Thursday, July 12, 2007

LENYAPNYA SATU GENERASI KERAJAAN SIMPANG

OLEH GUSTI MULIA


Inilah sekelumit kisah “Lenyapnya Satu Generasi Kerajaan Simpang”, masa tiga jaman penjajahan – Belanda, Jepang dan KNIL. Kerajaan Simpang terletak di wilayah Simpang Hilir sekarang. Kisah bermula dari masa Penembahan Suryaningrat, hingga Gusti Matan dan Gusti Wadai.

Masa Kolonialisme Belanda

Gusti Panji bergelar Panembahan Suryaningrat adalah raja keempat dari Kerajaan Simpang. Belanda berusaha membujuk dan memaksa Panembahan untuk menandatangani Kontrak Pendek (Koerte Verkelaring), namun ditolak oleh Gusti Panji. Karena dianggap membangkang maka Panembahan itu ditangkap.
Karena tidak berhasil memaksa dan menawan Panembahan, maka Belanda memaksakan sendiri Korte Verkelaring itu, dan memaksa rakyat untuk membayar pajak (belasting). Pemaksaan inilah yang membangkitkan semangat rakyat untuk menantang penjajahan yang dipimpin oleh Patih Kampung Sepuncak yang bergelar Hulubalang I yang bernama Abdussamad atau dikenal dengan Ki Anjang Samad, Panglima Ropa, Panglima Ida, Gani, Enteki, Etol, Gecok dan Patih-patih, serta Demong-demong. Terjadilah peperangan di Kampung Belangkait. Setelah dua hari peperangan banyaklah korban baik di pihak Ki Anjang Samad maupun di pihak Belanda. Termasuk Ki Anjang Samad dan Patih Kembereh kemudian gugur, serta tertangkapnya lima Panglima. Mereka ditawan di Sukadana, dan empat di antaranya mati di dalam penjara, yaitu Panglima Ida, Gani, Etol, dan Panglima Gecok. Inilah korban pertama kerabat Kerajaan Simpang dalam menentang penjajah Belanda.
Perang Tumbang Titi yang dipimpin oleh Uti Usman di Hulu Ketapang terjadi hampir bersamaan dengan Perang Belangkait di Kerajaan Simpang.
Gusti Muhammad Shalehan, ayah dari ibuku Utin Tahara yang berdomisili di Riam Bumut, terlibat dalam perang Tumbang Titi tersebut. Oleh karena itu beliau ditangkap, dibuang, dan tidak dikembalikan lagi. Tidak diketahui di mana lokasi pembuangannya, dan beliau pun menjadi korban keganasan penjajah Belanda.
Gusti Hamzah dari Telok Melano bergerak melanjutkan Perang Belangkait tetapi tidak secara fisik berhadapan langsung dengan Belanda. Beliau mengubah cara lain dalam memberikan perlawanan, yaitu melalui sosial-politik, dalam meneruskan cita-cita perjuangan melalui organisasi Syarikat Islam yang dibekukan Belanda pada tahun 1919. Pada tahun 1926 atas perintah Gubernur Jenderal D. Fock diadakan penangkapan dan pembunuhan terhadap anggota organisasi yang dianggap berbahaya, termasuklah Gusti Hamzah. Beliau dijebloskan ke penjara dan diasingkan ke Boven Digul. Beliau dipulangkan 11 tahun kemudian tetapi masih tetap ditahan di penjara Sukadana. Beliau adalah korban masa kependudukan penjajah Belanda di Kerajaan Simpang. Korban-korban penjajahan Belanda antara lain: Abdussamad, Patih Kembereh, Panglima Ida, Panglima Gani, Panglima Etol, Panglima Gecok, Gusti M. Salehan, dan Gusti Hamzah.

Masa Fasisme Jepang

Pada masa pemerintahan ayahku Gusti Mesir, yang menjadi Panembahan Kerajaan Simpang ke VI setelah menggantikan datukku Gusti Rum, keadaan perekonomian mengalami masa-masa yang cerah dengan sumber utama dari hasil hutan, kebun, dan karet.
Kemakmuran rakyat Simpang pun berakhir dengan datangnya fasisme Jepang pada tahun 1942. Rakyat mengalami penderitaan yang berat, mengalami kesulitan sandang dan pangan, sehingga rakyat memakan ubi dan sagu, berkain dan bercelanakan goni, serta berbaju kapuak (kulit kayu). Rakyat juga mengalami ketakutan dengan adanya teror yang dilakukan Jepang dan para kaki tangannya. Pelecehan terhadap ucapan “koni ciwak” diartikan, konicewak – celana goni baju kapuak, ada kopi gula tidak (menggambarkan keadaan pada masa itu).
Perekonomian lumpuh total, pasar menjadi sepi karena tidak adanya barang yang akan diperjual-belikan, tidak adanya beras, gula, tembakau, garam, minyak, dan bahan kebutuhan lainnya. Penduduk membuat garam dari batang nipah, gula dari kelapa dan enau, dan menggunakan minyak kelapa untuk penerangan.
Pada waktu raja-raja dipanggil ke Pontianak untuk sebuah pertemuan yang diadakan oleh Jepang, ayahku Gusti Mesir kemudian berangkat bersama Mas Raijin yang selalu diikutsertakan sebagai pembantunya untuk mempersiapkan semua keperluan selama bepergian. Dari Sukadana berangkat pulalah Tengku Betung (Tengku Idris). Setibanya di Pontianak semua raja-raja tersebut ditangkap oleh Jepang termasuk Gusti Mesir dan Mas Raijin.
Seminggu kemudian, Gusti Mesir dibebaskan atas perintah Tuan Siama - Kepala Maskapai Durian Sebatang. Kemudian Gusti Mesir meminta agar Mas Raijin iparnya dibebaskan. Sulit sekali untuk mencari Mas Raijin dari semua tawanan yang banyak itu yang disungkup dengan karung selipi dan hanya dilobangi sekedar untuk dapat melihat saja. Untunglah beliau akhirnya dapat ditemukan, karena ketika dalam barisan yang panjang, tawanan-tawanan yang disungkup itu sedang berjalan, maka tampaklah seorang di antaranya yang berjalan pincang. Itulah keberuntungan Mas Raijin. Karena kakinya pincang, selamatlah ia dari samurai Kempetai.
Beberapa hari sekembalinya ke Telok Melano, berkumpullah semua penggawa, kiyai-kiyai, para patih dan demong, serta para kerabat kerajaan untuk bermusyawarah di istana Panembahan yang dipimpin oleh Penggawa Gusti Hamzah. Pertemuan itu dimaksudkan untuk mencari jalan menyelamatkan panembahan. Ada yang menyarankan agar melawan Jepang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Ada juga yang mengusulkan supaya dilaporkan meninggal karena ditangkap buaya – sebab waktu itu buaya sedang mengganas dan beberapa penduduk sudah menjadi korbannya. Ada pula yang mengusulkan agar lari bersembunyi ke pedalaman. Semua usul dan saran itu dengan halus ditolak oleh Panembahan, karena menurut pertimbangan beliau usulan-usulan tersebut tidak akan membuahkan hasil yang baik, bahkan bakal mengorbankan rakyat sendiri. Beliau berkata, “Biarlah aku yang menjadi korban, asal jangan rakyat.”
Pertemuan tersebut melahirkan kekecewaan karena tidak dapat berbuat apa-apa, selain pasrah dengan takdir yang akan terjadi. Panembahan sudah mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi dan tabah menghadapinya demi keselamatan rakyat dan keluarga kerajaan.
Menurut cerita ibuku, setelah ayahku kembali dari Pontianak pada waktu penangkapan pertama itu, ayahku berkata bahwa Jepang nanti pasti akan datang lagi untuk menangkapnya. Itulah sebabnya beliau pada waktu itu selalu dalam keadaan siap dan tidak melepaskan pakaian baik siang maupun malam, bahkan tidurpun ayahku masih mengenakan sepatu.
Dalam keadaan seperti itu, ada berita tentang pelarian dari Pontianak Kepala Staatwech (mata-mata) Belanda ke Melano. Maka datanglah Jepang dari Sukadana dan Ketapang untuk mencarinya. Panembahan diminta untuk mengerahkan rakyat membantu menangkapnya. Diadakanlah penyisiran di sekitar Melano kota dan Rantau Panjang selama beberapa hari siang dan malam. Akhirnya Kepala Staatwach tersebut dapat ditangkap di Rantau panjang dan langsung dibawa ke Ketapang.
Selang beberapa hari setelah ditangkapnya Staatwach itu, datanglah ‘motor cabang’ dengan dua orang Kempetai dari Pontianak ke istana Panembahan. Kempetai itu meminta Panembahan untuk dibawa (ditangkap). Di sekitar keraton banyak burung layang-layang, Kempetai itu pun memainkan samurainya memancung burung-burung tersebut, akan tetapi tidak ada satu ekor pun yang kena, mungkin hanya untuk menakut-nakuti saja. Keadaan Keraton pada saat itu sangat sepi karena hanya ada istri Panembahan dan istri Panembahan tua. Hanya isak tangis yang tersendat-sendat, karena apa yang dikatakan panembahan memang itulah yang terjadi – bahwa Jepang pasti akan datang menangkapnya. Turut di bawa juga Gusti Tawi (Manteri Tani) adik dari Panembahan yang rumahnya bersebelahan dengan Keraton. Mereka pun berjalan seiring berjalan menuju ‘motor cabang’. Seperti suasana Keraton yang sepi, daerah pasar pun juga sepi sehingga tidak banyak yang tahu akan peristiwa penangkapan itu.
Kemudian dari Telok Melano, motor cabang itu terus melaju ke hulu Sungai Mata-Mata mengambil Panembahan Tua Gusti Rum di peladangannya, dan mudik lagi ke peladangan Sungai Pinang mengambil Gusti Umar (abang Panembahan) yang menjabat sebagai Menteri Polisi. Tengku Ajong suami dari Utin Temah (adik Panembahan) juga ditangkap begitu pula dengan supir Panembahan yang bernama Dolah, dan satu orang lagi yang bernama Bujang Kerepek. Jadi, semua yang ditangkap di Telok Melano adalah: Gusti Rum, Gusti Mesir, Gusti Umar, Gusti Tawi, Tengku Ajung, Dolah, dan Bujang Kerepek. Sedangkan keluarga kerajaan yang berasal dari Sukadana ialah: Panembahan Tengku Idris (Tengku Betung), suami Utin Otek (kakak dari Panembahan Gusti Mesir).
Adapun Gusti Ja’far (anak dari Gusti Rum) yang telah berumur 18 tahun disembunyikan, karena Jepang mencari keturunan Gusti Rum ini dan kerabatnya yang berumur di atas 17 tahun dalam melaksanakan programnya Jepangisasi (menjepangkan bangsa Indonesia).
Seminggu kemudian setelah Panembahan Gusti Mesir ditangkap untuk kedua kalinya itu, Kempetai-kempetai Jepang datang lagi ke keraton dan langsung memeriksa semua bagian-bagian rumah, setiap kamar, lorongan, bahkan kamar mandi. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa dan mereka pun tidak menyatakan sesuatu apa pun.
Sejak itu hampir setiap minggu kompetai-kompetai Jepang datang untuk mencari ibuku Utin Taharah. Adik bungsuku yang baru saja berumur sebulan dan belum diberi nama, menjadi pelindung, perisai, dan penyelamat ibuku dari kebiadaban dan kebejadan Kempetai Jepang. Setiap Kempetai datang, ibuku segera mengendung adikku. Begitulah setiap kali yang dilakukan ibuku ketika datangnya Kempetai-kempetai Jepang.
Semakin seringnya Kempetai datang, semakin besar pula kekhawatiran dan ketakutan ditangkap Jepang. Tetapi, Alhamdulillah, Allah menyelamatkan ibuku melalui adik bungsuku sebagai pelindung.

Masa Kolonialisme Belanda (KNIL)

Di akhir masa fasisme Jepang dan dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia sudah terdengar di seluruh pelosok tanah air, maka timbullah gerakan balas dendam atas kebiadaban fasisme Jepang, dan gerakan membela kematian raja-raja. Gerakan bermula dari hulu pedalaman dengan bergabungnya suku Dayak dan Melayu, yang lebih dikenal dengan gerakan Kepala Burung.
Di Telok Melano, turunlah dari hulu pedalaman Simpang Dua yang dipimpin Gusti Lengat, anak Panembahan Gusti Panji Raja Simpang dengan Kepala Burung sekitar 30 orang. Mereka menyisir mencari pelarian Jepang sampai ke Sukadana tetapi tidak seorang Jepang pun ditemui.
Di Ketapang, gerakan bermula dari Riam Bumut dan Tumbang Titi dipimpin oleh Gusti Matan dan Gusti Wadai dengan kepala-kepala burung, mereka dapat menangkap seorang Jepang dan mereka sembelih. Kemudian Gusti Matan dan beberapa Kepala Burung itu ke Pontianak bergabung dengan gerakan dari daerah Kabupaten lain. Majang Desa dari Suku Dayak pada awal Oktober 1945 yang masuk ke Pontianak dengan membawa kepala Jepang yang dipotong saat pengusiran dari daerah pedalaman. Dengan tegas mereka menuntut agar kota Pontianak dibentuk dan dinobatkan sultan baru pengganti sultan yang dibunuh Jepang.
Atas dasar pertimbangan kekeluargaan, maka dinobatkanlah Syarif Taha Alkadrie, seorang tokoh republican sebagai Sultan Pontianak. Saat penobatannya sebagai Sultan Pontianak di halaman istana Kadriyah dikibarkanlah bendera merah putih yang dinaikkan oleh Gusti Matan dan Abdul Muthalin Rivai (Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat, 1991:122).
Dengan berbekal pengalaman di Pontianak itu, Gusti Matan kembali ke Ketapang mengkoordinir kembali gerakannya dan menaikkan bendera merah putih. Selang beberapa lama kemudian, Belanda (KNIL) menyerang gerakan Gusti Matan dari dua jurusan darat dan sungai. Karena persenjataan tidak seimbang, tanpa terjadi peperangan, Gusti Matan menyerah, dan bendera merah putih diturunkan, diganti dengan bendera penjajah merah, putih, biru.
Gusti Matan dan Gusti Wadai, serta beberapa orang lainnya, ditangkap dan dibawa ke Pontianak yang akhirnya dibuang ke Nusakambangan. Gusti Matan meninggal di pembuangan, dan Gusti Wadai dibebaskan setelah Penyerahan Kedaulatan tahun 1949. Gusti Matan adalah paman dari ibuku Utin Tahara dan Gusti Wadai adalah cucu dari Gusti Matan.
Itulah korban terakhir dari keturunan Kerajaan Simpang ini, maka lenyaplah satu generasi Kerajaan Simpang selama tiga masa penjajahan Belanda, Jepang, dan Belanda (KNIL). Satu keluarga besar keturunan Kerajaan Simpang tidak dapat berziarah ke makam leluhurnya, dan semoga Allah menenpatkan para leluhur kami ditempat yang layak di sisi–Nya.


DRS. H. GUSTI MULIA
Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune tanggal 13 Juli 2007

----------------------------------

TANGGAPAN UNTUK ARTIKEL GUSTI MULIA
----------------------------------
Kapan Syarif Thaha Alkadrie dilantik sebagai Sultan Pontianak?

Tertarik saya membaca tulisan Bapak Gusti Muhamad Mulia tentang penobatan Syarif Thaha Alkadrie sebagai Sultan Pontianak. atas referensi dari buku Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat, penuh dengan rekayasa sejarah oleh KNPI dan mereka yang mengaku pejuang 45 dan tepat apa yang dikatakan oleh seorang pakar sejarah Drs Soedarto : bahwa banyak penghianat sejarah di Kalbar, mengapa:
1. Sejarah perjuangan Rakyat Kalimantan Barat.
1. Buku tersebut diterbitkan pada era Orde Baru dan Kalimantan Barat dipimpin oleh Gubernur Parjoko. Beliau ini orang baik dan lurus makanya bisa dijadikan alat dalam menerbitkan buku tersebut.
2. Dalam buku tersebut telah terjadi pembantaian dan pengrusakan image Sultan Hamid.II dengan berbagai tudingan dan fitnah.
3. Untuk memperkuat pembentukan opini buku tersebut juga dikirimkan keberbagai Universitas terkemuka di Indonesia
4. Mohon dilihat SK Gubernur tentang Susunan Panitya Penerbitan Buku Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat. Diantaranya terdapat Pengurus Angkatan 45 Kalimantan Barat.
2. Mereka yang mengaku Pejuang 45 rata-rata kelahiran tahun 1930 ikut merekayasa pembentukan opini tentang pengangkatan Sultan Syarif Thaha Alkadrie yang juga disebut sebagai Republikan. (Perlu pembuktian).Beliau ini orang baik dan jujur sangat tahu tatakrama dalam bertutur kata. Tokoh angkatan 45 juga mengatakan mereka pertama kali mendengarkan Kemerdekaan dari Radio Amerika, Sanfransisco.Setahu saya Voice Of America itu dipancarkan dari Washingtan DC bukan Sanfransisco. Satu lagi kebohongan sejarah, bahwa penaikan bendera Merah Putih pertama kali di Padang Sajo’ tanggal 17 Agustus 45? Photo tersebut tahun 1950 hasil jepretan senior saya Pak Marius AP yang baru kembali dari Holland, hebat.
3. Kami juga menemukan kebohongan atas pengangkatan Sultan Syarif ThahaAlkadrie :
3.1. Surat Pengangkatan Sultan Syarif Thaha atas hasil rapat dari Pontianak Zityryo Hyogikai 29 Hatigatu 2605 berarti tahun 1945 sedangkan dalam silsilah Kesultanan Pontianak yang disimpan dibelakang Singgasana tercantum Syarif Thaha Alkadrie sebagai Sultan ke VII 1944 sd 1945. Bukankah pada saat itu Jepang masih berkuasa (semua Raja dan Panambahan dibantai oleh Jepang). Adakah yang berani melawan Jepang pada saat mereka berkuasa, mustahil. Keputusan rapat Zityryo Hyogikai hanya ditanda tangani oleh Hasnoelkabri tanpa ada tanda tangan Wakil dari Tentara Jepang/Penguasa saat itu TuanTokoro,tuan Yamagata serta ,A.Asikin,Sy.Usman.I.,Sy.Usman.II,Sy.Hamid Alhinduan,Sy.Ibrahim Alkadrie,MT Oeripan,Sy.Maliun, Ahmad,dan Oerai Oemar.
Perlu kami tambahkan bahwa Syarif Ibrahim lebih tua dari Syarif Thaha dan sama sama dari garis Ibu. Ibunda Syarif Ibrahim/Ratu Tata Negara adik dari Ibundanya Syarif Thaha Alkadrie/Ratu Anom Negara

3.2. Sultan Hamid II dalam pledoinya mengatakan: “Atas kehendak rakyatlah saya dinobatkan sebagai Sultan ke VII ( Mengadili Menteri Memeriksa Perwira :I’ip D Yahya halaman 292.) Beliau dilantik di Istana Kadriah oleh Van Mook sebagai Gubernur Jendral di Indonesia. Perlu kita ingat walau RI sudah menyatakan Merdeka tapi belum ada penyerahan Kedaulatan oleh Kerajaan Belanda. Sultan Hamid II punya andil besar dalam hal ini yang menjadi keputusan KMB. Jika saja Sultan Hamid II berpihak kepada Belanda mungkin sampai sekarang kita belum merdeka. Pernakah hal ini diajarkan oleh Bapak kepada anak didik penerus Bangsa?.
3.3 Yang lebih penting untuk Bapak ketahui dan perlu adalah, bahwa Syarif Thaha Alkadrie bukan Pewaris Kerajaan. Mengapa? Garis lurus itu ada pada Sultan Hamid.II bukan pada Syarif Thaha Alkadrie yang dari Garis Ibu. Sama halnya dengan Bapak, tentu mengambil garis lurus /semenda, bukan?
4. Pertanyaan saya : “ Mengapa berita pelantikan Syarif Thaha ini baru muncul setelah wafatnya Sultan Hamid II dan tepatnya baru dimunculkan pada Tahun 2002 setelah dinobatkannya Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan ke VIII (maaf bukann ke IX, salah itu) Mohon juga Bapak lihat Nisannya Alm Syarif Thaha Alkadrie tidak tercantum nama beliau sebagai Sultan yang ada Pangeran . Sekalian ziarah kepada sang Republikan.
5.Sebagai akhir kata saya mohon kiranya Bapak dapat memberikan atau mencarikan Bukti atas pelantikan Syarif Thaha Alkadrie sebagai Sultan Pontianak baik berupa Photo, SK Pengangkatan dan Siapa yang melantik beliau saat itu demi kebenaran sejarah. Bukankah di Kalimantan Barat banyak Penghianat Sejarah,?.Semoga kita tidak termasuk sebagai penghianat sejarah yang kelak akan dibuktikan oleh generasi penerus bangsa dalam berbagai penelitian Mungkin lebih baik kita terlebih dahulu membuktikan kebenaran sejarah dari pada anak cucu atau cicit kita.Malu juga kita kepada Pak Drs Soedarto sang pakar sejarah. Maafkan saya Pak Guru, kali ini saya membantah Bapak yang pernah mengajar saya di SMPN.I.
Demikianlah penjelasan saya semoga bermanfaat untuk kita semuanya khususnya Generasi mendatang.
Wassalam,
Yayasan Sultan Hamid.II.
Ketua Umum,
Max Jusuf Alkadrie

3 comments:

Kupang said...

Dear Sir;

This is very interesting article about kerajaan Simpang.I erally should like to know more about Simpang.I am very interested in kerajaan2 kalbar.

I hope you will react and I can also be in contact with kerabat Panembahan Simpang.Who is dynastychief there;please.Many thanks.I have good pedigree of raja2 Simpang.
Also other info.I shall send you later.This is list of Panembahans of Simpang.

DAFTAR PANEMBAHAN2 SIMPANG
--------------------------
--------------------------

1)P. KUSUMA NINGRAT(LATE 18TH CENT.-1814
2)P. SURIA NINGRAT/PANGERAN KRATON;SOME SAYB FIRST PANEMBAHAN.1814/1829(;DIED).
SOME SAY DIED 1824.SON
3)P. ANOM KUSUMA NINGRAT;G. MUH. RUM;SON.1829-10-3-1872(DIED)
4)P. SURIA NINGRAT;GUSTI PANJI;;B. 1843;RECOGNIZED AS RAJA 26-9-1874;DEP. 29-11-1910;D. 13-4-19.OFFICALLY ABDICATED AND WENT TO BATAVIA.
5)P. ANOM KUSUMA NINGRAT/G. RUM-1911-1940;SON
6)GUSTI MESIR;SON;1940-44
7)P. GUSTI MAKHMUD;COUSIN;
1945-52.

hORMAT SAYA:
DP TICK grmk
SECR. PUSAT POKUMENTASI KERAJAAN2 DI INDONESIA "PUSAKA"
PUSAKA.TICK@TISCALI.NL

bebeq said...

cerita bagus banget..klo raden dari simpang itu siapa ya..kebetulan ayah saya juga dari simpang hilir(melano)dan nama nya juga pake raden termasuk saya. apa bisa saya dapat ceritanya

Edy Novriadi said...

Bangsa ini penuh dengan penyelewengan dan pemalsuan sejarah untuk kepentingan mereka yang berkuasa. .
Semoga Ilmu Penegetahuan yang akan datang akan mampu mengungkap mana sejarah yang palsu dan mana sejarah yang asli.