sebagian besar di Mandor, Kabupaten Pontianak (sekarang Kabupaten Landak).
Di antara korban terdapat Sultan Pontianak bersama 60 orang keluarganya, 11 orang panembahan (raja) dari kerajaan-kerajaan kecl di seluruh Kalimantan Barat, lima orang dokter, pemimpin politik serta pemuka masyarakat.
Dokter Rubini dan istrinya, Ny. Amaliah Rubini termasuk korban yang dibawa ke Mandor. Beliau adalah mertua Mayjen Wiyogo, Gubernur AKABRI udara di Magelang sekarang (1977). Seorang korban lainnya adalah paman dari Sunardi DM, Sekjen PWI Pusat sekarang (1977).
Menurut Borneo sinbun, pemimpin pergerakan itu 48 orang. (Daftar nama sama seperti yang selalu dipublikasikan media massa saat ini).
Nissinkai
Ketika Balatentara Dai Nippon memasuki Kalimanta Barat, di daerah itu telah berdiri 13 perkumpulan yang cukup berpengaruh. Pemimpin militer Jepang memerintahkan organisasi tersebut dibubarkan dna dilarang. Ketiga belas organisasi tadi dikatakan di bawah pengaruh Parindra.
Perintah pemimpin militer tersebut menimbulkan kegelisahan dalam mayarakat. Dalam pada itu muncullah kelompok lain yang menawarkan persatuan, untuk menjaga kerukunan dan menghilangkan perselisihan antarbekas anggota ke 13 organisasi tadi. Borneo sinbun tidak mengungkapkan lebih lanjut ketiga belas organisasi yang dimaksudkan itu. Tetapi mengatakan kemudian muncullah sebuah organisasi baru yang berpura-pura memihak. Organisasi itu diberi nama “Nissinkai” yang pembentukannya diusahakan oleh Pangeran Agung, Sekretaris Sultan Pontianak. Dr Rubini, Ng Ngiap Soen, Pattiasina. Mereka memilih Noto Soedjono sebagai pemimpinnya. Maksud organisasi itu tetap yakti melawan Jepang. Mereka melalui operator radio sering mengikuti siaran radio Amerika dan Inggris.
Pada perkembangan berikutnya dalam “Nissinkai” bergabung pula pewaris Kesultanan Pontianak Pengeran Adipati dan para panembahan seluruh Kalimantan Barat, kaum cerdik pandai dan pemuka masyarakat.

Hubungan dengan Banjarmasin
Besar kemungkinan gerakan “Nissinkai” di Kalimantan Barat yang berpusat di Pontianak itu mempunyai hubungan dengan gerakan yang ada di Kalimantan Selatan yang berpusat di Banjarmasin. Hal itu ditandai oleh datangnya utusan Banjarmasin ke Pontianak dalam tahun 1944. Utusan itu terdiri dari Dr Susilo dan Makaliwe. Mengenai Makaliwe ini pun tidak jelas. Ada keterangan yang mengatakan beliau adalah dr Makaliwe yang namanya diabadikan dengan nama jalan di daerah Grogol, Jakarta.
Setibanya di Pontianak, kedua utusan Banjarmasin itu mendapat keterangan, bahwa di Banjarmasin telah terjadi penangkapan-penangkapan oleh Jepang. Berita itu disampaikan kepada pimpinan “Nissinkai”. Organisasi ini kemudian segera membentuk pasukan yang diberi nama Pasukan Suka Rela atau pasukan Penyerbuan Bersenjata. Mereka merencanakan penyerbuan ke markas Keibitai, merebut senjata dan melancarkan gerakan serentak di seluruh Kalimantan Barat pada permulaan Zyunigatu tahun 18 Syowa, sebagai hasil rapat di gedung “Medan Sepakat”, (sekarang Jl Jendral Urip, gedung PPM) Pontianak dua hari sebelumnya yang dihadiri 69 orang. Tetapi saying, sebelum gerakan dilancarkan, mereka telah ditangkap oleh dinas rahasia Jepang. Mereka semuanya, termasuk kedua orang utusan dari Banjarmasin tersebut diangkut oleh Kompeitai dan dibunuh tanggal 28 Juni 1944.

Mengabadikan semangat perjuangan
Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat Kadarusno yang memimpin pemugaran makam-makam pahlawan di daerha itu, ketika meresmikan monument perjuangan Mandor, mengatakan usaha ini bukanlah berarti memuja makam-makam atau menanamkan dan mengabadikan rasa dendam terhadap bangsa Jepang, tetapi usaha ini bermaksud mengabadikan sejarah perjuangan bangsa yang mengandung patriotisme dan semangat kepahlawanan serta mengabadikan pengorbanan yang pernha diberikan oleh pejuang-penjuang itu.
Mandor kini tidak lagi dianggap sebagai tempat angker, tetapi sebaliknya merupakan salah satu tempat atau obyek pariwisata. Turis dari dalam dan luar negeri semakin sering berkunjung ke sana, termasuk turis dari Jepang. Monumen perjuangan Mandor kiri berperanan pula menilai keadaan dimasa yang lalu dan menjadi pula monument pangkal tolak hubungan baru antara rakyat Indonesia di Kalimantan Barat dengan rakyat Jepang yang juga mengalami kesangsaraan semasa Perang Dunia II yang amat dahsyat itu.
(tulisan pernah dimuat pada rubric Spektrum/Karangan Khas pada 26 Juli 1977: di Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA. Penulis dahulu merupakan wartawan yang juga Kepala LKBN ANTARA Biro Pontianak).
Foto: By Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune
Read More....