Wednesday, July 2, 2008

Makam Juang Mandor di Mata Anak


Andreas Acui Simanjaya/Freelancer
Borneo Tribune, Mandor

Setelah kunjungan tanggal 22 Juni 2008, pada tanggal 24 Juni Saya kembali ke Komplek Makam Juang Mandor (kini bernama Monumen Daerah Mandor sesuai Perda No 5 Tahun 2007, red), kali ini misi Saya sederhana saja, ingin mengenalkan situs sejarah perjuangan Mandor ini kepada anak anak.
Sebenarnya mereka sudah beberapa kali diajak singgah ke makam yang heroik dan penuh para pejuang ini, namun kali ini saya ingin mereka mendatanginya dari sisi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia khususnya di Kalbar.

Kami sampai di areal jam 13.30, saat itu matahari bersinar terik sekali.
Segera Saya menemui Pak Samad, penjaga makam, memperkenalkannya dengan anak anak dan berbincang sejenak.
Saat itu sempat Saya berikan pesawat HP (hand phone, red) agar bisa berkomunikasi dengan Nur Iskandar, Pimred Borneo Tribune di Pontianak, untuk berjomunikasi soal hasil pertemuan “Mandor Meeting” yang digelar bersama stakeholder di The Roof Cafe, Jumat (20/6) sebelumnya.
Terdengar komunikasi antara Pak Samad dan Nur Iskandar intens. “Iya. Ya, bagus itu. Baguslah kalau begitu,” komentar Pak Samad yang sempat Saya rekam.
Kepada Saya, Pak Samad mengatakan bahwa Nur Iskandar menceritakan hasil-hasil pertemuan di kalangan keluarga korban maupun wakil-wakil pemerintah. “Baguslah jika Tribune Institute dipercaya untuk membuat perencanaan yang menyeluruh mengenai HBD,” ujar Pak Samad meberikan kesimpulannnya.
Setelah minta ijin dan meminjam kunci untuk membuka gembok di jalan masuk menuju areal pemakaman, Saya mengajak anak anak menuju diorama kejadian Mandor yang melukiskan berbagai adegan peristiwa Mandor.
Mulanya ada keengganan anak anak untuk berpindah dari nyamannya kesejukan AC (Air Conditioner, red) mobil ke lapangan terbuka dan disengat sinar matahari, namun begitu Saya mulai bercerita tentang peristiwa Mandor sambil menjelaskan adegan demi adegan yang terdapat pada relief di dinding semen, segera anak anakku takjub, tengelam dalam perenungan alam pemikirannya. Kemudian berbagai pertanyaan mulai muncul dari mulut mereka yang mungil.
“Pa, mengapa Ibu penjual buah ini ditendang Jepang? Apa salahnya?”
“Lihat Pa! Dua ekor ayam ini mau diinjak Jepang ....“
“Papa! Bapak yang pakai kacamata itu dokter ya? Dion lihat ada stetoskop yang di pakainya.”
“Papa...lihat ada orang yang di injak injak ....”
Pada saat sampai di akhir kisah Saya sampaikan setelah Negara Jepang kena bom atom di Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika dan sekutu, kekuatan Jepang berkurang dan akhirnya Jepang menyerah. Tapi sebagian rakyat Kalbar telah dibunuh oleh Jepang karena mereka ingin men-Jepang-kan Kalbar. Para tokoh yang melawan ditangkap dan disiksa. Sebagian dibunuh di tempat ini.
“Papa, Dion mau lihat ada tidak Jepang yang dibunuh oleh pejuang kita!?”

Tuh yang botak dan tengkurap itu ... tunjuk Saya pada relief yang terakhir.

Kemudian kami masuk ke dalam mobil untuk mengunjungi lubang lubang pemakaman massal karena jarak satu makam ke makam yang lainnya cukup jauh. Menurut data Kecamatan Mandor, daerah makam berada di lokasi cagar alam yang luasnya 3.080 hektar.

“Papa, lihat ada korban Jepang yang wartawan!” seru Dion yang membaca papan pengumuman di bagian depan rumah Pak Samad, yang memuat sebagian kecil data korban berikut keterangan profesinya. Dion tampak semakin takjub dan paham bahwa sampai wartawanpun jadi korban keganasan Jepang saat itu.

“Papa nanti kalo ada artis Jepang kita tinju ya!” cetus anakku Dion tiba tiba. Jhas celetukan anak-anak.
Dia pengemar Power Ranger dan Doraemon yang notabene film seri buatan Jepang. Entah apa yang melintas dalam pikirannya soal tinju itu—apakah nasionalisme atau dendam ala anak-anak—segera Saya menjelaskan bahwa meninju artis Jepang itu bukan tindakan yang baik. Mereka juga tidak tahu dan belum tentu setuju dengan tindakan serta kekejaman tentara Jepang masa lalu.
“Kita datang ke sini untuk belajar sejarah, bukan untuk membuka dendam kepada siapapun,” kata Saya.
Saya lantas kuatir bahwa tujuan utama untuk memberikan informasi sejarah perjuangan Kalbar kepada anak Saya malah menghasilkan perasaan dendam pada benaknya kepada Jepang. Semoga tidak.
Kita memang pantas marah dengan kekejaman Jepang yang menelan satu generasi rakyat Kalbar sejumlah 21.037 jiwa, namun bukan dendam negatif, tetapi memetik nilai-nilai kejuangannya untuk membangun Kalbar secara bersama-sama dengan semangat pluralisme lokal, nasional dan internasional.
Dalam kunjungan ini Saya kuatir jika kemarahan anak anak Saya bertambah dengan penjelasan Saya bahwa hamparan pasir putih di sisi kiri jalan menuju makam 1 adalah akibat pertambangan emas liar dan bahwa sebenarnya kita sendiri kurang menunjukkan kemampuan untuk menghargai pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang terkubur di sini, namun mereka hanya diam saja ... entah apa yang ada di dalam benak mereka.

Dalam beberapa hari ini, masih ada berbagai pertanyaan yang muncul dari anak anak Saya sehubungan dengan Makam Mandor, umumnya minta diceritakan kembali kejadian Mandor, oleh karena itu Saya mendambakan adanya sebuah buku berupa komik yang bercerita tentang Tragedi Mandor dan sejarah perjuangannya, pasti Saya akan jadi pembeli yang pertama untuk anak anakku.
Read More....

Monday, June 30, 2008

Yang Tersisa yang Terabaikan


Jessica Wuysang
Borneo Tribune, Landak

Dahulu ketika kecil, tiap kali melewati kawasan Mandor di kabupaten Landak, orang tua sering menceritakan hal yang sama, yaitu tentang salah satu sejarah terbesar di Kalimantan Barat. Cerita itu tak lain mengenai tragedi berdarah yang terjadi di Mandor. Bahwa di kawasan yang kini ditasbihkan sebagai cagar alam pernah terjadi pembunuhan massal yang memakan korban para raja-raja, keluarga kerajaan, kaum cendekiawan, tokoh masyarakat dan rakyat kecil sebanyak 21.037 orang. Sungguh angka yang fantastik.
Saat itu, seperti kebanyakan anak kecil lainnya, cerita sejarah tak terlalu menarik perhatian. Walhasil kisah yang tak pernah bosan diceritakan oleh orang tua tiap melewati tugu Mandor, hanya berhasil menyisakan sepenggal ingatan bahwa orang Jepang itu kejam. Bahwa orang Jepang itu tidak manusiawi. Bahwa banyak rakyat Kalbar yang hingga kini masih antipati dengan segala sesuatu yang berbau Jepang. Itu dulu, ketika barang-barang elektronik buatan Jepang belum menjadi kawan akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tanggal 28 Juni 2008 kemarin, saya berkesempatan untuk datang ke kawasan Mandor tersebut setelah 20 tahun lalu. Saat turun dari mobil, terlihat para pelayat berduyun-duyun bergegas masuk ke lapangan Monumen Daerah, 30 menit sebelum upacara peringatan Hari Berkabung Daerah. Tampak sekitar 1000 massa saat itu,sebagian besar dari mereka adalah keluarga korban, pelajar dan undangan.
Dari jauh terlihat tugu Monumen yang berhiaskan Garuda Pancasila terpancang dengan gagah di bawah langit biru. Sementara di sisi kiri dan kanan, dua prajurit bersenjata dan karangan bunga terlihat berderet rapi di depan relief yang menggambarkan pembantaian massal tersebut. Menakjubkan sekaligus mengerikan. Bagaimana tidak, relief yang digambarkan dengan detil menunjukkan kronologis tragedi berdarah tersebut. Tak mengherankan jika banyak anak kecil yang berkerumun melihat-lihat relief itu.
“Ini apa sih, pak?”, tanya seorang anak pada ayahnya yang tampak tekun memperhatikan relief tersebut. Wajah sang ayah tampak bingung, tampaknya tak tahu harus menjawab apa. Entahlah, apakah Ia sedang kebingungan menyusun kata atau jangan-jangan tidak tahu menahu tentang tragedi berdarah itu?
Entah kenapa, tragedi berdarah yang terjadi di kawasan Mandor tidak pernah mendapat perhatian khusus dari Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah. Jangankan memasukkan tulisan tentang tragedi Mandor ke dalam kurikulum pelajaran sejarah untuk
sekolah dari jenjang SD hingga SMU di Kalbar, mensosialisasikan tentang Hari Berkabung Daerah (HBD) saja tidak ada sama sekali! Hal ini bisa terlihat dengan tidak adanya pengibaran bendera setengah tiang di berbagai kota, kecuali Kabupaten Landak. “Saya tidak tahu, pemerintah tidak ada mensosialisasikannya di koran,” ujar seorang wanita paruh baya di komplek perumahan TNI AD di Pontianak.
Terbersit sedikit pikiran nakal di dalam kepala, mungkin Pemerintah sudah merasa cukup memberikan perhatian dengan mengirim karangan bunga tanda bela sungkawa dan mendegelasikan sejumlah pejabat untuk menghadiri upacara yang dipimpin oleh Sekda Kalbar, Drs H Syakirman. Saat itu, keberadaan Beliau di Tugu Monumen Daerah untuk mewakili Gubernur yang ke Kapuas Hulu dan Wagub yang ke Jambi, sementara Bupati Landak berada di Yogyakarta. Waduh, sebegitu sibuknya kah hingga para pemimpin daerah tidak bisa meluangkan sedikit waktu untuk menunjukkan rasa empati pada sejumlah ahli waris yang telah bela-belain datang dari Pontianak untuk melayat.
Tanpa menafikan upacara yang berlangsung khusuk yang berlangsung selama 30 menit dan dilanjutkan dengan penempatan karangan bunga serta ziarah ke 10 makam massal. Rasanya kasihan sekali melihat sejumlah ahli waris yang tampak khusuk mengikuti upacara di bawah teriknya matahari. Salah satu ahli waris yang diwakili oleh Drs. Gusti Suryansyah, M.Si menyayangkan ketidak hadiran Gubernur atau Wakil Gubernur. Menurutnya, acara Hari Berkabung Daerah ini sangat penting sehingga seharusnya acara yang lain bisa diatur mundur atau dipercepat. Teorinya sih begitu, tapi tampaknya sangat sulit untuk diaplikasikan oleh mereka.
Tampaknya, para pemimpin daerah harus menoleh sejenak ke belakang. Melihat kembali tapak tilas yang dilakukan oleh Gubernur Kadarusno yang mau menunjukkan kepedulian dengan meresmikan Monumen Makam Juang Mandor pada tanggal 28 Juni 1977. Tak hanya itu, beliau tak pernah mengenal lelah untuk mensosialisasikan sejarah tragedi berdarah tersebut.
Satu yang harus kita renungkan, bahwa sejarah ini bukan hanya milik rakyat Kalimantan Barat, tetapi juga milik rakyat Indonesia. Mengapa? Karena korban yang berjatuhan pada 64 tahun yang lalu, sebagian besar mewakili etnik yang ada di Indonesia. Sebut saja Melayu, Dayak, Minahasa, Batak, Jawa bahkan Tionghoa. Beragam etnik yang terlihat dari keberagaman warna kulit, suku dan agama di Mandor menunjukkan duka yang tak pernah terpulihkan.Mungkin duka ini hanya dimiliki oleh sejumlah ahli waris yang merasakan pahitnya ditinggalkan keluarganya. Mungkin hanya ahli waris saja yang perlu berkabung atas malapetaka yang ditimbulkan oleh tentara pendudukan Jepang tahun 1942 – 1945. Karena realita yang terlihat, sama sekali tidak terlihat kepedulian yang ditunjukkan oleh pemerintah daerah dalam tragedi Mandor. Hal ini bisa terlihat dari spanduk-spanduk yang bergelimpangan begitu saja di area Kawasan Makam Mandor, hari Sabtu (28/6), tampaknya ‘lupa’ untuk dirapikan.
Read More....

Mempertanyakan Bantuan Jepang untuk Mandor


Tantra Nur Andi
Borneo Tribune, Pontianak

Juru kunci makam juang Mandor, Abdussamad Ahmad yang kini berusia 72 tahun usai peringatan Hari Berkabung Daerah, Sabtu (28/6) mempertanyakan pada pemerintah ke mana bantuan yang pernah diberikan pemerintah Jepang beberapa tahun yang lalu yang besarnya Rp100 miliar untuk pembangunan Rumah Sakit Mandor.
“Saya waktu itu membuat proposal permintaan pertanggungjawaban dari pemerintah Jepang dan pemerintah Jepang sempat berjanji akan memberikan bantuan pendirian Rumah Sakit Mandor,” katanya.
Sekitar tahun 1990-an, dirinya pernah mendengar pemerintah Jepang telah memberikan bantuan dana sebesar Rp100 miliar untuk pendirian rumah sakit Mandor. Tapi oleh Gubernur Aspar Aswin dana tersebut justru digunakan untuk membeli alat-alat kesehatan bagi seluruh rumah sakit di Kalbar. Waktu itu, lanjutnya, Dr Subuh yang tahu persis dana tersebut. Karena Dr Subuh sebagai pejabat di Kanwil bagian penanganan bantuan luar negeri.
”Saya minta pada Dr Subuh yang saat ini menjadi Kepala RSUD Soedarso untuk memberikan transparansi penggunaan bantuan tersebut,” pintanya.
Ia meminta pemerintah merehabilitasi monumen dan makam-makam juang di Mandor. ”Buktikan jika bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” kata dia.
Bagi generasi muda, ia berharap peringatan hari berkabung daerah bukan hanya sekadar diperingati sebagai hari bersejarah saja yang hanya mengingat sejarah. Tapi sejarah ini harus dipelajari oleh generasi muda agar para generasi muda dapat menanamkan nilai-nilai kepahlawanan para pahlawan dalam diri mereka.
”Tanamkanlah semangat kepahlawanan untuk membangun bangsa ini,” harapnya.
Uca Suherman, mantan Kepala Pukesmas Mandor membenarkan pernyataan Abdussamad. Ia mengatakan dirinya bersama Abdussamad yang membuat proposal dan dikirim ke Kedubes Jepang agar pemerintah Jepang bertanggungjawab terhadap tragedi Mandor. Tapi ketika pemerintah Jepang mau bertanggungjawab dengan memberikan bantuan dana pendirian rumah sakit di Mandor justru pemerintah Kalbar yang menyalahgunakan dana tersebut. Bahkan ia mengakui dirinya tidak pernah melihat uang bantuan dari Jepang tersebut. Padahal saat ini ia betul-betul memperjuangkan bantuan dari pemerintah Jepang sementara pemerintah Kalbar tidak terlalu banyak berbuat bahkan terkesan tidak mengurus masalah Mandor.
Melihat kondisi Makam Mandor saat ini, Uca sangat prihatin, karena sampai sekarang daerah di sekitar makam yang telah gundul akibat PETI belum juga direhabilitasi. ”Bagaimana ingin menghargai jasa para pahlawan jika makam pahlawan saja digali sebagai lahan tambang emas. Akibat penggalian emas di sini banyak tengkorak para pahlawan dibuang begitu saja oleh para penambang,” ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat Kalbar untuk kembalilah pada jati diri bangsa yang punya adat istiadat dan bermartabat. ”Apa kata dunia jika anak bangsa justru menghancurkan makam pahlawannya. Untuk para ahli waris, karena mereka hanya memiliki kekuatan suara bukan kekuatan kekuasaan maka para ahli waris ini harus terus memperjuangkan agar pemerintah peduli pada kondisi makam dan nasib para ahli waris,” ungkapnya.■
Read More....

KNPI Dukung Pemerintah Seriusi Mandor


Andry
Borneo Tribune, Pontianak

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Kalimantan Barat, Adi Cahyono, SH mengatakan pemerintah semestinya sungguh-sungguh memperhatikan persoalan Mandor.
Bagaimana pun juga para korban peristiwa Mandor itu merupakan leluhur atau nenek moyang para generasi penerus bangsa yang ada hingga sekarang. Dan mereka semua rela berjuang demi bangsa ini. ”Kita minta pemerintah tidak main-main dalam memperhatikan persoalan Mandor,” harap Adi.
Kata Adi, semenjak lahirnya payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah (HBD) Provinsi Kalimantan Barat, tentu pemerintah harus lebih fokus dan lebih perhatian lagi terhadap situs cagar budaya ini.
Sehingga kawasan yang merupakan cagar budaya dan Monumen Daerah Mandor ini bisa terus lestari dan terjaga sebagai suatu sejarah bagi generasi penerus bangsa. “Kita berharap bahwa hari berkabung daerah ini bisa menjadi momentum untuk menambah energi dalam semangat kita membangun daerah ini. Karena kita bangsa pejuang dan juga merupakan keturunan-keturunan dari para pejuang,” suara Adi terdengar berkobar.
Sejauh ini, kata dia, amanah Perda No.5/2007 yang menyebutkan agar sejarah perjuangan Mandor ini dapat dirangkum dalam bentuk tulisan maupun suatu kompilasi ilmiah. Namun sayang hingga kini hal itu belum terwujud.
Karenanya, Ketua KNPI Provinsi Kalimantan Barat ini menegaskan pemerintah segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkati, agar memperoleh data yang valid serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sehingga cita-cita untuk melahirkan buku yang objektif dan ilmiah bagi generasi penerus bangsa untuk mengetahui sejarah Mandor dapat segera terealisasi.
Menurutnya, sejauh ini banyak versi tentang peristiwa Mandor yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Sehingga hal itu terkesan membingungkan masyarakat untuk memahami secara utuh tentang sejarah pergerakan nasional di Mandor kala itu.
“Tentunya kita berharap akan mempunyai kesimpulan final terhadap peristiwa berdarah yang terjadi di Mandor. Baik dari segi data korban maupun fakta yang terjadi kala itu. Kita berharap Mandor dapat menjadi salah satu daerah perjuangan di Kalimantan Barat,” ujarnya panjang lebar.
Selaku Ketua KNPI Provinsi Kalimantan Barat, Adi Cahyono berjanji akan memperjuangkan beragam perjuangan terkait peristiwa Mandor. Apakah perjuangan itu dalam bentuk mendesak pemerintah Japang untuk memohon maaf secara resmi terhadap pemerintah republik Indonesia terkait kebiadaban mereka, maupun bentuk perjuangan yang lainnya.
“Artinya, KNPI senantiasa berjuang bersama-sama masyarakat dan rakyat Indonesia untuk memperjuangkan peristiwa Mandor. Bagaimana pun juga ini merupakan bentuk tanggungjawab kita terhadap perjuangan yang telah dilakukan para leluhur kita dalam melawan penjajah,”pungkasnya.
Read More....

Memaknai Hari Berkabung Daerah

Banyak yang Tak Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Andika Lay
Borneo Tribune, Pontianak

Instruksi Gubernur Kalbar instansi vertikal, pemerintah daerah, lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, BUMN dan BUMD, swasta serta di setiap rumah penduduk di wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama satu hari, pada tanggal 28 Juni 2008 ternyata semua warga maupun perkantoran menjalaninnya.
Berdasarkan pantauan, Borneo Tribune di beberapa lokasi di Kota Pontianak, Sabtu (28/6) pukul 09.00 Wib masih banyak ditemukan tidak seragam warga mengibarkan bendera setengah tiang di berbagai kantor instansi pemerintah maupun swasta dan pemukiman warga.
Hanya sebagian sebagai Kantor Pemerintahan maupun swasta dan pemukiman warga yang mengibarkan bendera setengah tiang. Tampak pantauan kami kantor-kantor yang mengibarkan bendera setengah tiang, gedung DPRD Prov, Kantor Gebernur, Kantor BPK RI Perwakilan kalbar, Pendopo Gubernur, Kantor Kependudukan dan Capil, Mapolsekta Pontianak Timur dan beberapa kantor lainnya. Sejumlah kantor instansi pemerintah, instansi vertikal dan perumahan masyarakat terlihat tidak mengibarkan bendera setengah tiang dan ada satu tiang penuh.
Seperti diketahui, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah (HBD) Provinsi Kalimantan Barat, Bab IV pasal 5 menetapkan Mandor sebagai Hari Berkabung Daerah yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya dengan kegiatan-kegiatan yang merenungkan dan memaknai kejuangan nasional tersebut.
Oleh karena itu, Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH melalui Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Drs.H Syakirman menginstruksikan kepada instansi vertikal, pemerintah daerah, lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, BUMN dan BUMD, swasta serta di setiap rumah penduduk di wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama satu hari pada tanggal 28 Juni 2008. Hari Berkabung Daerah atas tragedi mandor ini masih kurang sosialisasi untuk memaknainya.
Read More....

Pengakuan Veteran Atas Tragedi Mandor


Kepala Terkulai di Truk Jepang

Johan Wahyudi
Borneo Tribune, Mempawah

Raut wajahnya dipenuhi kerutan. Kulitnya sawo matang, terbakar sinar matahari. Kasim, (88 tahun) warga Dusun Parit Banjar, Desa Sungai Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Hilir merupakan veteran yang hingga kini masih aktif mengurus kebun miliknya.

Saat ditemui kediamannya, Tok Su Kasim panggilan sehari-harinya, Sabtu (28/6), kemarin terlihat sedang asik memperbaiki ban sepeda tuanya yang mengalami kerusakan. Di dalam rumah ada istri yang sedang memasak menggunakan api tungku, sedangkan anak perempuannya sedang membersihkan rumah.

“Apa kabar tok?” Saya menyapa.
“Baik-baik saja, cuma badan sudah tidak kuat lagi. Tapi untuk membersihkan rumput di kebun masih bisalah, apalagi mata ini agak rabun,” akunya sambil tertawa ringan.

Dan ketika saya, menanyakan kenang-kenanganya pada masa penjajahan ia berusaha mengenang masa lalunya. “Saya sangat sakit hati dengan penjajah, mendengar cerita ibu saya, tentang kekejaman penjajah. Dan orang tua saya pergi dari Banjar hanya menggunakan sampan untuk menyelamatkan diri,” ceritanya dimana pada saat itu ia masih kecil, bahkan ia sendiri tidak sempat mengenal wajah orang tuanya.

Di usia 17 tahun, dia sempat masuk dalam pasukan pemberontak penajajah Belanda. Selama masuk pasukan pemberontak berbulan-bulan ia bersama teman-temanya tinggal di dalam hutan. Di mana mereka memiliki tugas merusak infrastruktur jalan seperti jembatan untuk menghalangi perjalanan tentara Belanda.

“Kami sempat merobohkan jembatan di Karangan, karena kami mendapat informasi tentara Belanda akan menyerang daerah hulu. Dan selama di dalam hutan kami juga disuplai obat-obatan yang dibantu oleh Dr. Rubini, terutama obat malaria,” katanya.
Dan menurut ingatannya, Jepang mulai mendarat di Kalbar sekitar tahun 1942 dan menjajah Indonesia selama 3 tahun 8 bulan.
Kedatangan Jepang bertujuan mengusir Belanda dari Indonesia. Untuk itu, dirinya sempat mengikuti latihan angkatan perang yang dibentuk tentara Jepang yaitu Kaigun Heiho yang beranggotakan warga pribumi. Bahkan kedatangan tentara Jepang sempat disambut gembira, karena berharap Indonesia terlepas dari penderitaan yang dialami di masa penjajahan Belanda.
“Saya sempat dilatih menjadi tentara pembela tanah air yang dibernama Kaigun Heiho. Di mana kami dikumpulkan di sebuah gereja di Kota Singkawang, di mana seluruh kesehatan tubuh kami diperiksa. Dan di sanalah saya dilatih tentara Jepang menggunakan senapang, membuat granat dan teknik-teknik perang lainnya,” ucapnya.
Dikonfirmasi mengenai terjadinya penangkapan dan pembantain tokoh-tokoh masyarakat Kalbar, Ia menjelaskan karena Jepang mengetahui akan adanya pemberontakan yang dilakukan masyarakat Kalbar yang bertujuan melepaskan diri dari ikatan penjajah. Maka Jepang langsung melakukan penangkapan, terhadap para tokoh-tokoh yang dianggap menjadi otak pemberontakan tersebut.
“Karena Jepang mengetahui akan adanya pemberontakan. Maka para tokoh masyarakat dan pemuda kita ditangkap dan dibawa ke Mandor, lalu dipancung. Dan saya sempat melihat iringan mobil truk Jepang membawa korban. Karena pada saat mereka lewat terpal penutup bak truk tersingkap, sehingga tampak kepala seseorang terkulai bersandar di bak,” katanya.
Sedangkan ditetapkannya tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah (HBD) oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, terhadap peristiwa pembantaian puluhan ribu masyarakat Kalbar di Mandor yang merupakan bukti sejarah keganasan penjajah Jepang yang tak terlupakan, pria yang rambutya telah memutih ini memberikan pujian.
“Yang masih saya ingat hanya kenang-kenangan pada masa penjajah dulu yang tidak bisa dilupakan,” katanya.
Read More....

3.080 Ha Cagar Alam Mandor Separuhnya Rusak Berat


Nur Iskandar
Borneo Tribune, Mandor

Upacara Hari Berkabung Daerah (HBD) berlangsung khidmat, Sabtu dua hari lalu. Tapi, tak banyak yang berubah dari tata cara pelaksanaan hari duka bagi warga Kalbar tersebut. Ceremonial berlangsung datar-datar saja. Bahkan tahun ini jauh lebih singkat lantaran tak ada sambutan dari Gubernur dan tak ada dialog antara pelaku sejarah dengan para pelajar/mahasiswa. Semua datar-datar saja.
Yang istimewa justru lokasi makam. Lokasi yang amat bersejarah sehingga oleh Perda No 5 Tahun 2007 status Makam Juang Mandor telah berubah menjadi Monumen Daerah semakin panas akibat pepohonan yang rimbun kian musnah ditebang. Tanahnya digerus untuk mencari emas lewat aktivitas penambangan.
Syaiful Doman, aparat Trantib Kecamatan Mandor mengakui luas areal cagar alam Mandor seluas 3.080 hektar. “Sebagiannya kini sudah rusak akibat penambangan emas,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Camat seusai upacara.
Kata Syaiful, kondisi tersebut sangat disayangkan karena Mandor merupakan aset yang sangat berharga bagi Kalbar. “Sesungguhnya Mandor adalah Kalbar,” ungkapnya.
Betapa tidak. Di lokasi cagar alam yang terdapat Monumen Daerah Mandor terbaring 21.037 jiwa rakyat Kalbar. Mereka multietnis. Ada Melayu, Dayak, Tionghoa, Batak, Manado, Jawa dll. “Bukan cuma Kalbar, tapi nasional,” imbuhnya.
Hal senada dilaporkan Antara. "Kami sudah beberapa kali mengajukan surat atau keluhan kepada pemerintah agar secepat mungkin menertibkan PETI dan pembalakan liar di kawasan makam, tetapi hingga kini belum ada tindakan. Pemerintah baru sibuk ketika akan memperingati hari ziarah setiap tanggal 28 Juni," kata Penjaga Makam Juang Mandor, Abdus Samad.

Ia mengatakan, para penambang emas dan penebang kayu secara liar, melakukan aktivitas ketika situasi kondusif, dalam artian ketika masyarakat, penjaga makam maupun perhatian publik tidak ke Makam Juang Mandor.

"Mereka melakukan aktivitasnya ketika kita semua lengah, ketika dilakukan razia aktivitas ilegal secara spontan hilang, tetapi begitu sudah reda mereka kembali melakukan aktivitasnya," katanya.

Sementara itu ahli waris dan Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Kalimantan Barat (Kalbar) Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, menilai Pemprov Kalbar masih kurang memberikan perhatian terhadap makam Juang Mandor tersebut.

"Kita melihat perhatian Pemprov Kalbar dan Pusat terhadap Makam Juang Mandor masih kurang. Itu bisa dilihat dengan banyaknya praktek PETI dan pembalakan hutan secara liar yang jumlahnya puluhan di sekitar kompleks makam itu," katanya.

Akibat perbuatan orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut, lokasi Makam Juang Mandor semakin terancam. Sehingga kalau tidak mulai dari sekarang ditertibkan maka tidak menutup kemungkinan tinggal kenangan saja.

Ia mengatakan, dalam Tragedi Mandor sekitar tahun 1942-1945, Kalbar hampir kehilangan satu generasi. Korban tewas adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan/Sultan dan Pangeran serta cendikiawan dan masyarakat pejuang lintas agama multi etnis.

"Kita dari tahun ke tahun mengingatkan pemerintah agar lebih memperhatikan kondisi Makam Juang Mandor akibat aktivitas PETI yang semakin hari semakin merajalela. Apakah mau sejarah mengenai tragedi berdarah tersebut hilang hanya gara-gara PETI?" katanya setengah bertanya.

Budayawan HA Halim Ramli pun tampak trenyuh melihat padang pasir yang terhampar luas di lokasi makam. Pria yang di masa mudanya, tahun 1976-1977 mereportase bahkan turut mengangkut tengkorak-tengkorak para korban Jepang untuk dimakamkan di pemakaman massal mengaku prihatin.
“Dulu tengkorak-tengkorak berserakan di lokasi-lokasi ini. Saya yakin masih banyak belum ditemukan dan oleh akibat penambangan emas tanpa izin (PETI) ada tengkorak-tengkorak yang ditemukan tapi tidak dilaporkan. Begitu dapat langsung ditanam di lokasi penggalian,” ujarnya dengan raut wajah prihatin.
Evi Yusmayadi pimpinan LSM Serimpi mengaku berjuang melawan PETI tersebut. Bekerjasama dengan Dian Tama mereka beruapaya menanami kembali daerah PETI yang ditinggalkan. “Sebaiknya HBD diperingati dengan penanaman pohon ketibang hanya sekedar tabur bunga,” usul sarjana alumni ABA yang skripsinya tentang Tragedi Mandor tersebut. Menurut Evi, lembaganya sudah bekerjasama dengan mahasiswa dari Jepang. “Ada komitmen Jepang membantu penanaman kembali daerah berpasir bekas PETI,” ungkapnya.
Read More....

Gubernur Cornelis Juga Keluarga Korban Mandor


Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak

Frans Anes muncul di Harian Borneo Tribune. Dia tertarik dengan upaya Tribune Institute menguak secara lengkap tragedi kemanusiaan “Mandor” di mana di Monumen Daerah Mandor terkubur puluhan ribu jiwa anak negeri sebagai korban dari penjajahan Jepang 1942-1945.
Sepupu Gubernur Cornelis ini mengatakan, pamannya Panglima Sidong tewas di tangan Dai Nippon dalam aksi-aksi mereka menculik para tokoh masyarakat yang dinilai berbahaya bagi eksistensi “saudara tua” menguasai Kalbar.
Kisah tragis yang diderita keluarga menurut Frans Anes diceritakan langsung oleh orang tuanya, Baso. “Ayah saya selalu menceritakan kepedihan keluarga saat penjajahan Jepang,” ungkapnya.
Ayahnya yang adik langsung dari Panglima Sidong beruntung tidak disungkup Jepang karena pendiam dan menangis tersedu-sedu. “Jepang menilainya sebagai orang yang lemah,” kata dia.
Sebaliknya, Panglima Sidong melakukan perlawanan. Panglima Sidong tak mau bertekuk lutut kepada Dai Nippon Jepang karena dia mempunyai olah kanuragan yang tinggi. Oleh karena itu dia melawan dengan kata-kata dan tindakan secara langsung.
“Saat itu juga Jepang yang memang sudah bengis itu menangkap Panglima Sidong. Tubuhnya dihajar, tapi tak mempan karena kebal,” cerita Frans Anes mengenang kisah dari ayahnya.
Karena dipukul bertubi-tubi Panglima Sidong tak bergeming, maka lehernya dicekik, bahkan diikat dengan tali. “Masih tidak mempan, Panglima Sidong ditarik dengan mobil sehingga kuat tali mencekik lehernya.”
Nyawa masih tak mau lepas dari raga Panglima Sidong, akhirnya dia dibunuh secara sadis dengan potongan besi yang membara yang ditusukkan dari bokongnya.
Panglima Sidong dari Dusun Rabak merupakan kerabat dari Maria, ibunda Cornelis. “Kami termasuk keluarga korban Mandor,” ujarnya.
Frans merekomendasikan nama Alif Sidong di Senakin yang dikatakannya banyak mengetahui sejarah kekejian Jepang terkait Tragedi Mandor. “Jika ditelusuri lebih lanjut, sejarahnya akan sambung menyambung sampai kepada perjuangan Pangsuma di Meliau,” tambahnya.
Di tempat terpisah, Kepala Kantor Pariwisata Kota Pontianak, Drs Sugeng Hardjo Subandi turut menyikapi Hari Berkabung Daerah (HBD) yang diperingati setiap 28 Juni. Katanya, saat dia menjadi mahasiswa APDN, turut terlibat mengangkut tulang-belulang yang berserakan di Mandor.
“Kami diangkut Gubernur Kadarusno untuk bergotong royong bersama militer dan masyarakat untuk menguburkan kerangka-kerangka itu secara lebih manusiawi,” ujarnya mengenang masa 1977.
Terkait dengan saksi sejarah, Sugeng menceritakan saat dia bertugas di Tayan selaku camat. “Selama delapan tahun saya bertugas di sana. Saya mengenal tokoh bernama Maengkri. Beliau salah seorang korban Jepang yang selamat dari pembantaian secara massal,” ungkapnya.
Maengkri kata Sugeng, selamat dari berondongan peluru yang membabi-buta yang dilakukan pada tengah malam di Mandor. Maengkri berpura-pura menggelepar bersama tubuh-tubuh lain yang terkoyak-moyak oleh peluru.
“Saat malam semakin larut. Kira-kira pukul dua dini hari, Pak Maengkri perlahan-lahan keluar dari lokasi genosida tersebut. Selama dua hari dua malam Maengkri bersembunyi di hutan dan makan pucuk-pucuk daun. Selanjutnya Beliau dapat kembali ke Tayan,” tambahnya mengenang kisah yang dituturkan langsung oleh Maengkri.Sugeng berusaha untuk mencari kabar, apakah saat ini Maengkri masih hidup atau sudah tiada. “Jika Beliau masih hidup, beliau bisa menceritakan bagaimana kondisi pembunuhan langsung yang dilakukan Jepang di Mandor,” imbuhnya.
Read More....

Peziarah Datang dari Jakarta dan Hongkong


Isak Tangis dan Haru di Makam 10

Jessica Wuysang
Borneo Tribune, Pontianak

Ziarah di Hari Berkabung Daerah, Sabtu (28/6) berlangsung istimewa. Keluarga korban dari Jakarta turut mengikuti upacara.
Chai Min Fa duduk bersimpuh memeluk sebuah frame foto dengan tampilan wajah ayahnya Alm. Chai Chon Bong yang tewas 64 tahun yang lalu saat pembantaian tentara Jepang. Ketika itu Chai Min Fa masih berumur 5 tahun saat ayahanda tercinta dijemput paksa oleh tentara Jepang di kediamannya.
Chai Min Fa tidak datang sendiri. Dia membawa anggota keluarganya secara khusus untuk mengikuti upacara HBD.
“Saya tidak akan pernah mau menginjakkan kaki di Jepang!” ujar Chai Min Fa dengan mata basah oleh air mata ketika ditemui di Makam ke-10 Mandor, hari Sabtu (28/6). Ia masih tersedu dengan diiringi pula dengan derai air mata serta suara tertahan di dada oleh istri dan anak-anaknya. Ia sengaja datang dari Jakarta sekeluarga untuk mengikuti upacara Hari Berkabung Daerah.
Memori tentang penjemputan secara paksa yang dilakukan masih membekas hingga kini dan tak akan pernah terlupakan olehnya. Hal itu sangat jelas terlihat ketika Beliau menangis tersedu-sedu saat memeluk foto sang ayah.
Tak ayal para pengunjung yang kebanyakan adalah wanita turut menitikkan air mata. Seakan dapat merasakan hal yang sama.
Syarif Simon Alkadrie, putra dari Ratu Perbu atau keponakan dari Sultan Hamid II juga tak urung menahan tangis. “Bagi kami, tragedi Jepang memang pilu,” bisiknya.
Tak hanya Chai Min Fa yang terpukul saat melihat foto sang ayah yang terpajang rapi bersama puluhan foto lain di Makam ke-10 Mandor. Saat itu terlihat beberapa lelaki dan wanita tua yang menangis di depan sebuah foto yang diakui sebagai ayah, ibu, paman, bibi atau buyut.
Beragam reaksi ketika ditanyakan apakah mereka masih merasakan dendam pada Jepang karena telah merenggut orang-orang tercinta, bagian dari dirinya.
Ada yang menjawab dengan tulus bahwa Ia memaafkan dan sama sekali tak terbersit rasa dendam sedikit pun. Tapi ada juga yang menjawab dengan nada keras bahwa Ia sangat membenci, bahkan sama sekali tidak mau menonton film-film buatan Jepang. Terdengar aneh tapi sangat bisa dimaklumi.
“Saya sampai sekarang tak bisa menonton film Jepang. Ibunda saya Ratu Perbu setiap ditayangkan film seri Oshin di televisi langsung minta dimatikan,” imbuh pria yang akrab disapa Om Simon.
Bayangkan betapa menyedihkan perasaan yang harus dialami oleh para korban Mandor, dari sejak ditangkap Jepang sampai pada hari ini. Awalnya saat mulai ditangkapi Jepang, sebagian besar orang yang takut terimbas dan ikut ditangkap saat itu berpura pura tidak mengenal dan bahkan menganggap bahwa yang ditangkap Jepang itu memang pesakitan yang bersalah dan pantas di hukum.
Setelah dibawa ke Mandor, mereka di kurung di areal yang sekarang adalah pemakaman Mandor. Para penjuang yang ditangkap ditempatkan di penjara alam yang di pagari kawat berduri dan dijaga tentara Dai Nippon.
Makam Juang Mandor kini telah menjadi Monumen Daerah Mandor sesuai Perda No 5 Tahun 2007 memang merupakan situs Sejarah Perjuangan yang sangat penting artinya bagi seluruh rakyat Kalimantan Barat. Bagaimana tidak, di atas tanah ini terkubur 21.037 jiwa yang secara kejam di bunuh oleh Jepang yang saat itu begitu terobsesi untuk mengubah generasi muda Kalbar pada masa itu menjadi Jepang. Serta merta, perasaan bergidik menyelimuti diri ketika harus menyaksikan 10 makam yang tersebar di area Mandor. Tak mengherankan jika tragedi ini teramat membekas di hati para ahli waris.
Upacara pada 28 Juni kemarin diikuti sekitar 1000 massa. Mereka sebagian besar keluarga korban, pelajar dan undangan.
Bertindak selaku inspektur upacara, Sekda Kalbar, Drs H Syakirman mewakili Gubernur yang ke Kapuas Hulu dan Wagub yang ke Jambi. Sementara itu Bupati Landak sedang di Jogja diwakili Sekda.
Upacara berlangsung khusuk dsejak pukul 09.00 dan berakhir 09.30 dan dilanjutkan dengan penempatan karangan bunga serta ziarah ke 10 makam massal.
Tampak hadir keluarga keraton antara lain Dr Mardan Adijaya, Drs Gusti Suryansyah, M.Si, Ketua MABM H Abang Imien Thaha, Ketua MABT Erick S Martio, tokoh masyarakat seperti Santyoso, Andreas Acui Simanjaya dan para kepala-kepala dinas.
Gusti Suryansyah menyayangkan ketidak hadiran Gubernur atau Wakil Gubernur. Menurutnya, acara HBD ini sangat penting sehingga acara yang lain bisa diatur mundur atau dipercepat.
“Kita berharap tahun depan bisa lebih baik,” imbuhnya.
Chai Min Fa juga berharap demikian. Katanya, ““Tahun depan, 30 keluarga kami akan ke upacara HBD di Mandor datang dari Hongkong. Memang saat tragedi Jepang meledak, sebagian mengungsi ke Jakarta sebagian kembali ke Hongkong. Kami anak-anak dan cucu-cucu korban kekejaman Jepang saat itu,” ungkap Chai Min Fa.
Read More....

Friday, June 27, 2008

Korban Mandor dalam Berbagai Deraan dan Cobaan


Andreas Acui Simanjaya/Freelancer
Borneo Tribune, Pontianak

Makam Juang Mandor (kini menjadi Monumen Daerah Mandor sesuai Perda No 5 Tahun 2007, red) memang merupakan situs Sejarah Perjuangan yang penting artinya bagi seluruh rakyat Kalimantan Barat. Di sinilah terkubur 21.037 jiwa yang secara kejam di bunuh oleh Jepang yang ingin mengubah generasi muda Kalbar pada masa itu menjadi Jepang.

Keberadaan situs sejarah perjuangan ini merupakan juga ironi bagi pemahaman kehidupan berkebangsaan dan kemampuan memahami, menghargai sejarah/jasa perjuangan yang telah diberikan oleh para korban Mandor ini.

Bayangkan betapa berbagai nestapa yang harus dialami oleh para korban Mandor dari sejak ditangkap Jepang sampai detik ini. Awalnya saat mulai ditangkapi Jepang, sebagian besar orang yang takut terimbas dan ikut ditangkap saat itu berpura pura tidak mengenal dan bahkan menganggap bahwa yang ditangkap Jepang itu memang pesakitan yang bersalah dan pantas di hukum.
Setelah dibawa ke Mandor, mereka di kurung di areal yang sekarang adalah pemakaman Mandor. Para penjuang yang ditangkap ditempatkan di penjara alam yang di pagari kawat berduri dan dijaga tentara Dai Nippon.
Saya masih menemukan bekas kawat berduri yang dipakai sebagai pagar batas penjara alam tersebut. Memang kualitas kawat duri jaman dahulu memang lebih baik mutunya sehingga sebagian masih bertahan di lingkungan penjara alam itu.
Di penjara alam itu sudah dipastikan penderitaan tak terperi akan dialami oleh para tahanan di situ. Sengatan sinar matahari dan dinginnya udara malam. Belum lagi jika hujan, tentu akan sangat menyiksa. Selain itu masih ada serangan penghuni hutan misalnya nyamuk dan lintah serta kemungkinan adanya berbagai binatang berbisa.
Saya saja yang hanya beberapa jam di situs pemakaman ini sudah bentol bentol digigit nyamuk hutan yang keganasannya lebih daripada nyamuk rumahan.
Selama di “Penjara Alam Mandor” ini mereka dipaksa untuk melakukan upacara setiap pagi menghadap matahari sesuai agama dan kepercayaan Jepang yang meyakini bahwa rajanya adalah keturunan dewa matahari, di mana banyak tahanan yang dipukuli dan bahkan dipancung karena tidak melakukan ritual menghadap matahari dengan benar. Tentu saja banyak kesalahan yang mereka lakukan karena kondisi badan yang tidak sehat akibat perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman ke tengah hutan Mandor yang tidak ramah. Selain itu juga ada yang tidak mau meyembah matahari karena keyakinan Agama.
Di bekas areal upacara yang berupa lapangan terbuka, beberapa tahun yang lalu masih dapat ditemukan beberapa bilah pedang samurai yang patah, karena dipakai untuk memancung orang yang tidak melakukan / tidak mau melakukan penghormatan matahari dengan benar.
Mereka diwajibkan kerja paksa untuk membangun dan memperluas Areal penjara Alam di Mandor, kemudian juga menggali lubang lubang besar yang sebenarnya diperuntukkan mengubur mereka sendiri kelak.
Kerja fisik yang keras dengan tunjangan pangan yang tak tentu, keadaan alam yang tidak ramah, siksaan fisik dan mental dari tentara Jepang pada saat itu tentu merupakan siksaan yang luar biasa tak terperikan bagi semua yang terkurung di areal Mandor ini.
Dari cerita orang orang tua yang tahu kejadian pada masa itu, dikatakan bahwa tawanan yang mau dieksekusi ditutup kepalanya, matanya, kemudian disuruh berlutut, berjejer di tepi lubang besar yang telah digali sebelumnya, di barisan belakangnya tawanan yang lain dipaksa untuk memancungnya, demikian selanjutnya sehingga lubang penuh dan tawanan yang tersisa disuruh mengubur mayat yang menumpuk dalam lubang tersebut. Ternyata kejahatan perang seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara lain juga terjadi kekejaman yang sama dan saat ini dokumentasi kejadian ini sudah dapat diakses di internet.
Setelah Jepang penyerah karena perjuangan bangsa Indonesia dan kota Nagasaki & Hiroshima dijatuhi bom atom oleh Amerika, situs pemakaman ini sempat dilupakan. Kemudian Gubernur Kadarusno pada masa pemerintahannya cukup memberikan perhatian terhadap Makam Mandor sehingga keberadaan areal ini mulai terkuak dan diketahui masyarakat. Namun hanya sebatas itu saja, tidak ada perkembangan yang berarti sampai saat ini yang menunjukkan bahwa bangsa kita sebagai bangsa yang dapat menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawannya.
Beberapa tahun yang lalu areal pemakaman ini digerus oleh kegiatan tambang emas tanpa izin (PETI) yang sampai mendekati areal lubang makam.
Berbagai upaya dilakukan oleh Bapak Samad, sang penjaga makam untuk mengusir mereka, sampai karena sudah hilang kesabaran dan akal Beliau bertelanjang bulat dan menghunus parang panjang mengejar para penambang liar tersebut. Berhasil.
Namun kegiatan PETI ini terus berlangsung, sampai tahun lalu sekitar bulan Nopember kebetulan saat saya berkunjung ke Mandor, saya melihat para pekerja PETI memindahkan mesin dompeng dan berbagai peralatan lainnya ke lokasi yang lebih jauh, rupanya mereka memutuskan pindah areal operasi karena emas yang didapatkan tidak banyak lagi.
Lega juga mengetahui kegiatan pertambangan liar ini terhenti, namun hamparan pasir putih yang luas bagaikan lautan tidak akan bisa menumbuhkan apapun di atasnya. Hamparan pasir putih yang menghampar bagai lautan ini menunjukkan betapa hitam dan kotornya hati manusia yang serakah dan haus harta, mengabaikan keberadaan dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang mati mengenaskan dan terkubur di sini. Tanggal 24 Juni 2008 saya datang ke Monumen Mandor ini dan membawa anak anak saya, agar mereka tahu sejarah perjuangan bangsanya di Kalimantan Barat khususnya. Kami berkeliling dan berhenti di setiap lubang pemakaman massal sambil saya bercerita tentang apa yang terjadi pada masa itu.
Anak anak saya yang semuanya masih berumur di bawa 10 tahun takjub mendengarkan dan mengamati gambar diorama yang ada yang mengambarkan sekilas tentang kekejaman Jepang dan peristiwa Mandor. Saya membayangkan jika para orang tua yang lain melakukan hal seperti ini, anak-anak mereka juga menjadi tahu bahwa Kalbar juga ada perjuangan nasional merebut kemerdekaan dari penjajahan.
Terik dan panas matahari tidak lagi mereka rasakan, keinginan untuk tahu lebih banyak tercermin dari bahasa tubuh dan tatap mata mereka. Saat mencapai makam 10 yaitu makam terakhir dan merupakan makam para raja yang terbunuh saat itu, kami sepakat untuk masuk areal hutan yang terdapat di belakang makam 10.
Tahun lalu saya sempat masuk di hutan ini bersama beberapa wartawan, saya ingin menunjukkan kepada mereka—dan kini anak-anak saya—ada kawat berduri bekas pagar penjara alam yang masih tersisa, sisa peninggalan Jepang. Masih asli.
Namun dalam 30 langkah memasuki hutan di belakang makam 10, kami mendengar suara dengungan mesin chainsaw (gergaji mesin) memecah kesunyian hutan. 15 langkah ke depan, giliran saya yang terpana. Hutan teduh yang menyimpan banyak anggrek dan kantong semar (naphentes) serta banyak lagi plasma nuftah yang berharga di dalamnya telah gundul! Hanya bangkai bangkai pohon yang bergelimpangan, sedangkan areal yang lebih jauh sudah tumbuh pohon kelapa sawit yang berumur sekitar 1 tahun.
Begini rupanya berbagai cobaan yang seperti tidak henti hentinya pada situs sejarah perjuangan terbesar milik Kalbar.
Bangkai dan gelimpangan pepohonan ini mewakili matinya nurani anak bangsa ini yang tidak tahu sejarah dan tak mau tahu arti pengorbanan tulang belulang yang terbaring di dalam lubang kuburan massal ini.
Saya dan tentunya banyak pihak juga berharap adanya ketegasan dan campur tangan pemerintah yang serius dalam menjaga dan memastikan status peruntukan untuk areal Monumen Daerah Mandor dan sekitarnya agar dijadikan areal penunjang untuk menjaga dan menjadi peyangga agar areal keramat ini tidak diganggu serta ke depannya terbuka untuk diperluas sebagai situs perjuangan Kalimantan Barat yang terbesar.
Read More....

Kalimantan Barat Berkabung


Oleh A. Halim R
Budayawan dan Wartawan Senior Kalbar.


HARI ini (28/6) Kalimantan Barat berkabung. Bendera merah-putih dinaikkan setengah tiang di seluruh daerah Kalimantan Barat (Kalbar). Upacara ziarah masal dilaksanakan di Mandor, sebuah kota kecamatan berjarak 88 km di sebelah timur Pontianak.
Apa konon yang telah terjadi?
Sebuah tragedi sejarah telah terjadi 64 tahun lalu. Tentara pendudukan Jepang telah melakukan pembantaian masal di Kalbar terhadap raja-raja, keluarga raja, cerdik-cendekia, amtenar, orang-orang politik, tokoh masyarakat, tokoh agama, bahkan hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama!
Borneo Sinbun sebuah suratkabar Pemerintah Bala Tentara Jepang, Sabtu tanggal 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944 – pen) pada halaman pertama menurunkan berita utama (head line) berjudul: KOMPLOTAN BESAR YANG MENDURHAKAI UNTUK MELAWAN DAI NIPPON SUDAH DIBONGKAR SAMPAI KE AKAR-AKARNYA.
Judul kecil (kicker) di bawahnya berbunyi: Kepala-kepala Komplotan serta Lain-lainnya Ditembak mati. Keamanan di Borneo Barat Tenang Kembali dengan Sempurna.
Di bawah judul itu – dalam tanda kurung – tertulis: Pengumuman Pasukan di Daerah Ini pada Tanggal 1 Juli 1944.
Koran Borneo Sinbun cukup dikenal di Kalbar pada masa itu, karena penerbitannya sudah menginjak tahun kedua. Ukuran halamannya hanya sebesar kertas folio, 5 kolom, terdiri dari 4 halaman, terbit 3 x seminggu.
Tanggal 1 Juli 1944, tiga halaman pertama koran itu habis dimakan berita tersebut. Dalam tubuh berita (body text) antara lain tertulis: Oleh sebab itu baru-baru ini dalam Sidang Majelis Pengadilan Hukum Ketentaraan Angkatan Laut, kepala-kepala komplotan serta lain-lainnya telah dijatuhkan hukum mati, maka pada tanggal 28 Rokugatu (28 Juni 1944 – pen) mereka pun telah ditembak mati.
Setidaknya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo Sinbun hari itu, lengkap dengan keterangan umur, suku, jabatan atau pekerjaan. Mereka adalah: JE Pattiasina, Syarif Muhammad Alkadri, Pangeran Adipati, Pangeran Agung, Ng Nyiap Soen, Lumban Pea, Rubini (dr), Kei Liang Kie, Ny Nyiap Kan, Panangian Harahap, Noto Soedjono, FJ Loway Paath, CW Octavianus Lucas, Ong Tjoe Kie, Oeray Alioeddin, Gusti Saoenan, Mohammad Ibrahim Tsafioeddin, Sawon Wongso Otomodjo, Abdul Samad (Batak), Soenarco Martowardoyo (dr), M Yatim, Rd Mas Soediyono, Nasaruddin, Soedarmadi, Tamboenan, Thji Boen Khe, Nasroen St Pangeran (Batak), E Londak Kawengian, WFM Tewu, Wagimin bin Wonsosemito, Ng Loeng Khoi, Theng Swa Teng, RM Ahmad Diponegoro (dr), Ismail (dr), Ahmad Maidin (India), Amaliah Rubini (istri dr Rubini), Nurlela Panangian Harahap (istri Panangian), Tengkoe Idris, Goesti Mesir, Syarif Saleh, Gusti A Hamid, Ade M Arief, Goesti M Kelip, Goesti Djafar, Rd Abdulbahri Danoeperdana, M Taoefik, AFP Lantang, dan Rd Nalaprana. (Kaum-kerabat, anak-cucu korban, kini pasti ada bertebaran di Nusantara ini – pen).
Tuduhan terhadap para korban itu diungkapkan pula oleh Borneo Sinbun: Apa yang diidamkan oleh mereka ialah sambil mempergunakan kekalutan keamanan sewaktu Bala Tentara Dai Nippon memasuki daerah ini, melaksanakan kemerdekaan Borneo Barat dengan sekaligus.
Diungkapkan pula, penangkapan secara besar-besaran pertama kali dilakukan tentara Jepang subuh tanggal 23 Zyugatu (23 Oktober 1943 – pen), disusul penangkapan gelombang kedua subuh tanggal 24 Itigatu (24 Januari 1944 – pen).
Sekitar tiga tahun mendaulat Kalbar, tentara pendudukan Jepang telah membantai 21.037 warga Kalbar. Dari lingkungan Istana Kadriyah Pontianak, Jepang bukan cuma menangkap dan membunuh Sultan Syarif Muhammad Alkadri, tetapi juga 59 korban lainnya. Sungguh sedikit nama-nama korban yang tertulis di Borneo Sinbun itu.
Adapun data 21.037 korban ini terungkap dari mulut Kiyotada Takahashi seorang turis Jepang yang berkunjung ke Kalbar 21 – 22 Maret 1977 kepada H Mawardi Rivai (alm) seorang wartawan di Pontianak. “Saya ingat dan masih punya catatan tentang jumlah korban yang tertangkap ataupun terbunuh secara masal pada sekitar bulan Juni 1944, yaitu 21.037 orang. Tapi saya kurang mengetahui dengan pasti apakah semua tawanan itu dibunuh di daerah Mandor. Akan tetapi tentang jumlah korban tersebut pernah tercatat dalam sebuah dokumen perang yang tersimpan di museum di Jepang,” ucap Kiyotada Takahashi. Takahashi datang ke Pontianak bersama 21 orang turis Jepang lainnya, dan mereka sempat berziarah ke Mandor dan meneteskan air mata di sana.
Siapakah Takahashi? Ia bukan lain, mantan opsir Syuutizityo Minseibu yang pernah tinggal di Jalan Zainuddin Pontianak. Selain Takahashi, dalam rombongan itu terdapat beberapa orang lagi bekas Kaigun Minseibu yang pada hari tuanya telah menjadi pengusaha. Takahashi sendiri, pada tahun 1977 itu adalah Presiden Direktur perusahaan Marutaka House Kogyo Co Ltd.
Data akurat tentang jumlah korban ini memang belum ada, namun untuk sementara data inilah yang dijadikan pegangan Pemprov Kalbar. Sedangkan satu-satunya dokumen tertulis yang ada di Kantor Arsip Pemprov Kalbar hanya selembar suratkabar Borneo Sinbun tersebut. Itu pun hanya halaman 1 dan 2 saja. Namun dari beberapa sumber yang pernah membaca berita tersebut selengkapnya, di halaman 3 suratkabar itu disebutkan bahwa jumlah korban seluruhnya sekitar 20.000 orang!
Tempat pembantaian masal itu sesungguhnya tak hanya di Mandor dan Sungai Durian (sekarang: Bandara Supadio) Pontianak, tetapi juga di rimba pedalaman Kalbar. Sebab bersama tentara Jepang masuk ke Kalbar, ikut serta pula dua perusahaan yaitu Nomura yang bergerak di bidang pertambangan, dan Sumitomo di perkayuan (perkapalan). Kedua perusahaan ini, di-backing militer, menggunakan berpuluh ribu tenaga romusa. Contohnya, di pertambangan batu tungau (bahan mesiu) di Petikah Kapuas Hulu, sekitar 70.000 remaja tanggung dan lelaki dipekerjakan secara paksa.
H Abdurahman Banjar (78 th) seorang saksi hidup yang kini tinggal di Nanga Semangut Kabupaten Kapuas Hulu, ditangkap Jepang ketika tengah berjalan di pasar Pontianak. Ia dan para remaja lain yang ditangkap dimasukkan ke dalam truk, kemudian dinaikkan ke kapal dan dibawa ke hulu Sungai Kapuas. Ia menyaksikan dan merasakan sendiri hidup di “neraka Petikah”. Para remaja dan orang muda yang semula datang dengan badan sehat dan tubuh tegap, berangsur menjadi kurus-kering, bermata cekung, wajah pucat, kurang makan. Karena ketiadaan pakaian, ribuan manusia bekerja keras di tengah rimba hanya mengenakan cawat dari kulit kayu. Yang mati dan dibunuh, mayat-mayatnya langsung dikuburkan di bekas lubang galian yang tidak dipergunakan lagi.
Ketika Jepang kalah – menyerah tanpa syarat kepada tentara Sekutu – mereka meninggalkan ladang pembantaian Mandor dalam keadaan sangat memilukan. Di sana ditemukan sejumlah lapangan yang diberi tanda dengan tonggak kayu belian (ulin). Diperkirakan, itu merupakan makam masal yang sempat dikerjakan. Selain itu sekitar 3000-an kerangka manusia ditemukan berserakan di sana, telah bercerai-berai karena di makan babi hutan.
Nyonya Saddiah Mahidin Batubara (almh) asal Sipirok (Sumut) pada tahun 1977 bercerita: Suami saya – Mahidin Batubara – yang bekerja di Kantor Distribusi Pemerintah Jepang (SADIP) di kawasan Pelabuhan Seng Hie Pontianak, diambil Jepang dari kantornya pada bulan Maret 1944 sekitar pukul 10.00 pagi. Kami tak pernah bertemu lagi setelah itu. Setelah Jepang kalah, kami keluarga korban berkesempatan untuk datang ke Mandor. Sekitar 11 – 13 mobil yang dipergunakan. Bertindak selaku penunjuk jalan, beberapa orang Jepang yang tangannya diborgol dan dikawal oleh tentara Australia. Apa yang kami saksikan di Mandor, sangat memilukan. Banyak yang pingsan menyaksikannya. Di sana-sini tulang belulang berserakan. Kerangka-kerangka itu sudah bercerai-berai karena dimakan babi hutan. Di sana-sini terlihat pula bekas-bekas pakaian, baik pakaian pria maupun pakaian wanita. Bekas kain panjang wanita, saya kira ada 5 helai. Juga rambut wanita, setagen dan sandal. Dari sekian banyak barang yang terlihat, ada satu yang saya kenal betul, yaitu sebuah sisa celana. Ciri celana itu tidak umum, karena bawaan dari Medan. Ketika almarhum ditangkap, celana itulah yang dipakainya. Tapi yang mana kerangka almarhum, tak dapat ditemukan.
Saini Saad kelahiran Singkawang (Kalbar), berusia 22 tahun ketika Jepang masuk ke Kalbar tahun 1942. Setelah Jepang kalah, ia datang ke Mandor ikut menjadi pekerja pengumpul dan pembersih kerangka manusia yang dibunuh di sana. Pengumpulan tulang belulang itu dikerjakan mulai akhir tahun 1945 hingga awal tahun 1946, selama tiga bulan!
“Kami mengumpulkan semua tulang belulang yang berserakan, juga tulang belulang yang kami temukan tertumpuk di dalam parit-parit dangkal. Setiap kali ditemukan, selalu saja tengkorak kepala itu terpisah dari kerangka tubuh. Malah dalam jarak yang agak berjauhan. Oleh sebab itu saya yakin, korban dibunuh dengan cara dipancung dengan samurai. Dugaan ini diperkuat dengan melihat adanya bekas-bekas bangku kayu yang berdekatan dengan parit-parit. Saya kira, sebelum dibunuh, korban disuruh duduk di atas bangku itu menghadap ke parit. Lalu diperintah sedikit membungkuk. Dan pada ketika itulah samurai Jepang diayunkan. Tubuh korban dengan sendirinya akan jatuh ke parit. Kalaupun tidak, hanya dengan dorongan sedikit saja tubuh korban pasti masuk ke parit. Setiap bertemu tengkorak kepala, meskipun telah terpisah dari rahang bawahnya, saya selalu mengamati apakah tengkorak itu ada mengalami cacat seperti retak bekas pukulan ataupun berlubang bekas peluru. Tak satupun saya temukan hal yang demikian. Tugas kami hanya mengumpulkan dan membersihkan tulang-belulang yang berserakan, yang belum dikubur. Tulang belulang itu dikuburkan secara masal di 10 lokasi makam. Sebuah di antaranya diperuntukkan bagi kerangka korban yang diangkut dari Sungai Durian Pontianak. Sebuah lagi, yang agak dekat dan berada di atas bukit kecil, dikatakan oleh orang-orang Belanda sebagai makam raja-raja. Makam itulah yang pertama dikerjakan penyemenannya,” tutur Saini Saad tahun 1977 di Mandor kepada penulis. Kini dia sudah almarhum.
Setelah pemakaman seluruh kerangka korban selesai dilakukan, di pintu masuk ke areal tersebut dibangun sebuah pintu gerbang beton yang sederhana, diberi bertulisan: Ereveld Mandor. Letaknya di tepi jalan Pontianak – Sanggau.
Tahun demi tahun setelah itu berlalu dalam kelengangan alam. Hutan kayu jenger, beragam anggrek dan berbagai jenis kantung semar tumbuh subur di areal tanah berpasir tersebut. Bertahun kemudian, kawasan itu bagaikan tersembunyi oleh alam. Bagaikan terkucil. Citra paling ngeri seperti menggelantung di sana.
Baru pada tahun 1973 timbul prakarsa untuk melakukan ziarah masal setiap tahun. Hal ini dilakukan pertama kali pada tanggal 28 Juni 1973, dipimpin langsung oleh Gubenur Kalbar pada masa itu: Kadarusno. Keadaan dan suasana di kompleks pemakaman Mandor itu masih berhutan, jalan masuk baru dibersihkan sekadarnya.
Ustaz H Djamhur Rafi (alm) yang memimpin pembacaan doa pertama kali pada ziarah masal awal itu bercerita: Waktu pembacaan doa dilakukan di salah satu makam masal, saya memimpin pembacaan doa sambil berdiri. Demikian juga para hadirin lainnya. Namun waktu pembacaan doa dimulai, saya tak sanggup meneruskannya. Berkali-kali saya coba, selalu demikian. Hadirin tampak gelisah, saya sendiri berkeringat dingin. Pundak saya terasa seperti ditekan beban yang sangat berat, sehingga napas saya menjadi sesak dan tak sanggup meneruskan pembacaan doa. Akhirnya saya mengajak para peziarah untuk melaksanakan pembacaan doa sambil duduk. Aneh, tekanan di pundak saya jadi hilang, saya bisa bernapas leluasa. Pembacaan doa berjalan lancar.
Pada tahun 1976/1977 Pemerintah Daerah Tingkat I Kalbar membangun sebuah monumen di Mandor. Kompleks monumen dilengkapi pula dengan plaza yang luas, di kiri-kanan menumen dibuat dinding beton, masing-masing berukuran 15 x 2,5 m berhiaskan relief. Monumen ini diarsiteki oleh Ir M Said Djafar, pelaksana pembangunan H Fachrozi BE (CV Nokan Nayan, Ptk). Desain relief oleh seniman lukis Kalbar Syekh Abdul Aziz Yusnian, pembuatan relief oleh Hermani Cs seniman Jogjakarta. Tiga nama yang disebut terakhir ini sudah almarhum.
Monumen ini berjarak sekitar 500 meter dari gerbang “Ereveld Mandor”, berjarak sekitar 1 km dari makam masal pertama yang terdekat.
Monumen tersebut diresmikan bersempena dengan ziarah masal tanggal 28 Juni 1977, dan diberi nama: Monumen Makam Juang Mandor. Pintu gerbang “Ereveld Mandor” diganti dengan pintu gerbang yang lebih kokoh dan anggun.
Dengan Perda No. 5 Tahun 2007, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan tanggal 28 Juni sebagai: Hari Berkabung Daerah (HBD) Kalbar. Pengibaran bendera setengah tiang tanggal 28 Juni di Kalbar, dimulai pada tahun 2007.
Hari ini Kalbar berkabung atas malapetaka yang ditimbulkan oleh tentara pendudukan Jepang tahun 1942 – 1945. Mandor menyimpan duka rakyat Kalbar dari berbagai etnik, warna kulit, suku dan agama. Mandor pernah tergenang darah, namun hanya ada satu warna darah: merah!
Gubernur Kadarusno dalam kata sambutannya pada peresmian Monumen Makam Juang Mandor tanggal 28 Juni 1977 antara lain berkata,”Pembangunan monumen di Mandor ini dimaksudkan sebagai monumen sejarah perjuangan bangsa. Bukan dengan maksud untuk menyembah sesuatu makam. Dan bukan pula untuk menanamkan dan mengabadikan rasa benci atau rasa dendam kepada bangsa Jepang sebagai bangsa penjajah.”
Read More....

Filmkan Gosida Mandor


Jadikan Monumen Daerah Mandor Lokasi Wisata Sejarah

Budi Rahman
Borneo Tribune, Pontianak

Peringatan Hari Berkabung Daerah (HBD) setiap 28 Juni—seperti hari ini—telah memiliki payung hukum Perda No 5 Tahun 2007, namun kondisi kompleks makam yang berhektar-hektar itu hingga kini masih memprihatinkan. Terhadap kondisi ini tak sedikit tokoh Kalbar yang mengurut dada.
Ketua MABM Kalbar, H Abang Imien Thaha selaku keluarga korban mengaku prihatin dengan kondisi makam yang cukup merana itu. Lokasi yang tergerus penambangan, penebangan kayu hutan membuat miris perasaan jika dikalikan dengan aspek sejarah yang teramat sangat besarnya di Mandor. Di sana terkubur 21.037 kesuma negeri ini. Imien diwawancarai di ruang kerjanya, Rumah Melayu Kalbar, Jumat (27/6) kemarin menerawang jauh kisah Peristiwa Mandor.
Abang Imien Thaha memiliki pertautan erat dengan salah satu tokoh korban kekejaman bala tentara Dai Nippon. Kakeknya, Alm. Gusti Kelib yang pada masa itu menjadi Panembahan Sekadau menjadi korban kebiadaban serdadu angkatan laut Jepang.
Imien Thaha mengenang kisah penculikan kakeknya saat dibawa dengan praktik penculikan.
Pada saat itu tak satupun keluarga dan sanak saudaranya curiga terhadap rencana busuk Jepang. Operasi pembinasaan yang dilakukan serdadu Jepang sangat rapi. Mereka tidak menggembar-gemborkan aura kekerasan.
Saat dibawa Gusti Kelib dari kediamannya waktu itu keluarga menyangka Panembahan Sekadau ini hanya hendak diajak keluar kota. Hal ini juga yang dikatakan para serdadu itu.
“Setelah tidak pulang-pulang dan membaca surat kabar Borneo Sinbun baru kami tahu bahwa kakek diculik dan dibantai di Mandor,” kenang Imien.
Meski memiliki hubungan erat dengan peristiwa Mandor, Imien Thaha tidak sependapat jika tragedi genosida (pembunuhan massal, red) itu menjadi monopoli keluarga korban saja. Peristiwa Mandor menurut Imien adalah milik masyarakat Kalbar.
“Tragedi Mandor adalah mimpi buruk kita semua yang harus diambil hikmahnya oleh generasi muda Kalbar sampai kapan pun.”
Sebagai salah satu ahli waris korban, Imien Thaha mengaku prihatin terhadap perhatian yang diberikan pemerintah terhadap para pahlawan itu. Makam menurutnya menjadi salah satu contoh minimnya perhatian pemerintah terhadap jasa para pahlawan. Mestinya perhatian yang layak diberikan untuk tempat peristirahatan terakhir para pahlawan tersebut.
“Kebun binatang saja diberi perhatian besar oleh pemerintah. Ini tentang makam pahlawan kok perhatiannya masih minim,” kata Imien dengan nada lirih.
Monumen Daerah Mandor menurut Imien memiliki makna strategis yang cukup besar. Semua suku dan agama ada di Mandor. Ia sependapat bahwa peristiwa kelam di masa lalu itu merupakan salah satu kisah pemersatu masyarakat Kalbar. Ia berharap ada monument peringatan yang lebih baik dan indah untuk mengenang para pahlawan. Pembangunan sebuah taman makam yang indah dan layak menurut Imien adalah salah satu bentuk penghargaan kepada para pahlawan.
Saat ini kondisi Monumen Daerah Mandor masih belum baik. Kondisi makam tidak terawat baik. Bahkan lokasi itu lebih mengesankan sebagai lokasi yang mengerikan. Dengan penataan kawasan yang baik dan sosialisasi yang baik kepada masyarakat, Imien yakin kawasan ini bisa menjadi lokasi wisata sejarah yang memberi manfaat banyak bagi masyarakat maupun daerah.
Abang Imien Thaha mengaku mendukung penuh upaya yang telah dilakukan oleh Tribune Institute yang telah merintis upaya “mengelola” Sejarah Tragedi Mandor sebagai peristiwa penting yang wajib dipublikasikan. Rencana Tribune Institute dan beberapa pihak terkait untuk menggelar seminar dengan pihak Kedubes Jepang juga mendapat apresiasi positif darinya. Menurutnya dengan menggelar seminar ini nantinya generasi muda Jepang juga bisa tahu dan dapat menggali hikmah dari kekejaman para orang tua mereka di Kalbar dahulu.
“Supaya mereka tahu tidak hanya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang mereka alami saja sebagai peristiwa kemanusiaan. Kakek buyut mereka juga dulu pernah punya sejarah hitam membantai rakyat Kalbar,” kata Imien dengan nada datar.
Selain ide seminar dan beragam seremoni untuk mengenang Peristiwa Mandor, Imien Thaha juga mengusulkan agar kisah itu diangkat ke layar perak. Jika peristiwa ini bisa difilmkan, Imien optimisi generasi Kalbar saat ini akan banyak tahu tentang sejarah daerahnya.
“Pemerintah provinsi perlu membuat pilem tentang peristiwa Mandor agar generasi sekarang mengerti akan kisah heroik itu. Saya dulu pernah mengusulkannya. Kita lihat daerah lain punya film perjuangan. Di Jawa Timur ada film kepahlawanan peristiwa 10 November, di DKI ada kisah Fatahillah dan di Aceh ada film Tjut Nyak Dhien.”
Usul membuat film dokumenter juga mencuat saat “Mandor Meeting” digelar di The Roof Cafe, Hotel Peony 20 Juni lalu. Pegiat LSM, Faisal Riza mengatakan akan lebih ampuh sebagai wujud sosialisasi dan edukasi secara lokal, nasional, dan internasional jika tragedi Mandor difilmkan. “Anak-anak Kalbar yang berkarya sebagai sineas sudah cukup banyak. Terpenting ada keinginan Pemda mewujudkannya,” kata mahasiswa program pasca sarjana ini.
Pimpinan Taman Budaya, M Zein dalam forum yang sama menyambut positif usulan tersebut. Kata dia, jika ada kebersamaan dalam merangkai kisah tragis maka naskah bisa diteaterkan atau difilmkan. M Zein juga usul diselenggarakan aneka lomba seperti lomba lukis yang bertemakan Mandor. Hal senada diusulkan pakar hukum tata negara, Turiman SH, M.Hum. Katanya, aneka lomba bisa menyentuh ranah edukasi yang lebih luas seperti lomba-lomba karya tulis ilmiah. Terlebih sejarah Mandor juga masuk sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah.
Read More....

“Hubungan dengan Jepang Tergantung Kita”

Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak
Persoalan Tragedi Mandor dengan apa yang diaspirasikan masyarakat Kalbar sesungguhnya kembali kepada diri kita sendiri. Misalnya sejauh mana data dan fakta bisa ditunjukkan kepada Pemerintah Jepang. Sebab, Jepang mempunyai political will dalam meningkatkan mutu persahabatan dengan Indonesia—termasuk tentunya bagi Kalbar.
Sebagai contoh rilis Kedubes Jepang yang diekspose pada website Kedubes pada 1 April 2005 yang terkait dengan Kalbar.
Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan bantuan hibah hingga sejumlah 435 juta yen (sekitar US$4,2 juta atau Rp39 miliar) kepada Pemerintah Indonesia untuk “Peningkatan Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Umum di Provinsi Kalimantan Barat”.
Nota diplomatik mengenai hal ini telah ditandatangani antara Duta Besar Jepang untuk Indonesia, YM. Yutaka Iimura, dan Direktur-Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Herijanto Soeprapto, di Jakarta pada tanggal 29 Maret 2005.
Pemerintah Indonesia sedang melakukan upaya maksimal menuju reformasi dalam sektor kesehatan yang didasarkan pada “Program Indonesia Sehat 2010”, dengan tujuan mendorong upaya pencegahan penyakit, dan peningkatan serta perluasan pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi secara merata dan terjangkau bagi anggota masyarakat. Menanggapi permintaan Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jepang memutuskan akan memberikan dukungan dalam bentuk perlengkapan basis peralatan medis untuk 11 rumah sakit umum di Provinsi Kalimantan Barat, tempat angka kematian ibu hamil dan bayi masih tinggi. Bantuan ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi kesehatan ibu hamil dan bayi serta meningkatkan perawatan darurat di bidang kebidanan di Provinsi Kalimantan Barat.
Pengurangan angka kematian ibu hamil dan bayi merupakan bagian dari Millenium Development Goals (MDGs) yang telah disetujui dunia internasional. Pemerintah Jepang telah memberikan berbagai macam bantuan kepada Pemerintah Indonesia guna mendukung usaha-usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan MDGs tersebut.
Melihat betapa hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia (termasuk untuk Kalbar) yang demikian besar, terkait Tragedi Mandor agaknya “tergantung” kepada kita. Misalnya sejauh mana data kita lengkap tentang nama-nama korban, mereka yang membutuhkan beasiswa, bahkan kredit usaha kecil-menengah.

Jika kita melihat rangkaian acara sebagai menandai hubungan diplomatik Indonesia-Jepang selama 50 tahun terakhir, agenda kegiatannya terbentang sejak Januari hingga Desember 2008 ini. Kegiatannya membentang sejak Jakarta, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Kalimantan. Di Kalsel dan Kalteng, Kedubes Jepang mempunyai berbagai agenda kegiatan. Kenapa di Kalbar tidak tersentuh?

Dengan garapan Tribune Institute, seorang kolega, telah berbicara bersama Atase Pendidikan di Kedubes Jepang membicarakan prihal Tragedi Mandor ini. “Pihak Kedubes Jepang meminta bahan ringkasan lengkap soal Mandor,” katanya.

Tribune Institute yang telah menggagas pertemuan dengan stakeholder pada 20 Juni yang lalu menindak-lanjuti dengan sebuah design program yang komprehensif. Program ini akan semakin progresif jika mendapat dukungan dari semua pihak. Tak terkecuali dengan seluruh anak-cucu korban fasisme Jepang di tahun 1942-1945. Untuk ini Borneo Tribune dengan Yayasan Tribune Institutenya membuka diri dengan seluas-luasnya. Read More....

28 Juni Hari Berkabung Daerah, Diambil dari mana?


Sejak tahun 2002 setiap tahun memasuki bulan Juni, dipikiran kami timbul kembali samar-samar bayangan tentara Jepang membantai rakyat Kalbar semasa penjajahan 1942 – 1945 tanpa perikemanusiaan, yang banyak kami dengar cerita-cerita dari mulut ke mulut maupun membaca koran-koran serta buku-buku. Seperti dokumentasi yang ada di Pemerintah Daerah Kalbar, tercatat 21.037 jiwa rakyat Kalbar telah menjadi korban keganasan tentara Jepang pada masa itu. Dimana sebagian kecil diungkapkan dan terbaca dikoran penguasa “BORNEO – SINBUN” – Pontianak terbitan No.135 tanggal 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944) dengan headline sebagai berikut :

Komplotan Besar jang mendoerhaka oentoek melawan Dai Nippon soedah dibongkar sampai ke akar-akarnja.

Inti berita ini kami mengkutipnya sebagian yang penting seperti dibawah ini :

Semendjak itoe pemeriksaan teliti telah diteroeskan terhadap Dokoh Pontianak serta beberapa ratoes orang bersangkoetan jang soedah ditahan, maka ackhirnja terbongkar dengan senjata-senjatanja komplotan besar oentoek melawan Dai Nippon jang sangat mengedjoetkan orang.

Oleh karena itoe baroe-baroe ini dalam Sidang Majelis Pengadilan Hoekoem Ketentaraan Angkatan Laoet kepala-kepala komplotan serta lain-lainnya telah didjatoehkan hoekoem mati, maka pada tanggal 28 Rokugatu mereka poen telah ditembak mati.

Pengoemoeman Pasoekan didaerah ini pada tanggal 1 Sitigatu tahoen 19 Syowa serta berita koran penguasa diatas, tanggal 28 Rokugatu (28 Juni) pejuang-pejuang kita dieksekusi. Berdasarkan tanggal inilah Pemda Kalbar menetapkan 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah.

Kami merasa bersyukur dan menghargai Pemerintah Daerah beserta wakil-wakil rakyat Kalimantan Barat yang akhirnya telah menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah untuk memperingati tragedi pembantaian terhadap 21.037 jiwa rakyat Kalbar oleh rezim tentara Jepang.

Semenjak tahun yang lalu, Pemda juga menginstruksikan agar masyarakat Kalbar menaikkan bendera Merah Putih setengah tiang pada tanggal 28 Juni sebagai wujud menghormati serta menghargai pengorbanan para pejuang-pejuang kita yang telah menjadi korban keganasan tentara Jepang.Untuk itu Kita sebagai anak bangsa marilah tanamkan kesadaran Nasionalisme dan setia menjaga serta memelihara kemerdekaan yang di wariskan ini , mari kita mendoakan arwah para pahlawan Kalimantan Barat yang menjadi tumbal perjuangan kemerdekaan , kiranya mendapatkan ketenangan abadi,amin .

Demikianlah tulisan kami berdasarkan kliping-kliping yang tersimpan dengan harapan kita tidak melupakan sejarah dan bukan cari dendam. Seperti kata bijak Tionghoa kuno berbunyi :

Chian She Puk Wang, Hou She Che Se ,yang artinya :

Kejadian yang lalu tidak dilupakan, adalah guru dimasa yang akan datang.



Salam Sejahtera.



X.F. Asali

Jl.Sisingamangaraja, Pontianak
Read More....

Monumen Daerah Mandor dan Jasa Gubernur Kadarusno


Ir.H.Said Djafar
Arsitek Makam Joang Mandor


Setiap tanggal 28 Juni sejak tahun 1976 oleh Gubernur Kadarusno ditetapkan hari BERKABUNG daerah Kalimantan Barat sebagai memperingati terjadinya peristiwa sejarah hitam masyarakat KalBar dengan dibunuhnya 21.037 orang secara sadis dan biadab oleh penjajahan Jepang. Setiap tanggal tersebut diadakan ziarah ke makam Mandor dengan upacara bendera setengah tiang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi dihadiri oleh para warga korban dan masyarakat Kalbar. Alhamdulilah melalui Perda sekarang secara resmi tanggal 28 Juni dijadikan Hari Berkabung Daerah.
Kewajiban pengibaran bendera setengah tiang di setiap rumah selain menghormati para korban yang telah gugur juga sekaligus mengingatkan generasi muda tentang peristiwa yang sangat bersejarah dan melukai hati masyarakat Kalbar yang pernah terjadi di Bumi Khatulistiwa ini.
Almarhum mantan Gubernur Kadarusno seorang yang mempunyai kepedulian dengan pembangunan Kalbar dalam periode hanya satu kali (5 tahun) Beliau telah kita ketahui banyak membangun termasuk salah satunya adalah makam juang di Mandor di mana ribuan pejuang dan tokoh masyarakat Kalbar terkubur oleh penjajahan Jepang.
Beliaulah yang memugar makam di Mandor karena beliau ketika ziarah sebelum dipugar melihat ketidaklayakan makam yang ada tanpa ada simbol atau tanda bahwa di situ terkuburnya orang-orang yang pantas untuk dihormati.

Sekembali Beliau melakukan ziarah pada tanggal 28 Juni 1976 penulis selaku staf Pemerintah Daerah yang ditugaskan di PU Provinsi Kalbar diperintahkan Beliau merencanakan pemugaran yang waktu itu namanya Makam Mandor tanpa predikat apapun seperti makam Pahlawan dan lain sebagainya. Banyak petunjuk dan arahan dari Beliau pada penulis selaku arsitek dalam merancang makam tersebut dan sangat detail terkesan begitu tinggi perhatian Beliau yang penulis rasakan.
Sekembali menghadap Beliau penulis lama termenung di kursi kerja. Di hati rasa sedih dan bangga penulis rasakan.
Rasa sedih karena masih ada seorang seperti Gubernur Kadarusno yang punya keperdulian dan menghormati para pejuang dan tokoh Kalbar yang telah gugur akibat keganasan penjajahan Jepang.
Rasa bangga sebagai anak yang bapaknya ikut menjadi korban diberi kepercayaan untuk merencanakan sebuah Monumen dan memugar lingkungan di mana orang tua penulis ikut terkubur bersama pejuang dan tokoh masyarakat lainya di Kalbar.
Kesempatan ini tidak penulis sia-siakan dengan harapan apa yang penulis kerjakan akan bermanfaat baik untuk para korban maupun untuk daerah Kalbar.

Sesuai petunjuk Bp Gubernur Kadarusno membangun Monumen dengan plazanya di mana upacara ziarah akan dipusatkan di Monumen tersebut seperti di Makam Pahlawan. Beliau mengingatkan pada penulis walaupun itu bukan makam Pahlawan karena untuk memperjuangkannya terlalu sulit maka Beliau katakan kita hormati dan kita beri nama Makam JOANG. Jadi Beliaulah yang memberi nama itu, sungguh besar perhatian Beliau.

Menuraut kamus Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Balai Pustaka arti Monumen adalah “bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi Negara”.
Monumen Makam Joang Mandor yang akan dibangun harus dapat meng-ekpresikan nilai-nilai sejarah yang pernah terjadi di tempat itu dan sekaligus dapat menyampaikan pesan bagaimana kejamnya penjajahan Jepang yang sangat biadab dan tak berperikemanusiaan yang pernah diperbuatnya di Bumi Khatulistiwa ini pada generasi penerus.
Untuk mendesign atau merencana monumen seperti yang dimaksud dalam kamus Bahasa Indonesia itu perlu banyak data-data yang diperlukan.
Penulis masih kecil tidak tahu tentang peristiwa yang sangat kejam itu hanya terekam melalui cerita dari mama yang kadang-kadang diiringi derai air mata ketika memaparkan yang dialaminya pada kami yang jadi yatim . Demikian pula tulisan-tulisan dan buku tentang kejadian itu belum ada.
Dari cerita yang terekam di otak penulis orang-orang yang ditangkap tentara Jepang diangkut mempergunakan mobil truk terbuka dan kepalanya disungkup dengan –karung- belek atau karung pucuk menuju ke tempat eksekusi yang akan dilakukan. Maksudnya disungkup supaya orang yang akan dibunuh itu tidak tahu mau dibawa ke mana. Demikian pula masyarakat tidak tahu siapa yang dibawa itu.

Berdasarkan cerita itulah maka monumen yang dibangun di Makam Joang Mandor itu berbentuk –karung- yang terselungkup dengan ketinggian 8 M lebar 3 M.
Agar penampilannya seperti rajutan atau anyaman karung terbuat dari daun pandan atau daun nipah maka di monumen dipergunakan marmer dari Citatah Jawa Barat.
Di bawah Monumen tersimpan kerangka jenazah yang diambil dari salah satu makam berdasarkan petunjuk Pak Samad orang yang setia menjaga dan memelihara komplek makam Mandor. Pengambilan rangkaan jenazah itupun dilakukan malam Jumat jam 12 dengan syarat yang mengambilnya hanya Pak Samad dan Penulis. Karena syarat itu disampaikan langsung pada Bapak Gubernur maka penulis tidak bisa menolak walaupun cemas juga bukan karena dingin atau gelap serta sepi, tapi di kuburan.
Di atas penutup kerangka jenazah di bawah monumen terletak sebuah prasasti sebagai ungkapan pesan para korban pada generasi penerusnya.
Untuk membuat kata-kata di prasasti itu diajukan penulis pada Bapak Gubernur beberapa konsep alternatif antara lain sebagai berikut:

1.Tulang belulangku sebagai bukti bahwa penjajahan itu sangat kejam oleh karenanya pertahankanlah tanah airmu.

2.Kupersembahkan makam Joang bagimu untuk mengenang jasa dalam menentang penjajahan di Kal-Bar Th 1942- 1945.

3.Jiwa ragaku telah kukorbankan demi untuk kesejahteraan generasi yang akan datang.

4.Tidak cukup sekedar anda kenang –tapi kuharap anda teruskan semangat joangmu-untuk memerangi segala bentuk penjajahan.


Selanjutnya dibangun tembok relief di kiri kanan monumen yang menceritakan peristiwa yang pernah terjadi diawali pendaratan angkatan laut Jepang di Pemangkat atau Tanjung Batu diteruskan pertemuan-pertemuan para tokoh-tokoh Kalbar dilanjutkan penangkapan serta diakhiri pembunuhan yang sadis dalam lobang yang besar untuk puluhan bahkan ratusan orang. Pemahatnya secara khusus didatangkan Gubernur dari Jogya karena di daerah pada waktu itu belum ada tenaga ahlinya.
Rencana pada waktu itu di belakang tembok relief akan dipahat nama-nama para korban seperti monumen di beberapa tempat seperti di Washington.DC. digrafir pada temboknya nama-nama tentara Amerika yang mati pada perang Vietnam.
Tapi sayangnya nama-nama itu belum lengkap oleh karenanya nanti akan ditempelkan saja nama-nama yang telah digrafir itu dan sampai sekarang rencana itu belum terlaksana.
Ketinggian Plaza untuk upacara ditiggikan dengan ketinggian 1.20 M untuk terkesan Munomental
Berdsarkan penataan kawasan Makam Joang Mandor yang dibuat sesuai petunjuk Gubernur Kadarusno pada waktu itu Danau yang ada di depan Makam ketinggian airnya dipertahankan permukaanya dan dilepaskan itik dan angsa berenang serta para pengunjung dapat naik sampan untuk rekreasi.
Di pinggir dibangun Pendopo atau Kopel tempat pengunjung istirahat. Di belakang antara monumen dan makam pertama yang jaraknya sekitar 500 m dibangun landasan helikopter serta semua makam akan dipugar dengan arsitektur khas daerah.

Demikian besar perhatian beliau selaku Gubernur akan sejarah dan pengorbanan Kalbar dengan mempertahankan peninggalan yang punya arti bagi Bangsa dan Negara.
Perihatin rasanya melihat yang ada sekarang kawasan yang dilindungi sebagai cagar alam itu rusak karena pendulangan emas orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Monumen Makam Joang Mandor (kini menjadi Monumen Daerah Mandor sesuai Perda No 5 Tahun 2007, red) mungkin tidak termasuk inventarisasi Monumen di Pusat karena baik pemugaran maupun pemeliharaan sepengetahuan penulis tidak dengan dana Pusat atau APBN. Padahal menurut kamus Bahasa Indonesia di atas Monumen adalah tanggung jawab Negara oleh karena itu harapan kita tentunya Pemerintah Daerah dengan DPR dan DPD utusan Daerah harus memperjuangkanya agar Monumen Daerah Mandor diakui sebagai aset Negara.
Mudah-mudahan dalam rangka Ziarah ke 64 tanggal 28 Juni 2008 akan menjadi perhatian dan keperdulian pada Makam Joang Mandor oleh semua pihak termasuk Pemerintah Pusat agar makam ini tetap lestari dan layak sebagai Makam Joang, semoga!
Read More....

Hadirkan Dubes Jepang Peringati HBD


Andry
Borneo Tribune, Pontianak


Lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat melalui paripurna DPRD Kalimantan Barat merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.
Tak sedikit kaum cerdik pandai, cendikiawan, para raja, sultan, tokoh masyarakat maupun pejuang lainnya gugur sebagai kesuma bangsa atas kebiadaban Jepang kala itu.
”Mudah-mudahan dengan a peraturan daerah ini dapat terus mengobarkan semangat juang kita untuk bersama-sama berjuang dan berkiprah dalam mengisi pembangunan di Kalimantan Barat. Pemerintah Jepang perlu memberikan perhatian yang serius terhadap anak cucu korban dalam bentuk beasiswa maupun bantuan lainnya,”tegas Wakil Ketua Komisi Bidang Pemerintahan dan Hukum DPRD Kalimantan Barat, Suprianto, S.Th di gedung DPRD Kalimantan Barat, Rabu (25/6) kemarin.
Legislator PDS ini mengaku sejarah perjuangan Mandor merupakan bentuk perjuangan riil bangsa Indonesia terhadap fasisme Jepang di Kalimantan Barat. Oleh karena itu, menurutnya Monumen Daerah Mandor perlu ditingkatkan statusnya menjadi Monumen Nasional Mandor.
”Untuk itu perlu ada kesepakatan antara pemerintah provinsi dan DPRD Kalbar untuk memperjuangkan sejarah tersebut secara bersinergi agar Monumen Daerah Mandor menjadi Monumen Nasional Mandor,” ulasnya panjang lebar.
Sebagai langkah awal dari gagasan tersebut, kata dia, pemerintah provinsi dan DPRD Kalbar bisa melakukan rapat kerja guna membahas wacana ini, yang sekaligus mendorong proses perubahan status itu menjadi Monumen Nasional Mandor.
”Gagasan ini penting untuk didorong pemerintah bersama-sama DPRD Kalimantan Barat,” imbuhnya.
Wakil rakyat daerah pemilihan Kabupaten Landak mengatakan semestinya pemerintah Jepang bersedia memberikan bantuan dana hibah untuk melakukan pembangunan di kawasan Monumen Daerah Mandor tersebut.
Setidaknya, itu merupakan bagian terkecil perhatian yang bisa Jepang berikan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban atas kebiadaban mereka di Kalimantan Barat.
”Kenapa mesti Jepang yang memberikan bantuan. Karena peristiwa pembantaian Mandor ini merupakan bukti kebiadaban Jepang dan Jepang harus bertanggungjawab akan hal itu,” suara Suprianto terdengar tegas.
Menurutnya, pimpinan DPRD, Gubernur, DPD, DPR RI perlu melakukan pertemuan untuk membincangkan terhadap gagasan Monumen Daerah Mandor menjadi Monumen Nasional Mandor maupun membahas peristiwa berdarah ini secara lebih mendalam dan komprehensif lagi.
”Bila perlu pada peringatan Hari Berkabung Daerah pada tanggal 28 Juni mendatang, Duta Besar Jepang untuk Indonesia perlu diajak ke Monumen Daerah Mandor untuk menyaksikan secara langsung lokasi bersejarah tersebut,” tandasnya.
Read More....

Gubernur Instruksikan Pengibaran Bendera Setengah Tiang


28 Juni, Masyarakat Diajak Renungkan HBD

Andry
Borneo Tribune, Pontianak

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah (HBD) Provinsi Kalimantan Barat, Bab IV pasal 5 menetapkan Mandor sebagai Hari Berkabung Daerah yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya dengan kegiatan-kegiatan yang merenungkan dan memaknai kejuangan nasional tersebut. Oleh karena itu, Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH melalui Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Drs.H Syakirman menginstruksikan kepada instansi vertikal, pemerintah daerah, lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, BUMN dan BUMD, swasta serta di setiap rumah penduduk di wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama satu hari pada tanggal 28 Juni 2008.

Instruksi ini untuk menghargai sekaligus menghormati jasa para pejuang dan rakyat Kalimantan Barat yang gugur dalam peristiwa Mandor sebagai syuhada pada masa perjuangan merebut kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari penjajahan Jepang.

Dalam memperingati Hari Berkabung Daerah 2008, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat tetap melakukan beragam aktivitas seperti upacara dan ziarah ke Monumen Daerah Mandor yang dikoordinir oleh pemerintah daerah bersama masyarakat Kalimantan Barat.

Kemudian mengibarkan bendera merah putih setengah tiang selama satu hari di lingkungan instansi vertikal, instansi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta dari tingkat sekolah sampai Perguruan Tinggi, BUMN dan BUMD dan swasta di wilayah provinsi Kalimantan Barat.
“Untuk tahun 2008, peringatan Hari Berkabung Daerah akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 Juni 2008 dengan kegiatan ziarah rombongan ke Makam Juang Mandor,” jelasnya panjang lebar.

Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Informasi dan Kearsipan Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Herry Djaoeng menambahkan masyarakat Kalimantan Barat perlu menyadari sekaligus meresapi secara mendalam makna dari HBD itu sendiri. Hal itu penting untuk dilakukan oleh semua elemen masyarakat dalam memberikan penghormatan terhadap perjuangan nenek moyang mereka. “Kalau kita saja tidak peduli, lantas siapa lagi yang akan mengindahkan perjuangan itu,” tegasnya singkat.

Menurutnya, peran serta yang dapat dilakukan masyarakat dalam memperingati HBD pada tahun ini dapat dilakoni dengan cara pengibaran bendera setengah tiang di rumah mereka maupun setiap instansi yang berada di Kalimantan Barat.

Masyarakat pun diharapkan berpartisipasi dalam meramaikan peringatan upacara sekaligus ziarah ke Monumen Daerah Mandor pada 28 Juni 2008.

Sementara itu HBD juga dimaknai Dinas Diknas dengan melakukan lokakarya penyusunan kurikulum untuk muatan lokal. “Materi perjuangan rakyat Kalbar melawan Jepang yang terkenal dengan tragedi Mandor akan masuk dalam muatan lokal,” ungkap Paimin Slamet saat tampil dalam dialog “Mandor Meeting” di The Roof Cafe beberapa waktu yang lalu.
Kegiatan yang diinisiasi Borneo Tribune dan Tribune Institute itu menyusun desain besar perjuangan rakyat Kalbar yang terkenal dengan Tragedi Mandor untuk ditata sedemikian rupa sehingga dapat dimaknai secara progresif dalam tataran lokal, nasional dan internasional. Demikian lantaran jumlah korban yang mencapai 21.037 jiwa bukan angka kecil serta menimbulkan banyak asa dan rasa. Dengan demikian dibutuhkan asa, asih dan asuh.
Read More....

Bangun UPT Monumen Daerah Mandor

Mahfut: Tepatnya di Bawah Dinas Sosial

Gagasan pembentukan Unit Pelayanan Teknis (UPT) merupakan gagasan yang mulia. Hal itu penting guna mengakomodir pengelolaan di kawasan Monumen Daerah Mandor dan hingga kini terus bergulir. Usulan itu semata-mata agar kawasan yang kaya akan sejarah pergerakan nasional di Kalimantan Barat itu tetap terjaga dan tidak dirusak oleh perorangan maupun kelompok tertentu yang pada akhirnya dapat mensirnakan sejarah perjuangan rakyat yang menelan sebanyak 21.037 korban jiwa pada 1942-1944.

Andry
Borneo Tribune, Pontianak

Untuk pembentukan suatu lembaga tentu harus difikirkan secara matang dari segala aspek yang ada. Tetapi yang jelas, terkait Monumen Daerah Mandor, Provinsi Kalbar telah pula memiliki Peraturan Daearah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat. ”Saya kira itu nanti bisa ditindaklanjuti. Sebab untuk pembentukan suatu lembaga itu harus difikirkan terlebih dahulu. Apakah cukup efektif,” ungkap Asisten Pemerintahan dan Hukum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Mahfut Suhendro di Hotel Grand Mahkota, Selasa (24/6) kemarin.

Kata Mahfut, untuk membentuk suatu lembaga harus mengacu terhadap tugas, pokok dan fungsi dari lembaga yang berada di atasnya. Misalnya dalam hal ini menyangkut dengan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat. Dan tentu Dinas Sosial yang berwenang untuk membentuk UPT tersebut. ”Apakah itu perlu untuk dibuat atau tidak perlu. Itu tentu disesuaikan, difikirkan efisiensi dan efektifitasnya. Dan itu ada petunjuk-petunjuk tertentu kalau memang ada kemungkinan untuk pembentukan UPT itu,” ulasnya panjang lebar.

Dia menegaskan kalau usulan pembentukan UPT itu nantinya berada di bawah naungan Dinas Pariwisata, agaknya hal itu kurang tepap. Namun, mantan Sekwan DPRD Kalbar ini menyarankan agar gagasan ini tetap berada di bawah binaan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat. Read More....

DPRD Restui Pembentukan UPT Mandor


Sejarah Mandor Perlu Ditulis Kembali

Andry
Borneo Tribune, Pontianak

Kawasan Makam Juang Mandor yang sekaligus merupakan situs cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang perlu dibentuk suatu Unit Pelayanan Teknis (UPT). Hal itu penting agar dapat melindungi kawasan bersejarah tersebut dari perbuatan yang dapat merusak maupun mereduksi eksistensi dari kawasan tersebut. Prinsipnya DPRD Kalimantan Barat sepakat bahwa kawasan Makam Juang Mandor (kini berubah nama menjadi Monumen Daerah Mandor sesuai Perda No 5 Tahun 2007, red) perlu dibentuk suatu Unit Pelayanan Teknis (UPT).
”Pada prinsipnya saya mendukung pembentukan suatu UPT untuk mengelola kawasan Makam Juang Mandor. Karena sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat memang mengamanahkan beberapa poin penting,” tegas Wakil Ketua Pansus SOPD DPRD Kalbar, Drs. Zainuddin Isman, M.Phil di gedung DPRD Kalbar, Senin (23/6) kemarin.

Legislator PPP ini mengatakan amanah Perda yang pertama, yaitu mengukuhkan bahwa pada 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah. Dan kedua, kawasan Makam Juang Mandor ini merupakan situs cagar budaya atau Monumen Daerah. Oleh karena itu, Gubernur perlu segera menetapkan berapa luas wilayah kawasan Monumen Daerah Mandor yang sekaligus merupakan situs cagar budaya di Kalimantan Barat. Sebab, selama ini Undang-Undang tersebut masih belum dapat diimplementasikan lantaran belum diketahui secara pasti berapa sebenarnya luas dari kawasan tersebut. “Karena sejauh ini, baik pemerintah provinsi maupun Kabupaten Landak masih belum menetapkan berapa luas kawasan Makam Juang Mandor tersebut.”

Kemudian, amanah yang ketiga dalam Perda tersebut mengamanahkan bahwa sejarah pergerakan nasional di Kalimantan Barat, termasuk peristiwa Mandor harus kembali ditulis secara objektif dan proporsional. Dengan harapan agar sejarah tersebut dapat dituangkan dalam muatan lokal (mulok) di Kalbar.
”Itu masih belum dilaksanakan. Baru Hari Berkabung Daerah (HBD) yang telah ditetapkan dan pemasangan bendera setengah tiang di Kalbar. Kita minta kepada pemerintah provinsi agar di dalam perubahan APBD 2008 mendatang, penetapan lokasi dan penyiapan lokasi serta penulisan sejarah tersebut harus sudah dianggarkan.”

Dia juga mengaku sejauh ini sejarah yang ditulis mengenai peristiwa Mandor masih belum proporsional, sehingga perlu dilakukan penulisan kembali mengenai sejarah pergerakan nasional di Kalbar yang termasuk pula peristiwa Mandor. Agar sejarah mengenai beragam perjuangan pergerakan nasional di Kalbar maupun peristiwa Mandor dapat diketahui secara utuh oleh generasi penerus bangsa. “Itu penting,” ingat Zis sapaan akrabnya.

Wakil rakyat daerah pemilihan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu ini menegaskan pembentukan suatu UPT itu tidak perlu dicantumkan di dalam SOPD. Karena, gubernur berhak untuk membentuk suatu UPT. Dan pembentukan UPT itu ditetapkan berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub). Oleh karena itu, jelas dia, UPT itu tidak perlu dimasukkan di dalam rancangan SOPD secara eksplisit, melainkan perlu ada kesepakatan antaran Pansus SOPD DPRD bersama pihak eksekutif bahwa kawasan Monumen Daerah Mandor tersebut perlu dibentuk suatu UPT yang akan menangani secara khusus kawasan tersebut.
Dia menambahkan, ketika berbicara UPT, artinya ada kaitannya dengan eselon III. Dan eselon III itu tidak secara eksplisit diatur di dalam SOPD. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa kawasan Monumen Daerah Mandor penting dibentuk suatu UPT.

Sementara itu, anggota DPRD Kalbar, H. Zainal Abidin, HZ mengatakan pihak eksekutif harus mengusulkan pembentukan Unit Pelayanan Teknis (UPT) dalam draft SOPD yang diusulkan pihak eksekutif kepada legislatif. “Saya setuju bahwa UPT itu dibentuk untuk mengelola kawasan monumen yang bernaung di bawah Dinas Pariwisata. UPT ini akan kami perjuangkan di dalam pembahasan SOPD bersama pihak eksekutif,” tegas Zainal.

Legislator PPP ini menambahkan bahwa Monumen Daerah Mandor merupakan aset sejarah dan wajar kiranya pemerintah membentuk badan khusus berupa UPT yang menangani kawasan ini, sehingga kawasan ini dapat terjaga dari beragam perilaku yang dapat merusak lingkungan maupun situs cagar budaya yang ada di Kalbar.
“Kita berharap kepada pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat dapat membentuk UPT yang bertugas secara khusus untuk menangani kawasan Monumen Daerah Mandor ini,” harapnya tulus.
Dia juga mengharapkan Pansus SOPD juga dapat memperjuangkan pembentukan UPT ini, sehingga gagasan yang dipaparkan Pimpinan DPRD terkait pembentukan UPT ini bisa segera terealisasi. ■
Read More....

“Tribune Institute Siap Menjalankan Amanah”


Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak

Suasana hening ketika usul demi usul diendapkan dalam Mandor Meeting di The Roof Cafe, Jumat (20/6) malam. Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, SH di hadapan 30 peserta angkat bicara.
“Tribune Institute siap sedia menerima dan menjalankan amanah yang sangat besar ini. Insya Allah Tribune Institute menjalankan amanah dengan penuh loyalitas, bahkan tanpa dikomando pun kami akan terus berjuang untuk Mandor,” ungkapnya memecah keheningan.
“Kami siap menjalankan amanah dengan memformulasikan kembali semua agenda yang telah pernah direkomendasikan baik oleh para ahli waris keluarga korban fasisme Jepang, usul para cerdik cendikia, maupun alur pemerintahan. Kami tentu mohon bantuan dan bimbingan dari kita semua karena Tribune Institute pun tak akan mungkin bekerja sendiri untuk tingkat lokal, nasional hingga internasional,” sambung kandidat magister hukum ini tegas dan fasih.
Dwi yang juga keluarga korban Mandor karena saudara kakeknya di Kerajaan Sintang juga diciduk Jepang serta kembali hanya tinggal nama mengatakan Tribune Institute memiliki jaringan yang cukup kuat secara lokal, nasional dan internasional. Untuk itu menurutnya, amanah Monumen Daerah Mandor akan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya—terlebih dengan dukungan Tim Pemikir—seperti diusulkan Dr Mardan Adijaya—Raja Mempawah.
Dwi berharap dukungan dan bimbingan agar program dapat berjalan dengan baik, termasuk seluruh testimoni maupun data berkenaan dengan fasisme Jepang di Kalbar untuk dapat disampaikan kepada Tribune Institute yang bersekretariat di Jalan Purnama, Kompleks Pinangsia No 2 Kota Pontianak.
Read More....

Korban Mandor dalam Deraan dan Cobaan

Dari Jaman Penjajahan Sampai Sekarang


Makam mandor memang merupakan situs Sejarah Perjuangan yang penting artinya bagi seluruh rakyat Kalimantan Barat, di sinilah terkubur 21.037 jiwa yang secara kejam di bunuh oleh Jepang yang ingin mengubah generasi muda Kalbar pada masa itu menjadi Jepang.

Keberadaan situs sejarah perjuangan ini merupakan juga ironi bagi pemahaman kehidupan berkebangsaan dan kemampuan memahami / menghargai sejarah / jasa perjuangan yang telah diberikan oleh para korban Mandor ini.

Bayangkan betapa berbagai nestapa yang harus dialami oleh para korban mandar dari sejak di tangkap Jepang sampai detik ini.

Awalnya saat mulai ditangkapi Jepang, sebagian besar orang yang takut terimbas dan ikut ditangkap saat itu berpura pura tidak mengenal dan bahkan menganggap bahwa yan ditangkap Jepang itu memang pesakitan yang bersalah dan pantas di hukum.
setelah dibawa ke Mandor, mereka di kurung di areal yang sekarang adalah pemakaman Mandor, para penjuang yang ditangkap di tempatkan di penjara Alam yang di pagari kawat berduri dan di jaga tentara Dai Nippon, saya masih menemukan bekas kawat berduri yang di pakai sebagai pagar batas penjara alam tersebut (foto terlampir), memang kualitas kawat duri jaman dahulu memang lebih baik mutunya sehingga sebagian masih bertahan di lingkungan penjara alam itu.
Di penjara alam itu sudah dipastikan penderitaan tak terperi akan dialami oleh para tahanan disitu, sengatan sinar matahari dan dinginnya udara malam, belum lagi jika hujan tentu akan sangat menyiksa, selain itu masih ada serangan penghuni hutan misalnya nyamuk dan lintah serta kemungkinan adanya berbagai binatang berbisa, saya saja yang hanya beberapa jam di situs pemakaman ini sudah bentol bentol digigit nyamuk hutan yang keganasannya lebih daripada nyamuk rumahan.
selama di penjara Alam Mandor ini mereka dipaksa untuk melakukan upacara setiap pagi menghadap matahari sesuai Agama kepercayaan Jepang yang meyakini bahwa rajanya adalah keturunan dewa matahari, dimana banyak tahanan yang di pukuli dan bahkan di pancung karena tidak melakukan ritual menghadap matahari dengan benar, tentu saja banyak kesalahan yang mereka lakukan karena kondisi badan yang tidak sehat akibat perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman ke tengah hutan Mandor yang tidak ramah, selain itu juga ada yang tidak mau meyembah matahari karena keyakinan Agama. Dibekas areal upacara yang berupa lapangan terbuka, beberapa tahun yang lalu masih dapat ditemukan beberapa bilah pedang samurai yang patah, karena dipakai untuk memancung orang yang tidak melakukan / tidak mau melakukan penghormatan matahari dengan benar.
mereka di wajibkan kerja paksa untuk membangun dan memperluas Areal penjara Alam di Mandor, kemudian juga mengali lubang lubang besar yang sebenarnya diperuntukan mengubur mereka sendiri kelak, kerja fisik yang keras dengan tunjangan pangan yang tak tentu, keadaan alam yang tidak ramah, siksaan fisik dan mental dari tentara jepang pada saat itu tentu merupakan siksaan yang luar biasa tak terperikan bagi semua yang terkurung diareal Mandor ini.
dari cerita orang orang tua yang tahu kejadian pada masa itu, dikatakan bahwa tawanan yang mau dieksekusi di tutup kepalanya / matanya, kemudian disuruh berlutut, berjejer di tepi lubang besar yang telah di gali sebelumnya, dibarisan belakangnya tawanan yang lain dipaksa untuk memancungnya, demikian selanjutnya sehingga lubang penuh dan tawanan yang tersisa disuruh mengubur mayat yang menumpuk dalam lubang tersebut, ternyata kejahatan perang seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara lain juga terjadi kekejaman yang sama dan saat ini dokumentasi kejadian ini sudah dapat diakses di Internet.
setelah Jepang penyerah karena perjuangan bangsa Indonesia dan kota Nagasaki & Hirosima dijatuhi Bom Atom oleh Amerika, Situs pemakaman ini sempat dilupakan.
kemudian Gubernur Kadarusno pada masa pemerintahannya cukup memberikan perhatian terhadap Makam Mandor sehingga keberadaan Areal ini mulai terkuak dan diketahui Masyarakat. Namun hanya sebatas itu saja, tidak ada perkembangan yang berarti sampai saat ini yang menunjukan bahwa bangsa kita sebagai bangsa yang dapat menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawannya.
beberapa tahun yang lalau Areal pemakaman ini digerus oleh kegiatan tambang emas liar (PETI) yang sampai mendekati areal lubang Makam, berbagai upaya dilakukan oleh Bapak Samad, sang penjaga Makam untuk mengusir mereka, sampai karena sudah hilang kesabaran dan akal beliau bertelanjang bulat dan menghunus paran mengejar para penambang liar tersebut. Namun kegiatan PETI ini terus berlangsung, sampai tahun lalu sekitar bulan Nopember kebetulan saat saya berkunjung ke Mandor, saya melihat para pekerja PETI memindahkan mesin Dompeng dan berbagai peralatan lainnya, rupanya mereka memutuskan pindah arela operasi karena emas yang didapatkan tidak banyak lagi, lega juga mengetahui kegiatan pertambangan liar ini terhenti, namun hamparan pasir putih yang luas bagaikan lautan tidak akan bisa menumbuhkan apapun di atasnya, hamparan pasir putih yang menghampar bagai lautan ini menunjukan betapa hitam dan kotornya hati manusia yang serakah dan haus harta, mengabaikan keberadaan danpengorbanan para pejuang kemerdekaan yang mati mengenaskan dan terkubur disini.
tanggal 24 Juni 2008 saya datang ke Makam Mandor ini dan membawa Anak anak saya, agar mereka tahu sejarah perjuangan bangsanya di Kalimantan Barat Khususnya, kami berkeliling dan berhenti di setiap lubang pemakaman massal. Sambil saya bercerita tentang apa yang terjadi pada masa itu, anak anakku yang semuanya masih berumur di bawa 10 tahun takjub mendengarkan dan mengamati gambar diarama yang ada yang mengambarkan sekilas tentang kekejaman jepang dan peristiwa Mandor, terik dan panas matahari tidak lagi mereka rasakan, keinginan untuk tahu lebih banyak tercermin dari bahasa tubuh dan tatap mata mereka. Saat mencapai makam 10 yaitu makam terakhir dan merupakan makam para Raja yang terbunh saat itu, kami sepakat untuk masuk areal hutan yang terdapat di belakang makam 10, tahun lalu saya sempat masuk di hutan ini bersama beberapa wartawan, saya ingin menunjukan kepada anak anakku kawat berduri bekas pagar penjara alam yang masih tersisa, namun dalam 30 langkah memasuki hutan di belakan makam 10, kami mendengar suara dengungan mesin Chainsaw (gergaji mesin) memecah kesunyian hutan, dan 15 langkah kedepan, giliran saya yang terpana, hutan teduh yang menyimpan banyak angrrek dan kantong semar serta banyak lagi palsma nuftah yang berharga di dalamnya telah gundul ! hanya bangkai bangkai pohon yang bergelimpangan, sedangkan arela yang lebih jauh sudah tumbuh pohon kelapa sawit yang berumur sekitar 1 tahun, begini rupanya berbagai cobaan tidak henti hentinya pada situs sejarah perjuangan terbesar di Kalbar, bangkai dan gelimpangan pepohonan ini mewakili matinya nurani anak bangsa ini yang tidak tahu sejarah dan tak mau tahu arti pengorbanan tulang belulang yang terbaring di dalam lubang kuburan massal ini.
saya dan tentunya banyak pihak juga berharap adanya ketegasan dan campur tangan pemerintah yang serius dalam menjaga dan memastikan status peruntukan untuk areal Makam juang mandor ini dan sekitarnya di jadikan areal penunjang untuk menjaga dan menjadi pejangga agar areal keramat ini tidak diganggu serta kedepannya terbuka untuk di perluas sebagai situs perjuangan Kalimantan Barat yang terbesar.


Salam Hangat,
Andreas Acui Simanjaya
Read More....