Friday, June 27, 2008

Kalimantan Barat Berkabung


Oleh A. Halim R
Budayawan dan Wartawan Senior Kalbar.


HARI ini (28/6) Kalimantan Barat berkabung. Bendera merah-putih dinaikkan setengah tiang di seluruh daerah Kalimantan Barat (Kalbar). Upacara ziarah masal dilaksanakan di Mandor, sebuah kota kecamatan berjarak 88 km di sebelah timur Pontianak.
Apa konon yang telah terjadi?
Sebuah tragedi sejarah telah terjadi 64 tahun lalu. Tentara pendudukan Jepang telah melakukan pembantaian masal di Kalbar terhadap raja-raja, keluarga raja, cerdik-cendekia, amtenar, orang-orang politik, tokoh masyarakat, tokoh agama, bahkan hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama!
Borneo Sinbun sebuah suratkabar Pemerintah Bala Tentara Jepang, Sabtu tanggal 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944 – pen) pada halaman pertama menurunkan berita utama (head line) berjudul: KOMPLOTAN BESAR YANG MENDURHAKAI UNTUK MELAWAN DAI NIPPON SUDAH DIBONGKAR SAMPAI KE AKAR-AKARNYA.
Judul kecil (kicker) di bawahnya berbunyi: Kepala-kepala Komplotan serta Lain-lainnya Ditembak mati. Keamanan di Borneo Barat Tenang Kembali dengan Sempurna.
Di bawah judul itu – dalam tanda kurung – tertulis: Pengumuman Pasukan di Daerah Ini pada Tanggal 1 Juli 1944.
Koran Borneo Sinbun cukup dikenal di Kalbar pada masa itu, karena penerbitannya sudah menginjak tahun kedua. Ukuran halamannya hanya sebesar kertas folio, 5 kolom, terdiri dari 4 halaman, terbit 3 x seminggu.
Tanggal 1 Juli 1944, tiga halaman pertama koran itu habis dimakan berita tersebut. Dalam tubuh berita (body text) antara lain tertulis: Oleh sebab itu baru-baru ini dalam Sidang Majelis Pengadilan Hukum Ketentaraan Angkatan Laut, kepala-kepala komplotan serta lain-lainnya telah dijatuhkan hukum mati, maka pada tanggal 28 Rokugatu (28 Juni 1944 – pen) mereka pun telah ditembak mati.
Setidaknya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo Sinbun hari itu, lengkap dengan keterangan umur, suku, jabatan atau pekerjaan. Mereka adalah: JE Pattiasina, Syarif Muhammad Alkadri, Pangeran Adipati, Pangeran Agung, Ng Nyiap Soen, Lumban Pea, Rubini (dr), Kei Liang Kie, Ny Nyiap Kan, Panangian Harahap, Noto Soedjono, FJ Loway Paath, CW Octavianus Lucas, Ong Tjoe Kie, Oeray Alioeddin, Gusti Saoenan, Mohammad Ibrahim Tsafioeddin, Sawon Wongso Otomodjo, Abdul Samad (Batak), Soenarco Martowardoyo (dr), M Yatim, Rd Mas Soediyono, Nasaruddin, Soedarmadi, Tamboenan, Thji Boen Khe, Nasroen St Pangeran (Batak), E Londak Kawengian, WFM Tewu, Wagimin bin Wonsosemito, Ng Loeng Khoi, Theng Swa Teng, RM Ahmad Diponegoro (dr), Ismail (dr), Ahmad Maidin (India), Amaliah Rubini (istri dr Rubini), Nurlela Panangian Harahap (istri Panangian), Tengkoe Idris, Goesti Mesir, Syarif Saleh, Gusti A Hamid, Ade M Arief, Goesti M Kelip, Goesti Djafar, Rd Abdulbahri Danoeperdana, M Taoefik, AFP Lantang, dan Rd Nalaprana. (Kaum-kerabat, anak-cucu korban, kini pasti ada bertebaran di Nusantara ini – pen).
Tuduhan terhadap para korban itu diungkapkan pula oleh Borneo Sinbun: Apa yang diidamkan oleh mereka ialah sambil mempergunakan kekalutan keamanan sewaktu Bala Tentara Dai Nippon memasuki daerah ini, melaksanakan kemerdekaan Borneo Barat dengan sekaligus.
Diungkapkan pula, penangkapan secara besar-besaran pertama kali dilakukan tentara Jepang subuh tanggal 23 Zyugatu (23 Oktober 1943 – pen), disusul penangkapan gelombang kedua subuh tanggal 24 Itigatu (24 Januari 1944 – pen).
Sekitar tiga tahun mendaulat Kalbar, tentara pendudukan Jepang telah membantai 21.037 warga Kalbar. Dari lingkungan Istana Kadriyah Pontianak, Jepang bukan cuma menangkap dan membunuh Sultan Syarif Muhammad Alkadri, tetapi juga 59 korban lainnya. Sungguh sedikit nama-nama korban yang tertulis di Borneo Sinbun itu.
Adapun data 21.037 korban ini terungkap dari mulut Kiyotada Takahashi seorang turis Jepang yang berkunjung ke Kalbar 21 – 22 Maret 1977 kepada H Mawardi Rivai (alm) seorang wartawan di Pontianak. “Saya ingat dan masih punya catatan tentang jumlah korban yang tertangkap ataupun terbunuh secara masal pada sekitar bulan Juni 1944, yaitu 21.037 orang. Tapi saya kurang mengetahui dengan pasti apakah semua tawanan itu dibunuh di daerah Mandor. Akan tetapi tentang jumlah korban tersebut pernah tercatat dalam sebuah dokumen perang yang tersimpan di museum di Jepang,” ucap Kiyotada Takahashi. Takahashi datang ke Pontianak bersama 21 orang turis Jepang lainnya, dan mereka sempat berziarah ke Mandor dan meneteskan air mata di sana.
Siapakah Takahashi? Ia bukan lain, mantan opsir Syuutizityo Minseibu yang pernah tinggal di Jalan Zainuddin Pontianak. Selain Takahashi, dalam rombongan itu terdapat beberapa orang lagi bekas Kaigun Minseibu yang pada hari tuanya telah menjadi pengusaha. Takahashi sendiri, pada tahun 1977 itu adalah Presiden Direktur perusahaan Marutaka House Kogyo Co Ltd.
Data akurat tentang jumlah korban ini memang belum ada, namun untuk sementara data inilah yang dijadikan pegangan Pemprov Kalbar. Sedangkan satu-satunya dokumen tertulis yang ada di Kantor Arsip Pemprov Kalbar hanya selembar suratkabar Borneo Sinbun tersebut. Itu pun hanya halaman 1 dan 2 saja. Namun dari beberapa sumber yang pernah membaca berita tersebut selengkapnya, di halaman 3 suratkabar itu disebutkan bahwa jumlah korban seluruhnya sekitar 20.000 orang!
Tempat pembantaian masal itu sesungguhnya tak hanya di Mandor dan Sungai Durian (sekarang: Bandara Supadio) Pontianak, tetapi juga di rimba pedalaman Kalbar. Sebab bersama tentara Jepang masuk ke Kalbar, ikut serta pula dua perusahaan yaitu Nomura yang bergerak di bidang pertambangan, dan Sumitomo di perkayuan (perkapalan). Kedua perusahaan ini, di-backing militer, menggunakan berpuluh ribu tenaga romusa. Contohnya, di pertambangan batu tungau (bahan mesiu) di Petikah Kapuas Hulu, sekitar 70.000 remaja tanggung dan lelaki dipekerjakan secara paksa.
H Abdurahman Banjar (78 th) seorang saksi hidup yang kini tinggal di Nanga Semangut Kabupaten Kapuas Hulu, ditangkap Jepang ketika tengah berjalan di pasar Pontianak. Ia dan para remaja lain yang ditangkap dimasukkan ke dalam truk, kemudian dinaikkan ke kapal dan dibawa ke hulu Sungai Kapuas. Ia menyaksikan dan merasakan sendiri hidup di “neraka Petikah”. Para remaja dan orang muda yang semula datang dengan badan sehat dan tubuh tegap, berangsur menjadi kurus-kering, bermata cekung, wajah pucat, kurang makan. Karena ketiadaan pakaian, ribuan manusia bekerja keras di tengah rimba hanya mengenakan cawat dari kulit kayu. Yang mati dan dibunuh, mayat-mayatnya langsung dikuburkan di bekas lubang galian yang tidak dipergunakan lagi.
Ketika Jepang kalah – menyerah tanpa syarat kepada tentara Sekutu – mereka meninggalkan ladang pembantaian Mandor dalam keadaan sangat memilukan. Di sana ditemukan sejumlah lapangan yang diberi tanda dengan tonggak kayu belian (ulin). Diperkirakan, itu merupakan makam masal yang sempat dikerjakan. Selain itu sekitar 3000-an kerangka manusia ditemukan berserakan di sana, telah bercerai-berai karena di makan babi hutan.
Nyonya Saddiah Mahidin Batubara (almh) asal Sipirok (Sumut) pada tahun 1977 bercerita: Suami saya – Mahidin Batubara – yang bekerja di Kantor Distribusi Pemerintah Jepang (SADIP) di kawasan Pelabuhan Seng Hie Pontianak, diambil Jepang dari kantornya pada bulan Maret 1944 sekitar pukul 10.00 pagi. Kami tak pernah bertemu lagi setelah itu. Setelah Jepang kalah, kami keluarga korban berkesempatan untuk datang ke Mandor. Sekitar 11 – 13 mobil yang dipergunakan. Bertindak selaku penunjuk jalan, beberapa orang Jepang yang tangannya diborgol dan dikawal oleh tentara Australia. Apa yang kami saksikan di Mandor, sangat memilukan. Banyak yang pingsan menyaksikannya. Di sana-sini tulang belulang berserakan. Kerangka-kerangka itu sudah bercerai-berai karena dimakan babi hutan. Di sana-sini terlihat pula bekas-bekas pakaian, baik pakaian pria maupun pakaian wanita. Bekas kain panjang wanita, saya kira ada 5 helai. Juga rambut wanita, setagen dan sandal. Dari sekian banyak barang yang terlihat, ada satu yang saya kenal betul, yaitu sebuah sisa celana. Ciri celana itu tidak umum, karena bawaan dari Medan. Ketika almarhum ditangkap, celana itulah yang dipakainya. Tapi yang mana kerangka almarhum, tak dapat ditemukan.
Saini Saad kelahiran Singkawang (Kalbar), berusia 22 tahun ketika Jepang masuk ke Kalbar tahun 1942. Setelah Jepang kalah, ia datang ke Mandor ikut menjadi pekerja pengumpul dan pembersih kerangka manusia yang dibunuh di sana. Pengumpulan tulang belulang itu dikerjakan mulai akhir tahun 1945 hingga awal tahun 1946, selama tiga bulan!
“Kami mengumpulkan semua tulang belulang yang berserakan, juga tulang belulang yang kami temukan tertumpuk di dalam parit-parit dangkal. Setiap kali ditemukan, selalu saja tengkorak kepala itu terpisah dari kerangka tubuh. Malah dalam jarak yang agak berjauhan. Oleh sebab itu saya yakin, korban dibunuh dengan cara dipancung dengan samurai. Dugaan ini diperkuat dengan melihat adanya bekas-bekas bangku kayu yang berdekatan dengan parit-parit. Saya kira, sebelum dibunuh, korban disuruh duduk di atas bangku itu menghadap ke parit. Lalu diperintah sedikit membungkuk. Dan pada ketika itulah samurai Jepang diayunkan. Tubuh korban dengan sendirinya akan jatuh ke parit. Kalaupun tidak, hanya dengan dorongan sedikit saja tubuh korban pasti masuk ke parit. Setiap bertemu tengkorak kepala, meskipun telah terpisah dari rahang bawahnya, saya selalu mengamati apakah tengkorak itu ada mengalami cacat seperti retak bekas pukulan ataupun berlubang bekas peluru. Tak satupun saya temukan hal yang demikian. Tugas kami hanya mengumpulkan dan membersihkan tulang-belulang yang berserakan, yang belum dikubur. Tulang belulang itu dikuburkan secara masal di 10 lokasi makam. Sebuah di antaranya diperuntukkan bagi kerangka korban yang diangkut dari Sungai Durian Pontianak. Sebuah lagi, yang agak dekat dan berada di atas bukit kecil, dikatakan oleh orang-orang Belanda sebagai makam raja-raja. Makam itulah yang pertama dikerjakan penyemenannya,” tutur Saini Saad tahun 1977 di Mandor kepada penulis. Kini dia sudah almarhum.
Setelah pemakaman seluruh kerangka korban selesai dilakukan, di pintu masuk ke areal tersebut dibangun sebuah pintu gerbang beton yang sederhana, diberi bertulisan: Ereveld Mandor. Letaknya di tepi jalan Pontianak – Sanggau.
Tahun demi tahun setelah itu berlalu dalam kelengangan alam. Hutan kayu jenger, beragam anggrek dan berbagai jenis kantung semar tumbuh subur di areal tanah berpasir tersebut. Bertahun kemudian, kawasan itu bagaikan tersembunyi oleh alam. Bagaikan terkucil. Citra paling ngeri seperti menggelantung di sana.
Baru pada tahun 1973 timbul prakarsa untuk melakukan ziarah masal setiap tahun. Hal ini dilakukan pertama kali pada tanggal 28 Juni 1973, dipimpin langsung oleh Gubenur Kalbar pada masa itu: Kadarusno. Keadaan dan suasana di kompleks pemakaman Mandor itu masih berhutan, jalan masuk baru dibersihkan sekadarnya.
Ustaz H Djamhur Rafi (alm) yang memimpin pembacaan doa pertama kali pada ziarah masal awal itu bercerita: Waktu pembacaan doa dilakukan di salah satu makam masal, saya memimpin pembacaan doa sambil berdiri. Demikian juga para hadirin lainnya. Namun waktu pembacaan doa dimulai, saya tak sanggup meneruskannya. Berkali-kali saya coba, selalu demikian. Hadirin tampak gelisah, saya sendiri berkeringat dingin. Pundak saya terasa seperti ditekan beban yang sangat berat, sehingga napas saya menjadi sesak dan tak sanggup meneruskan pembacaan doa. Akhirnya saya mengajak para peziarah untuk melaksanakan pembacaan doa sambil duduk. Aneh, tekanan di pundak saya jadi hilang, saya bisa bernapas leluasa. Pembacaan doa berjalan lancar.
Pada tahun 1976/1977 Pemerintah Daerah Tingkat I Kalbar membangun sebuah monumen di Mandor. Kompleks monumen dilengkapi pula dengan plaza yang luas, di kiri-kanan menumen dibuat dinding beton, masing-masing berukuran 15 x 2,5 m berhiaskan relief. Monumen ini diarsiteki oleh Ir M Said Djafar, pelaksana pembangunan H Fachrozi BE (CV Nokan Nayan, Ptk). Desain relief oleh seniman lukis Kalbar Syekh Abdul Aziz Yusnian, pembuatan relief oleh Hermani Cs seniman Jogjakarta. Tiga nama yang disebut terakhir ini sudah almarhum.
Monumen ini berjarak sekitar 500 meter dari gerbang “Ereveld Mandor”, berjarak sekitar 1 km dari makam masal pertama yang terdekat.
Monumen tersebut diresmikan bersempena dengan ziarah masal tanggal 28 Juni 1977, dan diberi nama: Monumen Makam Juang Mandor. Pintu gerbang “Ereveld Mandor” diganti dengan pintu gerbang yang lebih kokoh dan anggun.
Dengan Perda No. 5 Tahun 2007, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan tanggal 28 Juni sebagai: Hari Berkabung Daerah (HBD) Kalbar. Pengibaran bendera setengah tiang tanggal 28 Juni di Kalbar, dimulai pada tahun 2007.
Hari ini Kalbar berkabung atas malapetaka yang ditimbulkan oleh tentara pendudukan Jepang tahun 1942 – 1945. Mandor menyimpan duka rakyat Kalbar dari berbagai etnik, warna kulit, suku dan agama. Mandor pernah tergenang darah, namun hanya ada satu warna darah: merah!
Gubernur Kadarusno dalam kata sambutannya pada peresmian Monumen Makam Juang Mandor tanggal 28 Juni 1977 antara lain berkata,”Pembangunan monumen di Mandor ini dimaksudkan sebagai monumen sejarah perjuangan bangsa. Bukan dengan maksud untuk menyembah sesuatu makam. Dan bukan pula untuk menanamkan dan mengabadikan rasa benci atau rasa dendam kepada bangsa Jepang sebagai bangsa penjajah.”

1 comment:

Linda said...

Thank you for sharing this. Now I know more about my grandfather! Opa CWO Lucas and Tante Elsje Lucas