Friday, June 27, 2008

“Tribune Institute Siap Menjalankan Amanah”


Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak

Suasana hening ketika usul demi usul diendapkan dalam Mandor Meeting di The Roof Cafe, Jumat (20/6) malam. Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, SH di hadapan 30 peserta angkat bicara.
“Tribune Institute siap sedia menerima dan menjalankan amanah yang sangat besar ini. Insya Allah Tribune Institute menjalankan amanah dengan penuh loyalitas, bahkan tanpa dikomando pun kami akan terus berjuang untuk Mandor,” ungkapnya memecah keheningan.
“Kami siap menjalankan amanah dengan memformulasikan kembali semua agenda yang telah pernah direkomendasikan baik oleh para ahli waris keluarga korban fasisme Jepang, usul para cerdik cendikia, maupun alur pemerintahan. Kami tentu mohon bantuan dan bimbingan dari kita semua karena Tribune Institute pun tak akan mungkin bekerja sendiri untuk tingkat lokal, nasional hingga internasional,” sambung kandidat magister hukum ini tegas dan fasih.
Dwi yang juga keluarga korban Mandor karena saudara kakeknya di Kerajaan Sintang juga diciduk Jepang serta kembali hanya tinggal nama mengatakan Tribune Institute memiliki jaringan yang cukup kuat secara lokal, nasional dan internasional. Untuk itu menurutnya, amanah Monumen Daerah Mandor akan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya—terlebih dengan dukungan Tim Pemikir—seperti diusulkan Dr Mardan Adijaya—Raja Mempawah.
Dwi berharap dukungan dan bimbingan agar program dapat berjalan dengan baik, termasuk seluruh testimoni maupun data berkenaan dengan fasisme Jepang di Kalbar untuk dapat disampaikan kepada Tribune Institute yang bersekretariat di Jalan Purnama, Kompleks Pinangsia No 2 Kota Pontianak.
Read More....

Korban Mandor dalam Deraan dan Cobaan

Dari Jaman Penjajahan Sampai Sekarang


Makam mandor memang merupakan situs Sejarah Perjuangan yang penting artinya bagi seluruh rakyat Kalimantan Barat, di sinilah terkubur 21.037 jiwa yang secara kejam di bunuh oleh Jepang yang ingin mengubah generasi muda Kalbar pada masa itu menjadi Jepang.

Keberadaan situs sejarah perjuangan ini merupakan juga ironi bagi pemahaman kehidupan berkebangsaan dan kemampuan memahami / menghargai sejarah / jasa perjuangan yang telah diberikan oleh para korban Mandor ini.

Bayangkan betapa berbagai nestapa yang harus dialami oleh para korban mandar dari sejak di tangkap Jepang sampai detik ini.

Awalnya saat mulai ditangkapi Jepang, sebagian besar orang yang takut terimbas dan ikut ditangkap saat itu berpura pura tidak mengenal dan bahkan menganggap bahwa yan ditangkap Jepang itu memang pesakitan yang bersalah dan pantas di hukum.
setelah dibawa ke Mandor, mereka di kurung di areal yang sekarang adalah pemakaman Mandor, para penjuang yang ditangkap di tempatkan di penjara Alam yang di pagari kawat berduri dan di jaga tentara Dai Nippon, saya masih menemukan bekas kawat berduri yang di pakai sebagai pagar batas penjara alam tersebut (foto terlampir), memang kualitas kawat duri jaman dahulu memang lebih baik mutunya sehingga sebagian masih bertahan di lingkungan penjara alam itu.
Di penjara alam itu sudah dipastikan penderitaan tak terperi akan dialami oleh para tahanan disitu, sengatan sinar matahari dan dinginnya udara malam, belum lagi jika hujan tentu akan sangat menyiksa, selain itu masih ada serangan penghuni hutan misalnya nyamuk dan lintah serta kemungkinan adanya berbagai binatang berbisa, saya saja yang hanya beberapa jam di situs pemakaman ini sudah bentol bentol digigit nyamuk hutan yang keganasannya lebih daripada nyamuk rumahan.
selama di penjara Alam Mandor ini mereka dipaksa untuk melakukan upacara setiap pagi menghadap matahari sesuai Agama kepercayaan Jepang yang meyakini bahwa rajanya adalah keturunan dewa matahari, dimana banyak tahanan yang di pukuli dan bahkan di pancung karena tidak melakukan ritual menghadap matahari dengan benar, tentu saja banyak kesalahan yang mereka lakukan karena kondisi badan yang tidak sehat akibat perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman ke tengah hutan Mandor yang tidak ramah, selain itu juga ada yang tidak mau meyembah matahari karena keyakinan Agama. Dibekas areal upacara yang berupa lapangan terbuka, beberapa tahun yang lalu masih dapat ditemukan beberapa bilah pedang samurai yang patah, karena dipakai untuk memancung orang yang tidak melakukan / tidak mau melakukan penghormatan matahari dengan benar.
mereka di wajibkan kerja paksa untuk membangun dan memperluas Areal penjara Alam di Mandor, kemudian juga mengali lubang lubang besar yang sebenarnya diperuntukan mengubur mereka sendiri kelak, kerja fisik yang keras dengan tunjangan pangan yang tak tentu, keadaan alam yang tidak ramah, siksaan fisik dan mental dari tentara jepang pada saat itu tentu merupakan siksaan yang luar biasa tak terperikan bagi semua yang terkurung diareal Mandor ini.
dari cerita orang orang tua yang tahu kejadian pada masa itu, dikatakan bahwa tawanan yang mau dieksekusi di tutup kepalanya / matanya, kemudian disuruh berlutut, berjejer di tepi lubang besar yang telah di gali sebelumnya, dibarisan belakangnya tawanan yang lain dipaksa untuk memancungnya, demikian selanjutnya sehingga lubang penuh dan tawanan yang tersisa disuruh mengubur mayat yang menumpuk dalam lubang tersebut, ternyata kejahatan perang seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara lain juga terjadi kekejaman yang sama dan saat ini dokumentasi kejadian ini sudah dapat diakses di Internet.
setelah Jepang penyerah karena perjuangan bangsa Indonesia dan kota Nagasaki & Hirosima dijatuhi Bom Atom oleh Amerika, Situs pemakaman ini sempat dilupakan.
kemudian Gubernur Kadarusno pada masa pemerintahannya cukup memberikan perhatian terhadap Makam Mandor sehingga keberadaan Areal ini mulai terkuak dan diketahui Masyarakat. Namun hanya sebatas itu saja, tidak ada perkembangan yang berarti sampai saat ini yang menunjukan bahwa bangsa kita sebagai bangsa yang dapat menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawannya.
beberapa tahun yang lalau Areal pemakaman ini digerus oleh kegiatan tambang emas liar (PETI) yang sampai mendekati areal lubang Makam, berbagai upaya dilakukan oleh Bapak Samad, sang penjaga Makam untuk mengusir mereka, sampai karena sudah hilang kesabaran dan akal beliau bertelanjang bulat dan menghunus paran mengejar para penambang liar tersebut. Namun kegiatan PETI ini terus berlangsung, sampai tahun lalu sekitar bulan Nopember kebetulan saat saya berkunjung ke Mandor, saya melihat para pekerja PETI memindahkan mesin Dompeng dan berbagai peralatan lainnya, rupanya mereka memutuskan pindah arela operasi karena emas yang didapatkan tidak banyak lagi, lega juga mengetahui kegiatan pertambangan liar ini terhenti, namun hamparan pasir putih yang luas bagaikan lautan tidak akan bisa menumbuhkan apapun di atasnya, hamparan pasir putih yang menghampar bagai lautan ini menunjukan betapa hitam dan kotornya hati manusia yang serakah dan haus harta, mengabaikan keberadaan danpengorbanan para pejuang kemerdekaan yang mati mengenaskan dan terkubur disini.
tanggal 24 Juni 2008 saya datang ke Makam Mandor ini dan membawa Anak anak saya, agar mereka tahu sejarah perjuangan bangsanya di Kalimantan Barat Khususnya, kami berkeliling dan berhenti di setiap lubang pemakaman massal. Sambil saya bercerita tentang apa yang terjadi pada masa itu, anak anakku yang semuanya masih berumur di bawa 10 tahun takjub mendengarkan dan mengamati gambar diarama yang ada yang mengambarkan sekilas tentang kekejaman jepang dan peristiwa Mandor, terik dan panas matahari tidak lagi mereka rasakan, keinginan untuk tahu lebih banyak tercermin dari bahasa tubuh dan tatap mata mereka. Saat mencapai makam 10 yaitu makam terakhir dan merupakan makam para Raja yang terbunh saat itu, kami sepakat untuk masuk areal hutan yang terdapat di belakang makam 10, tahun lalu saya sempat masuk di hutan ini bersama beberapa wartawan, saya ingin menunjukan kepada anak anakku kawat berduri bekas pagar penjara alam yang masih tersisa, namun dalam 30 langkah memasuki hutan di belakan makam 10, kami mendengar suara dengungan mesin Chainsaw (gergaji mesin) memecah kesunyian hutan, dan 15 langkah kedepan, giliran saya yang terpana, hutan teduh yang menyimpan banyak angrrek dan kantong semar serta banyak lagi palsma nuftah yang berharga di dalamnya telah gundul ! hanya bangkai bangkai pohon yang bergelimpangan, sedangkan arela yang lebih jauh sudah tumbuh pohon kelapa sawit yang berumur sekitar 1 tahun, begini rupanya berbagai cobaan tidak henti hentinya pada situs sejarah perjuangan terbesar di Kalbar, bangkai dan gelimpangan pepohonan ini mewakili matinya nurani anak bangsa ini yang tidak tahu sejarah dan tak mau tahu arti pengorbanan tulang belulang yang terbaring di dalam lubang kuburan massal ini.
saya dan tentunya banyak pihak juga berharap adanya ketegasan dan campur tangan pemerintah yang serius dalam menjaga dan memastikan status peruntukan untuk areal Makam juang mandor ini dan sekitarnya di jadikan areal penunjang untuk menjaga dan menjadi pejangga agar areal keramat ini tidak diganggu serta kedepannya terbuka untuk di perluas sebagai situs perjuangan Kalimantan Barat yang terbesar.


Salam Hangat,
Andreas Acui Simanjaya
Read More....

Korban Mandor dalam Deraan dan Cobaan

Dari Jaman Penjajahan Sampai Sekarang





Makam mandor memang merupakan situs Sejarah Perjuangan yang penting artinya bagi seluruh rakyat Kalimantan Barat, di sinilah terkubur 21.037 jiwa yang secara kejam di bunuh oleh Jepang yang ingin mengubah generasi muda Kalbar pada masa itu menjadi Jepang.

Keberadaan situs sejarah perjuangan ini merupakan juga ironi bagi pemahaman kehidupan berkebangsaan dan kemampuan memahami / menghargai sejarah / jasa perjuangan yang telah diberikan oleh para korban Mandor ini.

Bayangkan betapa berbagai nestapa yang harus dialami oleh para korban mandar dari sejak di tangkap Jepang sampai detik ini.

Awalnya saat mulai ditangkapi Jepang, sebagian besar orang yang takut terimbas dan ikut ditangkap saat itu berpura pura tidak mengenal dan bahkan menganggap bahwa yan ditangkap Jepang itu memang pesakitan yang bersalah dan pantas di hukum.
setelah dibawa ke Mandor, mereka di kurung di areal yang sekarang adalah pemakaman Mandor, para penjuang yang ditangkap di tempatkan di penjara Alam yang di pagari kawat berduri dan di jaga tentara Dai Nippon, saya masih menemukan bekas kawat berduri yang di pakai sebagai pagar batas penjara alam tersebut (foto terlampir), memang kualitas kawat duri jaman dahulu memang lebih baik mutunya sehingga sebagian masih bertahan di lingkungan penjara alam itu.
Di penjara alam itu sudah dipastikan penderitaan tak terperi akan dialami oleh para tahanan disitu, sengatan sinar matahari dan dinginnya udara malam, belum lagi jika hujan tentu akan sangat menyiksa, selain itu masih ada serangan penghuni hutan misalnya nyamuk dan lintah serta kemungkinan adanya berbagai binatang berbisa, saya saja yang hanya beberapa jam di situs pemakaman ini sudah bentol bentol digigit nyamuk hutan yang keganasannya lebih daripada nyamuk rumahan.
selama di penjara Alam Mandor ini mereka dipaksa untuk melakukan upacara setiap pagi menghadap matahari sesuai Agama kepercayaan Jepang yang meyakini bahwa rajanya adalah keturunan dewa matahari, dimana banyak tahanan yang di pukuli dan bahkan di pancung karena tidak melakukan ritual menghadap matahari dengan benar, tentu saja banyak kesalahan yang mereka lakukan karena kondisi badan yang tidak sehat akibat perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman ke tengah hutan Mandor yang tidak ramah, selain itu juga ada yang tidak mau meyembah matahari karena keyakinan Agama. Dibekas areal upacara yang berupa lapangan terbuka, beberapa tahun yang lalu masih dapat ditemukan beberapa bilah pedang samurai yang patah, karena dipakai untuk memancung orang yang tidak melakukan / tidak mau melakukan penghormatan matahari dengan benar.
mereka di wajibkan kerja paksa untuk membangun dan memperluas Areal penjara Alam di Mandor, kemudian juga mengali lubang lubang besar yang sebenarnya diperuntukan mengubur mereka sendiri kelak, kerja fisik yang keras dengan tunjangan pangan yang tak tentu, keadaan alam yang tidak ramah, siksaan fisik dan mental dari tentara jepang pada saat itu tentu merupakan siksaan yang luar biasa tak terperikan bagi semua yang terkurung diareal Mandor ini.
dari cerita orang orang tua yang tahu kejadian pada masa itu, dikatakan bahwa tawanan yang mau dieksekusi di tutup kepalanya / matanya, kemudian disuruh berlutut, berjejer di tepi lubang besar yang telah di gali sebelumnya, dibarisan belakangnya tawanan yang lain dipaksa untuk memancungnya, demikian selanjutnya sehingga lubang penuh dan tawanan yang tersisa disuruh mengubur mayat yang menumpuk dalam lubang tersebut, ternyata kejahatan perang seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara lain juga terjadi kekejaman yang sama dan saat ini dokumentasi kejadian ini sudah dapat diakses di Internet.
setelah Jepang penyerah karena perjuangan bangsa Indonesia dan kota Nagasaki & Hirosima dijatuhi Bom Atom oleh Amerika, Situs pemakaman ini sempat dilupakan.
kemudian Gubernur Kadarusno pada masa pemerintahannya cukup memberikan perhatian terhadap Makam Mandor sehingga keberadaan Areal ini mulai terkuak dan diketahui Masyarakat. Namun hanya sebatas itu saja, tidak ada perkembangan yang berarti sampai saat ini yang menunjukan bahwa bangsa kita sebagai bangsa yang dapat menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawannya.
beberapa tahun yang lalau Areal pemakaman ini digerus oleh kegiatan tambang emas liar (PETI) yang sampai mendekati areal lubang Makam, berbagai upaya dilakukan oleh Bapak Samad, sang penjaga Makam untuk mengusir mereka, sampai karena sudah hilang kesabaran dan akal beliau bertelanjang bulat dan menghunus paran mengejar para penambang liar tersebut. Namun kegiatan PETI ini terus berlangsung, sampai tahun lalu sekitar bulan Nopember kebetulan saat saya berkunjung ke Mandor, saya melihat para pekerja PETI memindahkan mesin Dompeng dan berbagai peralatan lainnya, rupanya mereka memutuskan pindah arela operasi karena emas yang didapatkan tidak banyak lagi, lega juga mengetahui kegiatan pertambangan liar ini terhenti, namun hamparan pasir putih yang luas bagaikan lautan tidak akan bisa menumbuhkan apapun di atasnya, hamparan pasir putih yang menghampar bagai lautan ini menunjukan betapa hitam dan kotornya hati manusia yang serakah dan haus harta, mengabaikan keberadaan danpengorbanan para pejuang kemerdekaan yang mati mengenaskan dan terkubur disini.
tanggal 24 Juni 2008 saya datang ke Makam Mandor ini dan membawa Anak anak saya, agar mereka tahu sejarah perjuangan bangsanya di Kalimantan Barat Khususnya, kami berkeliling dan berhenti di setiap lubang pemakaman massal. Sambil saya bercerita tentang apa yang terjadi pada masa itu, anak anakku yang semuanya masih berumur di bawa 10 tahun takjub mendengarkan dan mengamati gambar diarama yang ada yang mengambarkan sekilas tentang kekejaman jepang dan peristiwa Mandor, terik dan panas matahari tidak lagi mereka rasakan, keinginan untuk tahu lebih banyak tercermin dari bahasa tubuh dan tatap mata mereka. Saat mencapai makam 10 yaitu makam terakhir dan merupakan makam para Raja yang terbunh saat itu, kami sepakat untuk masuk areal hutan yang terdapat di belakang makam 10, tahun lalu saya sempat masuk di hutan ini bersama beberapa wartawan, saya ingin menunjukan kepada anak anakku kawat berduri bekas pagar penjara alam yang masih tersisa, namun dalam 30 langkah memasuki hutan di belakan makam 10, kami mendengar suara dengungan mesin Chainsaw (gergaji mesin) memecah kesunyian hutan, dan 15 langkah kedepan, giliran saya yang terpana, hutan teduh yang menyimpan banyak angrrek dan kantong semar serta banyak lagi palsma nuftah yang berharga di dalamnya telah gundul ! hanya bangkai bangkai pohon yang bergelimpangan, sedangkan arela yang lebih jauh sudah tumbuh pohon kelapa sawit yang berumur sekitar 1 tahun, begini rupanya berbagai cobaan tidak henti hentinya pada situs sejarah perjuangan terbesar di Kalbar, bangkai dan gelimpangan pepohonan ini mewakili matinya nurani anak bangsa ini yang tidak tahu sejarah dan tak mau tahu arti pengorbanan tulang belulang yang terbaring di dalam lubang kuburan massal ini.
saya dan tentunya banyak pihak juga berharap adanya ketegasan dan campur tangan pemerintah yang serius dalam menjaga dan memastikan status peruntukan untuk areal Makam juang mandor ini dan sekitarnya di jadikan areal penunjang untuk menjaga dan menjadi pejangga agar areal keramat ini tidak diganggu serta kedepannya terbuka untuk di perluas sebagai situs perjuangan Kalimantan Barat yang terbesar.


Salam Hangat,
Andreas Acui Simanjaya Read More....

Makam Juang Mandor di Mata anak anakku


Setelah kunjungan tanggal 22 juni 2008, pada Tanggal 24 Juni Saya kembali ke Komplek Makam Juang Mandor, kali ini misi saya sederhana saya, ingin mengenalkan situs sejarah perjuangan Mandor ini kepada anak anakku, sebenarnya mereka sudah beberapa kali diajak singgah ke Makam ini, namun kali ini saya ingin mereka mendatanginya dari sisi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia khususnya di Kalbar.

Kami sampai di areal jam 13.30, saat itu matahari bersinar terik sekali, segera saya menemui Pak Samad, penjaga Makam Juang Mandor, memperkenalkannya dengan anak anak dan berbincang sejenak, sempat saya berikan HP agar bisa berkomunikasi dengan Nur Iskandar Pimred Borneo Tribune di Pontianak, setelah minta ijin dan meminjam kunci untuk membuka gembok di jalan masuk menuju areal pemakaman saya mengajak anak anak menuju diarama kejadian Mandor yang melukiskan berbagai adegan peristiwa Mandor, mulanya ada keengganan anak anak untuk berpindah dari nyamannya kesejukan AC mobil ke lapangan terbuka dan disengat sinar Matahari, namun begitu saya mulai bercerita tentang peristiwa Mandor sambil menjelaskan adegan demi adegan yang terdapat pada relief di dinding semen, segera anak anakku takjub, tengelam dalam perenungan alam pemikirannya kemudian berbagai pertanyaan mulai muncul dari mulut mereka yang mungil.

“ Pa, mengapa Ibu penjual buah ini di tendang Jepang ? apa salahnya ?
“Lihat Pa ! dua ekor Ayam ini mau di Injak Jepang .... “
“Papa ! Bapak yang pakai kacamata itu dokter ya ? Dion lihat ada stetoskop yang di pakainya.”
“Papa lihat ada orang yang di injak injak ....”

Pada saat sampai diakhir kisah saya sampaikan setelah Negara Jepang kena Bom Atom di Nagasaki dan Hirosima oleh Amerika, Maka kekuatan Jepang berkurang dan akhirnya sebagian dibunuh oleh rakyat Kalbar yang marah karena perbuatannya Jepang.

“Papa, mau lihat Jepang yang dibunuh pejuang kita !

Tuh yang Botak dan tengkurap itu ... tunjuk saya pada relief yang terakhir.

Kemudian kami masuk kedalam mobil untuk mengunjungi lubang lubang pemakaman massal karena jarak satu makam ke yang lainnya cukup jauh.

“ Papa lihat ada korban Jepang yang wartawan !” seru Dion yang membaca papan pengumuman di bagian depan rumah Pak Samad, yang memuat sebagian kecil data korban berikut keterangan profesinya, Dion semakin takjub dan paham bahwa sampai wartawanpun jadi korban keganasan Jepang saat itu.

“ Papa nanti kalo ada artis Jepang kita tinju ya !” cetus anakku Dion tiba tiba, dia pengemar powerrangger dan doraemon flim buatan Jepang, entah apa yang melintas dalam pikirannya, segera saya menjelaskan bahwa meninju artis Jepang itu bukan tindakan yang baik, mereka juga tidak tahu dan belum tentu setuju dengan tindakan serta kekejaman tentara Jepang masa lalu, kita datang kesini untuk belajar sejarah, bukan untuk membuka dendam kepada siapapun, saya lantas kuatir bahwa tujuan utama saya untuk memberikan informasi sejarah perjuangan Kalbar kepada anak saya, malah menghasilkan perasaan dendam pada benaknya kepada Jepang.

Semoga tidak !
kita memang pantas marah dengan kekejaman Jepang yang menelan satu generasi Rakyat Kalbar sejumlah 21.037 jiwa, namun bukan dendam.

Dalam kunjungan ini saya kuatir jika kemarahan anak anak saya bertambah dengan penjelasan saya bahwa hamparan pasir putih di sisi kiri jalan menuju makam 1 adalah akibat pertambangan emas liar dan bahwa sebenarnya kiat sendiri kurang menunjukan kemampuan untuk menghargai pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang terkubur disini, namun mereka hanya diam saja ... entah apa yang ada didalam benak mereka ...

Dalam beberapa hari ini, masih ada berbagai pertanyaan yang muncul dari anak anak saya sehubungan dengan Makam Mandor, umumnya minta di ceritakan kembali kejadian Mandor, saya mendambakan adanya sebuah buku berupa komik yang bercerita tentang Makam Mandro dan sejarah perjuangannya, pasti saya akan jadi pembeli yang pertama untuk anak anakku ...



Pontianak, 25 Juni 2008

Salam Hangat,


Andreas Acui Simanjaya
Read More....

Menjelang Hari Berkabung Daerah Makam Mandor di bersihkan


Tanggal 28 Juni sebagai hari Berkabung Daerah sudah dekat, saya tertarik untuk mengunjungi kompleks pemakaman massal ini untuk melihat dari dekat persiapan yang dilakukan untuk menyambut hari bersejarah ini, hari dimana sebagian besar pendahulu kita menghadapi sakratul mautnya ditangan kekejaman tentara Jepang saat itu, sekurangnya 21.037 orang yang terpaksa kehilangan nyawanya di Mandor pada masa itu.

Saat berkunjung di Makam Mandor pada tanggal 22 Juni ini saya mendapati ada beberapa orang yang dengan giatnya sedang memotong rumput dan semak di sepanjang jalan yang menghubungkan satu persatu lokasi pemakaman massal dari makam no 1 sampai makam no 10 juga di Taman bagian depan pintu gerbang masuk ke Makam.

Sebagian dari pekerja mengunakan parang dan sapu untuk memotong dahan pohon yang dapat menghalangi jalan dan membersihkan semua sampah yang ada, deru suara mesin potong rumput yang di panggul di punggung, memecahkan kesunyian kompleks pemakaman massal ini, aroma rumput dan semak yang terpotong menimbulkan suasana alam yang segar.
Semua persiapan ini tentunya dimaksudkan agar pada tanggal 28 Juni ini, semua penziarah yang di perkirakan dapat mencapai ribuan orang dengan mudah mengunjungi makam yang ada satu persatu.

Menjelang Hari Berkabung Daerah yang jatuh pada tanggal 28 Juni 2008, Makam Juang Mandor dibersihkan, sebanyak 6 tenaga kerja dari Pontianak di kerahkan untuk memrapikan komplek pemakaman massal di Mandor.

Para pekerja ini dipekerjakan oleh Dinas Sosial Kalbar untuk membersihkan areal Makam.

“kami semua dari Pontianak sudah 3 hari di sini, mungkin lusa (25/5/08) sudah pulang” kata salah satu pekerja saat diajak bicara sambil di tawari air minum kemasan.

Semoga saja para Arwah Pahlawan sejumlah 21.037 yang dibunuh secara kejam oleh tentara Jepang memaklumi segala kesibukan dan hiruk pikuk para pekerja ini, setidaknya dari waktu kewaktu kami para generasi muda semakin menyadari pengorbanan yang terjadi dalam rangka mendapatkan kemerdekaan ini sangat mahal harganya, sedikit saja kita lengah saat itu, mungkin hari ini kita semua sudah berbahasa Jepang dan bertingkah laku layaknya orang Jepang, mengingat rencana Jepang saat itu yang ingin memusnahkan satu generasi di Kalbar sehingga generasi muda yang tertinggal mudah di cekoki dan jadikan orang Jepang lokal, beruntung rencana busuk ini dapat di patahkan berkat perjuangan keras para pendahulu kita, perngorbanan sejumlah 21.037 tidak akan pernah sia sia, setidaknya jika kita semua selaku stake holder Kalbar dapat menyelami dan mahami betapa mahalnya pengorbanan yang diberikan oleh para korban yang kini terbaring di areal pemakaman massal ini demi Kalimantan Barat, maka akan sangat disayangkan jika kita para generasi mudah tidak dapat menjaga semangat dan contoh yang ditinggalkan para pahlwan ini, semuanya bersatu padu, tidak memandang suku dan etnis demi kemerdekaan Kalbar ini, tugas kita setidaknya dapat menjaga semangat bersatu untuk bersama sama membuat kemajuan di Kalbar ini, tanpa mempermasalahkan etnis, suku, golongan dan Agama.

Salam Hangat,
Andreas Acui Simanjaya
Read More....

Monday, June 23, 2008

DPRD Restui Pembentukan UPT Mandor

Sejarah Mandor Perlu Ditulis Kembali

Andry
Borneo Tribune, Pontianak

Kawasan Makam Juang Mandor yang sekaligus merupakan situs cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang perlu dibentuk suatu Unit Pelayanan Teknis (UPT). Hal itu penting agar dapat melindungi kawasan bersejarah tersebut dari perbuatan yang dapat merusak maupun mereduksi eksistensi dari kawasan tersebut. Prinsipnya DPRD Kalimantan Barat sepakat bahwa kawasan Makam Juang Mandor (kini berubah nama menjadi Monumen Daerah Mandor sesuai Perda No 5 Tahun 2007, red) perlu dibentuk suatu Unit Pelayanan Teknis (UPT).
”Pada prinsipnya saya mendukung pembentukan suatu UPT untuk mengelola kawasan Makam Juang Mandor. Karena sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat memang mengamanahkan beberapa poin penting,” tegas Wakil Ketua Pansus SOPD DPRD Kalbar, Drs. Zainuddin Isman, M.Phil di gedung DPRD Kalbar, Senin (23/6) kemarin.

Legislator PPP ini mengatakan amanah Perda yang pertama, yaitu mengukuhkan bahwa pada 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah. Dan kedua, kawasan Makam Juang Mandor ini merupakan situs cagar budaya atau Monumen Daerah. Oleh karena itu, Gubernur perlu segera menetapkan berapa luas wilayah kawasan Monumen Daerah Mandor yang sekaligus merupakan situs cagar budaya di Kalimantan Barat. Sebab, selama ini Undang-Undang tersebut masih belum dapat diimplementasikan lantaran belum diketahui secara pasti berapa sebenarnya luas dari kawasan tersebut. “Karena sejauh ini, baik pemerintah provinsi maupun Kabupaten Landak masih belum menetapkan berapa luas kawasan Makam Juang Mandor tersebut.”

Kemudian, amanah yang ketiga dalam Perda tersebut mengamanahkan bahwa sejarah pergerakan nasional di Kalimantan Barat, termasuk peristiwa Mandor harus kembali ditulis secara objektif dan proporsional. Dengan harapan agar sejarah tersebut dapat dituangkan dalam muatan lokal (mulok) di Kalbar.
”Itu masih belum dilaksanakan. Baru Hari Berkabung Daerah (HBD) yang telah ditetapkan dan pemasangan bendera setengah tiang di Kalbar. Kita minta kepada pemerintah provinsi agar di dalam perubahan APBD 2008 mendatang, penetapan lokasi dan penyiapan lokasi serta penulisan sejarah tersebut harus sudah dianggarkan.”

Dia juga mengaku sejauh ini sejarah yang ditulis mengenai peristiwa Mandor masih belum proporsional, sehingga perlu dilakukan penulisan kembali mengenai sejarah pergerakan nasional di Kalbar yang termasuk pula peristiwa Mandor. Agar sejarah mengenai beragam perjuangan pergerakan nasional di Kalbar maupun peristiwa Mandor dapat diketahui secara utuh oleh generasi penerus bangsa. “Itu penting,” ingat Zis sapaan akrabnya.

Wakil rakyat daerah pemilihan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu ini menegaskan pembentukan suatu UPT itu tidak perlu dicantumkan di dalam SOPD. Karena, gubernur berhak untuk membentuk suatu UPT. Dan pembentukan UPT itu ditetapkan berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub). Oleh karena itu, jelas dia, UPT itu tidak perlu dimasukkan di dalam rancangan SOPD secara eksplisit, melainkan perlu ada kesepakatan antaran Pansus SOPD DPRD bersama pihak eksekutif bahwa kawasan Monumen Daerah Mandor tersebut perlu dibentuk suatu UPT yang akan menangani secara khusus kawasan tersebut.
Dia menambahkan, ketika berbicara UPT, artinya ada kaitannya dengan eselon III. Dan eselon III itu tidak secara eksplisit diatur di dalam SOPD. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa kawasan Monumen Daerah Mandor penting dibentuk suatu UPT.

Sementara itu, anggota DPRD Kalbar, H. Zainal Abidin, HZ mengatakan pihak eksekutif harus mengusulkan pembentukan Unit Pelayanan Teknis (UPT) dalam draft SOPD yang diusulkan pihak eksekutif kepada legislatif. “Saya setuju bahwa UPT itu dibentuk untuk mengelola kawasan monumen yang bernaung di bawah Dinas Pariwisata. UPT ini akan kami perjuangkan di dalam pembahasan SOPD bersama pihak eksekutif,” tegas Zainal.

Legislator PPP ini menambahkan bahwa Monumen Daerah Mandor merupakan aset sejarah dan wajar kiranya pemerintah membentuk badan khusus berupa UPT yang menangani kawasan ini, sehingga kawasan ini dapat terjaga dari beragam perilaku yang dapat merusak lingkungan maupun situs cagar budaya yang ada di Kalbar.
“Kita berharap kepada pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat dapat membentuk UPT yang bertugas secara khusus untuk menangani kawasan Monumen Daerah Mandor ini,” harapnya tulus.
Dia juga mengharapkan Pansus SOPD juga dapat memperjuangkan pembentukan UPT ini, sehingga gagasan yang dipaparkan Pimpinan DPRD terkait pembentukan UPT ini bisa segera terealisasi.
mantan Barat. Sebab, selama ini Undang-Undang tersebut masih belum dapat diimplementasikan lantaran belum diketahui secara pasti berapa sebenarnya luas dari kawasan tersebut. "Karena sejauh ini, baik pemerintah provinsi maupun Kabupaten Landak masih belum menetapkan berapa luas kawasan Makam Juang Mandor tersebut."
Kemudian, amanah yang ketiga dalam Perda tersebut mengamanahkan bahwa sejarah pergerakan nasional di Kalimantan Barat, termasuk peristiwa Mandor harus kembali ditulis secara objektif dan proporsional. Dengan harapan agar sejarah tersebut dapat dituangkan dalam muatan lokal (mulok) di Kalbar.
"Itu masih belum dilaksanakan. Baru Hari Berkabung Daerah (HBD) yang telah ditetapkan dan pemasangan bendera setengah tiang di Kalbar. Kita minta kepada pemerintah provinsi agar di dalam perubahan APBD 2008 mendatang, penetapan lokasi dan penyiapan lokasi serta penulisan sejarah tersebut harus sudah dianggarkan."
Dia juga mengaku sejauh ini sejarah yang ditulis mengenai peristiwa Mandor masih belum proporsional, sehingga perlu dilakukan penulisan kembali mengenai sejarah pergerakan nasional di Kalbar yang termasuk pula peristiwa Mandor. Agar sejarah mengenai beragam perjuangan pergerakan nasional di Kalbar maupun peristiwa Mandor dapat diketahui secara utuh oleh generasi penerus bangsa. "Itu penting," ingat Zis sapaan akrabnya.
Wakil rakyat daerah pemilihan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu ini menegaskan pembentukan suatu UPT itu tidak perlu dicantumkan di dalam SOPD. Karena, gubernur berhak untuk membentuk suatu UPT. Dan pembentukan UPT itu ditetapkan berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub). Oleh karena itu, jelas dia, UPT itu tidak perlu dimasukkan di dalam rancangan SOPD secara eksplisit, melainkan perlu ada kesepakatan antaran Pansus SOPD DPRD bersama pihak eksekutif bahwa kawasan Monumen Daerah Mandor tersebut perlu dibentuk suatu UPT yang akan menangani secara khusus kawasan tersebut.
Dia menambahkan, ketika berbicara UPT, artinya ada kaitannya dengan eselon III. Dan eselon III itu tidak secara eksplisit diatur di dalam SOPD. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa kawasan Monumen Daerah Mandor penting dibentuk suatu UPT.
Sementara itu, anggota DPRD Kalbar, H. Zainal Abidin, HZ mengatakan pihak eksekutif harus mengusulkan pembentukan Unit Pelayanan Teknis (UPT) dalam draft SOPD yang diusulkan pihak eksekutif kepada legislatif. "Saya setuju bahwa UPT itu dibentuk untuk mengelola kawasan monumen yang bernaung di bawah Dinas Pariwisata. UPT ini akan kami perjuangkan di dalam pembahasan SOPD bersama pihak eksekutif," tegas Zainal.
Legislator PPP ini menambahkan bahwa Monumen Daerah Mandor merupakan aset sejarah dan wajar kiranya pemerintah membentuk badan khusus berupa UPT yang menangani kawasan ini, sehingga kawasan ini dapat terjaga dari beragam perilaku yang dapat merusak lingkungan maupun situs cagar budaya yang ada di Kalbar.
"Kita berharap kepada pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat dapat membentuk UPT yang bertugas secara khusus untuk menangani kawasan Monumen Daerah Mandor ini," harapnya tulus.Dia juga mengharapkan Pansus SOPD juga dapat memperjuangkan pembentukan UPT ini, sehingga gagasan yang dipaparkan Pimpinan DPRD terkait pembentukan UPT ini bisa segera terealisasi. Read More....

Sunday, June 22, 2008

Big Design Mandor Diamanahkan Kepada Tribune Institute

Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak


“Kraton2 yg tergabung di dlm FSKN Kalbar memberikan amanah kepada Tribune Institute utk memfasilitasi Penyambutan, Pengisian dan Pemaknaan HBD setiap tahunnya melalui kerja2 progresif dan akuntabel utk pemuliaan harkat martabat anak bangsa yg menjadi korban keganasan Jepang di forum lokal, nasional a Internasional, baik dgn bekerja mandiri maupun dgn bekerjasama dgn Pemda, Pempus maupun LSM nasional dan masy Int’l.” Gusti Suryansyah, Ketua TPH-FSKN Kalbar.


Short Message Service (SMS) atau pesan layanan singkat itu saya terima pada pukul 00.32 WIB, hari Sabtu tanggal 21 Juni 2008. Pada saat itu saya, Dwi Syafriyanti selaku Ketua Yayasan Tribune Institute, dan Tanto Yakobus selaku redaktur Harian Borneo Tribune sekaligus designer website Mandor masih berada di The Roof Cafe tempat diselenggarakannya “Mandor Meeting” bersama stakeholder membicarakan langkah-langkah lebih lanjut terhadap big design (rancangan besar) gerakan “Mandor” yang telah memiliki payung hukum Hari Berkabung Daerah (HBD) serta Monumen Daerah Mandor melalui Perda No 5 Tahun 2007.
SMS yang dikirimkan Panembahan Landak itu adalah penegasan kembali atas kesimpulan akhir dari Mandor Meeting yang digelar di The Roof Cafe, Hotel Peony yang berlangsung sejak pukul 18.30-23.00 dan diikuti oleh sedikitnya 30 peserta. Mereka antara lain Drs Gusti Suryansyah, M.Si, Dr Mardan Adijaya, Drs Gusti Mulia, Ir Syarif Muhammad Herry, Turiman, SH, M.Hum, HA Halim Ramli, Drs M Zain, Moeliono (Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, mewakili HA Kadir Ubbe, SH, MM), Dra Sri Jumiadatin, M.Si (Karo Binsos Pemprov Kalbar), Paimin Slamet (Dinas Pendidikan Nasional mewakili Drs H Ngatman), Erick S Martio, Ir Andreas Acui Simanjaya, Zulfidar Zaedar Mochtar, SE, MM, Faisal Riza, ST, Nazirin, SH dan masih banyak lagi.
Saya selaku moderator sekaligus atas nama Harian Borneo Tribune yang menjadi fasilitator Mandor Meeting membuka kegiatan dengan penjelasan flash back bahwa tragedi yang terjadi di tahun 1942-1944 sangat besar artinya bagi Kalbar yang multietnis, multiras dan multi agama. Perjuangan rakyat melawan fasisme Jepang, yang gugur sebagai bunga kusuma Bangsa patut dikenang dalam buku sejarah kejuangan Bangsa Indonesia. Ironisnya, Tragedi Mandor yang genocidanya menunjukkan angka 21.037 jiwa luput dalam pelajaran sejarah nasional. Oleh karena itu perlu bagi generasi saat ini memperjuangkannya secara terus menerus ke Pusat, bahkan internasional. Demikian lantaran korban perang Jepang tidak hanya Kalbar, tapi juga China, hingga Amerika Serikat.
Pemprov Kalbar sebagaimana dituturkan Wiwiek dari Biro Binsos menegaskan bahwa sudah ada beberapa kali pertemuan membahas HBD yang jatuh pada 28 Juni mendatang. Misalnya BKIKD melakukan ekspose, dinas pendidikan melakukan lokakarya menyoal masuknya Mandor sebagai bahan pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, maupun Dinas Pekerjaan Umum untuk mengelola tata ruang. Terlebih lokasi Mandor mengalami kerusakan akibat ulah penambang emas.
Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat seperti penjelasan Moeliono mengakui bahwa sejak Perda No 5 tahun 2007 terbit, urusan teknis HBD diserahkan ke Dinas Sosial. Biro Binsos hanya mengenai kebijakan-kebijakan strategis semata-mata. “Ini tahun pertama kami sebagai penyelenggara,” ungkapnya.
Menurut Moeliono pada 28 Juni mendatang upacara akan lebih khidmat karena peserta tidak dipaksa berdiri, melainkan disiapkan kursi. Acara juga akan lebih komplit dengan adanya komandan upacara, pemasangan foto-foto baru para pejuang, karangan bunga, serta kunjungan pelajar dan mahasiswa. Untuk perawatan Monumen Daerah yang sesungguhnya sama dengan Monas-nya Kalbar, Dinas Sosial mempunyai penjaga makam.
Dinas Sosial berupaya mengundang pihak di Pusat termasuk Kedubes Jepang. Namun diakui hal tersebut tidak mudah. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan dari pihak-pihak yang punya akses ke sana seperti Tribune Institute.
Dinas Sosial melihat sangat banyak pekerjaan rumah mengenai situs Mandor. “Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita harus bersatu,” usulnya.
Perwakilan dari Dinas Diknas Kalbar, Paimin Slamet di forum menyatakan sejak diterbitkannya Perda No 5 Diknas sudah menggelar seminar pada Desember 2007 dan merekomendasikan Mandor masuk dalam muatan lokal. Pembahasan lebih lanjut pada 24-28 Juni dalam waktu dekat ini.
Gusti Suryansyah dalam pertemuan Mandor Meeting mengaku apresiet terhadap apa yang dilakukan Harian Borneo Tribune bersama kepanjangan tangannya bernama Tribune Institute—sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang riset dan pendidikan serta kepenulisan—sehingga perjuangan Mandor tidak “mati angin”.
Kata dosen pasca sarjana di Untan ini, ahli waris keluarga korban Jepang sejak terbitnya Perda No 5 bersikap husnuzhan atau berbaik sangka. Tapi ternyata, sudah memasuki bulan Juni sama sekali tak terdengar rencana-rencana Pemprov tentang apa dan bagaimana HBD tahun 2008 ini. Oleh karena itu dia selaku Ketua TPH-FSKN Kalbar telah pula melakukan rapat di Kantor Magister Ilmu Sosial. Hasilnya mempertanyakan apa eksen dari Pemprov. “Syukur alhamdulillah pada hari ini kita bisa bertemu di forum ini,” ujarnya.
Melihat Pemprov kurang aktif mensosialisasikan HBD, Gusti Suryansyah sudah dua kali ekspose di radio, masing-masing Radio Divasi dan RRI. “Better late than never (lebih baik telat daripada tidak sama sekali),” sindirnya buat Pemprov. “Seperti menelan liur pahit,” ungkapnya gemas—yang sebelumnya tabik-tabik minta maaf kepada Dinas Sosial dan stakeholder yang hadir.
Gusti Suryansyah bicara cukup panjang. Katanya, Monumen Daerah Mandor adalah miniatur Indonesia (bila perlu didesain seperti Taman Mini Indonesia Indah, red) di mana ada multietnis, multikultural, ada genocida. Dll. “Anggaran dana Rp 75 juta ke Dinas Sosial sangat kecil. Sebagian terserap untuk konsumsi. Kita perlu menembus APBN,” usulnya mengenai perjuangan peningkatan status pejuang Kalbar menjadi pahlawan nasional.
“Tahun ini okelah upacara yang mengalami perluasan sedikit saja, tapi tahun-tahun mendatang harus lebih meningkat. Upacara HBD tidak hanya di Mandor, tapi juga di kantor-kantor, di sekolah-sekolah, seperti upacara 17 Agustus,” imbuhnya.
Mengenai rencana seminar di Kedubes Jepang, Gusti Suryansyah mendukung. Tetapi menurutnya tidak perlu semua keluarga korban ikut serta, sebab dikuatirkan masih ada letupan emosi sehingga ajang akademis berubah menjadi caci maki—hadirin pun tertawa kecil.
Ketua MABT, Erick Martio angkat bicara. Dia yang juga cucu korban Mandor menunjukkan foto kakeknya yang tewas dipenggal Jepang bahkan fotonya dimuat di edisi Borneo Sinbun yang menghebohkan itu.
Dr Mardan Adijaya melakukan penekanan kepada rasa kebangsaan dan marwah ke-Indonesiaan. “Kalbar penuh dengan perjuangan. Kalbar ikut membentuk Republik ini. Oleh karena itu Monumen Mandor harus ada progresnya.”
Diakuinya bahwa masih banyak generasi muda yang tidak tahu cerita Mandor. “Anak-anak kita belum tahu HBD,” ungkapnya.
Mardan setuju perlu ada satu lembaga yang menangani Mandor seperti UPT (Unit Pelaksana Teknis). Lembaga ini yang mengelola secara langsung Monumen Daerah, tetapi lembaga-lembaga lain seperti forum kraton, PPKAJ dll tetap penting sebagai support system alias sistem pendukung.
Berkenaan dengan hal itu Mardan setuju big design gerakan Mandor seperti dikupas di atas diinisiasi oleh Tribune Institute. Pertimbangannya sama dengan Gusti Suryansyah, agar organisasi tidak gemuk, ramping, bekerja taktis dan cekatan.
Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, SH mengaku Mandor Meeting luar biasa menarik. Menurutnya Mandor tak lepas dari isu HAM yang menjadi konsentrasi masyarakat internasional.
“Mandor tidak berhenti pada sejarah. Ada pluralisme di sini. Persoalan Mandor tak sekedar permohonan maaf dari Jepang, tapi juga UU No 27 Tahun 2004 mengenai ganti rugi. Oleh karena itu seminar internasional dengan Jepang bukan hal yang mustahil,” ungkapnya seraya mengatakan kita dapat mengajak masyarakat internasional.
Budayawan HA Halim Ramli menyindir Pemprov yang menyiapkan 12 armada angkut. “Dahulu di zaman Gubernur Kadarusno disiapkan 42 bis sehingga 412 keluarga korban bisa diangkut.”
Sebagai penulis cum jurnalis, AHR—sapaannya—membayangkan setiap upacara dapat diikuti 5 ribuan massa. Demikian karena besarnya peristiwa Mandor tersebut. AHR menyatakan, perlu figur-figur seperti Kadarusno. Read More....