Monday, July 2, 2007

Antara Saipan, Hirosima, Nagasaki dan Mandor

Kaisar Jepang Akihito dan Permaisuri Michico untuk pertama kalinya mengunjungi Monumen Marianas di Pulau Saipan tanggal 15 Juni 2005, guna memberikan penghormatan kepada para korban yang tewas dalam pertempuran antara Jepang dan Amerika Serikat tanggal 15 Juni 1944.
Pulau Saipan berhasil direbut Amerika Serikat tanggal 9 Juli 1944 bersama Pulau Tinian. Cukup banyak korban warga Jepang sekitar 55.000 orang dan pasukan Amerika Serikat 5.000 orang dan warga lokal 900 orang. Selain mengunjungi Monumen Marianas, Kaisar Akihito juga berkunjujng ke Jurang Banzai tempat ratusan warga sipil Jepang termasuk anak-anak yang melakukan bunuh diri dengan cara terjun ke jurang yang penuh dengan batu karang terjal. Pemerintah Jepang juga banyak membangun monumen juang di wilayah Asia antara lain di Cina dan Korea Selatan.
Bagaimana dengan Mandor?
Pertama kali kepedulian seorang putra Bangsa yang bernama Sultan Hamid II Alkadrie, tahun 1946 dibangunlah cungkup sepuluh buah yang lebih dikenal dengan cungkup sepuluh dan Tugu Korban Jepang, dilanjutkan dengan pembangunan Monumen Juang oleh Kadarusno Gubernur Kalimantan Barat. Kedua orang ini sangat peduli dengan para Syuhada Bangsa karena sering berkomunikasi. Komunikasi antara Seorang Gubernur dengan Warganya yang tinggal di Jakarta dan juga antara sang Komandan dengan anak buahnya. Sultan Hamid pernah menjdi komandannya Kadarusno dalam pasukan KNIL. Satu hal yang sangat disayangkan dan disesalkan oleh Kadarusno adalah diserahkannya barang bukti kekejaman tentara Jepang berupa Samurai.
Penulis dengar sendiri saat mendampingi Sultan Hamid II, berkunjung di kediaman beliau di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Mandor memang pantas untuk kita kenang sebagai bukti bahwa Kalbar punya andil dalam merebut kemerdekaan. Satu generasi para cendikiawan,tokoh masyarakat dan pemimpin yang terdiri dari para Sultan dan keluarganya, pedagang dan wartawan. Sultan Hamid II juga membangun Tugu Korban Jepang di depan pelabuhan Oevang Oeray yang sekarang berdiri Tugu Lambang Negara. Kita pun tidak tahu apa maunya H A Madjid Hasan mendirikan tugu itu atau mungkin ingin mengenang jasa Sultan Hamid II sebagai perancang Lambang Negara kita?
Monumen Juang Mandor perlu kita pelihara dan dijadikan objek wisata sejarah. Pemda Kalbar perlu memberikan anggaran yang cukup untuk memelihara asset sejarah dan mempercantik kawasan Monumen Juang Mandor. Jika kita melihat Jepang dengan mendirikan belasan Monumen Juang di kawasan Asia dan tiga diantaranya di Jepang sendiri.
Nagasaki dan Hirosima diperingati tiap tanggal 9 Agustus dan Pulau Saipan tiap tanggal 15 Juni. Mandor kita peringati tiap tanggal 28 Juni. Mari kita bersama Pemda Kalbar benahi Monumen Mandor. Antara Saipan, Hirosima, Nagasaki dan Mandor sama-sama bukti sejarah kejamnya Perang Dunia II.
Kita berharap Dubes Kerajaan Jepang dapat turut serta ke Mandor dalam memperingati Hari Berkabung Daerah tiap tanggal 28 Juni bersama Pejabat Daerah, ahli waris korban Jepang dan masyarakat Kalbar. Mari bergandengan tangan membangun Kalimantan Barat. Kita tahu pemerintah Jepang/JICA banyak membantu tapi sayang Pemda Kalbar tidak transparan dengan masyarakat Kalbar khususnya para ahli waris korban, maklumlah masa kepemimpinan orde baru.

Terima Kasih,
Syarifah Djamilah
Foto: By Dokumentasi Pribadi Syarifah Djamilah