Friday, June 29, 2007

Arti Monumen Mandor Bagi Perjuangan Bangsa Indonesia


Oleh: Basrin Nourbustan

Mandor, sebuah kota kecil, ibukota Kecamatan Mandor, Kabupaten Pontianak (sekarang Kabupaten Landak-red). Terletak sekitar 89 km sebelah Timur Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.
Kota kecil tersebut mempunyai arti penting dan mengandung kenangan yang dalam di hati sanubari setiap pendudukan Kalimantan Barat. Karena di kota itulah 33 tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal 28 Juni 1944, tentara pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II melakukan pembunuhan missal terhadap pemimpin politik, pemuka masyarakat serta kaum cerdik pandair dan raja-raja di Kalimantan Barat.
Kini di kota kecil itu telah berdiri dengan megah sebuah monument. Monumen sejarah bangsa yang akan selalui mengisahkan betapa kekejaman bangsa asing sipenjajah, tetapi sebaliknya monument itu menggambarkan betapa berani dan nekadnya perlawanan rakyat terhadap penjajahnya. Untuk pembangunan monument yang menjadi idaman rakyat Kalimantan Barat sejak lama itu, pmerintah daerah dengan persetujuan DPRD provinsi mengeluarkan anggaran belanja tahun 1977/1978 sebesar Rp48 juta. Untuk pembiayaan pintu gerbang, jalan, monument, plaza serta rumah petugas, pemugaran makam missal serta bangunan penyerta lainnya.
Peresmian monument Mandor dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat, Kadarusno, hari Selasa tanggal 28 Juni 1977 bersamaan dengan ziarah missal secara tradisional yang diikuti para ahli waris korban, pejabat pemerintahan serta masyarakat umum.

Kisah relief
Monumen Mandor dilengkapi dengan lukisan relief memanjang yang melukiskan kisah kejadian sebenarnya antara tahun 1942 hingga tahun 1945 di Kalimantan Barat. Bahagian pertama melukiskan kedatangan Angkatan Laut Jepang ke Kalimantan Barat seraya merampas harta milik penduduk terutama perhiasan emas dan berlian dan melakukan perkosaan terhadap kaum perempuan terutama gadis-gadis.
Karena tidak senang melihat tingkah laku tentara Jepang itu, maka pemuka masyarakat dan cerdik pandai bersama raja-raja mengadakan usaha perlawanan. Dimulai dengan rapat-rapat tersembunyi. Bahagian ketiga lukisan itu menggambarkan usaha perlawanan berhasil diketahui oleh pihak tentara Jepang yang dilanjutkan dengan penangkapan-penangkapan. Bahagian berikutnya menggambarkan pemeriksaan serta penyiksaan-penyiksaan dan pembunuhan. Klimak dari lukisan itu menggambarkan perlawana rakyat terhadap tentara Jepang di bawah pimpinan Panglima Pang suma, seorang Panglima adapt Dayak di Meliau, kabupaten Sanggau. Panglima Pang suma berhasil membunuh beberapa perwira Jepang. “Relief ini melukiskan bahwa cacingpun akan melawan bila terus-menerus diinjak-injak,” komentar seorang pengunjung pada hari pembukaan monument tersebut.
Dua versi
Mengenai jumlah korban yang terbunuh dan terkubur secara massal di Mandor itu sampai dewasa ini terdapat dua versi. Versi pertama bersumber dari orang-orang yang menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Yamamoto, Komandan Kompeitai jepang di Kalimantan Barat tahun 1942-1945.
Yamamoto oleh Pengadilan Militer Sekutu dinyatakan bersalah sebagai penjahat perang. Ia dijatuhi hukuman mati di depan regu tembak di lapangan terbuka, yang menjadi lapangan sepak bola Khatulistiwa (saat ini markas Poltabes Pontianak).
Pasukan sekutu yang mengambil alih kekuasaan dari Jepang di Kalimantan Barat dipimpin oleh Jenderal Sir Thomas Albert Blamey GBE, KCB,CMG,DSO, ED; pemimpin tertinggi tentara Australia. Karena pelaksanaan hukuman mati itu berlangsung di tempat terbuka, maka masyarakat umum turut menyaksikannya. Di antara orang-orang yang menyaksikannya terdapat Sultan Hamid II, guru-guru dan murid-murid sekolah.
Menurut keterangan orang-orang yang menyaksikan saat Yamamoto akan ditembak mati, Pengadilan Sekutu memenuhi permintaan Yamamoto untuk mengemukakan sesuatu beberapa menit sebelum hukuman dilaksanakan. Bekas komandan Kompeitan itu mengemukakan, bahwa dia merasa ikhlas menerima hukuman itu, karena merasa seimbang dengan korban yang dibunuh atas tanggungjawabnya sejumlah 50.000 orang.
Mayat Yamamoto kemudian dikubur dekat komplek Kantor Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat sekarang (di Jl Sutan Syahrir, Kota Baru). Sekitar tahun 1971, seorang penggali parit menemukan mayat tersebut dalam keadaan sebagian masih utuh. Selanjutnya memindahkan kuburannya ke tempat lainnya. Menurut keterangan, mayat Yamamoto oleh pihak kedutaan Besar Jepang di Jakarta telah diangkut ke negerinya.
Versi ini kemungkinan benar, sebab berdasarkan pengakuan dari orang yang langsung bertanggungjawab atas pembunuhan itu, yaitu Yamamoto. Tetapi sebaliknya mungkin juga tidak benar, sebab Yamamoto mengucapkannya pada saat dia akan ditembak mati. Sehingga besrakemungkinan factor perasaannya sangat mempengaruhi, terutama sikap kepahlawanan terhadap negerinya, sehingga ingin menyatakan, bahwa kematiannya sendiri berbanding dengan kematian penduduk daerah itu sebanyak 50.000 orang.
Sedangkan versi lain bersumber dari keterangan Kiyotada Takahashi, seorang wartawan Jepang yang berkunjung ke Kalimantan Barat tanggal 21 sampai 24 Maret 1977. Dia datang bersama 20 orang temannya yang umumnya pernah bertugas di Kalimantan Barat tahun 1942-1945.
Dia menjelaskan jumlah korban ketika Jepang menduduki Kalimantan Barat seluruhnya 21.037 orang. Dokumen mengenai itu telah diserahkannya kepada sebuah museum di Jepang.
Untuk menemukan angka yang pasti mengenai jumlah korban tersebut, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat dewasa ini mempersiapkan sebuah tim. Kemungkinan tim tersebut akan dikirim ke Jepang mengunjungi museum yang disebutkan oleh Kiyotada Takahashi itu.
Komplotan besar
Surat kabar “Borneo sinbun” yang terbit Sabtoe 1 sitigatu 2604 menurunkan berita utama berjudul “Komplotan Besar yang mendoerhaka oentoek melawan Nippon soedah dibongkar sampai ke akar-akarnya”. Kepala-kepala komplotan serta lain-lainnya ditembak mati. Keamanan di Borneo-Barat tenang kembali dengan sempoerna. (Pengoemoeman Pasoekan di daerah ini pada tanggal 1 sitigatu 19 Syowa).
Surat kabar yang terbit tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu itu dipimpin oleh R. Koakimoto, kini merupakan sumber yang paling penting sebagai bahan penelitian kejadian tahun 1942-1945.
Pada halaman depan yang memuat berita utama itu, dimuat foto beberapa pemimpin yang disebutkannya sebagai komplotan besar melawan Jepang. Antara lain Foto Pangeran Adipati (pewaris kesultanan Pontianak), Panangian, J.E Pattiasina, Noto Sudjono, C.W Octavianus Lucas, Raden Nalaprana, Ong Tjoe ie, Ng Ngiap Soen, Kai Liang Kie dan Ny. Amaliah Rubini (istri Dr Rubini).
Penangkapan pertama berlangsung tanggal 23 Zyugatu 1943 dan kedua tanggal 24 Irigatu 1944. Kedua kali penangkapan itu berlangsung waktu subuh. Mereka yang ditangkap itu langsung disungkup kepalanya dengan selipi (kantong yang dibuat dari daun nipah atau daun pandan). Sebagian dibunuh di Pontianak tetapi sebagian besar di Mandor, Kabupaten Pontianak (sekarang Kabupaten Landak).
Di antara korban terdapat Sultan Pontianak bersama 60 orang keluarganya, 11 orang panembahan (raja) dari kerajaan-kerajaan kecl di seluruh Kalimantan Barat, lima orang dokter, pemimpin politik serta pemuka masyarakat.
Dokter Rubini dan istrinya, Ny. Amaliah Rubini termasuk korban yang dibawa ke Mandor. Beliau adalah mertua Mayjen Wiyogo, Gubernur AKABRI udara di Magelang sekarang (1977). Seorang korban lainnya adalah paman dari Sunardi DM, Sekjen PWI Pusat sekarang (1977).
Menurut Borneo sinbun, pemimpin pergerakan itu 48 orang. (Daftar nama sama seperti yang selalu dipublikasikan media massa saat ini).
Nissinkai
Ketika Balatentara Dai Nippon memasuki Kalimanta Barat, di daerah itu telah berdiri 13 perkumpulan yang cukup berpengaruh. Pemimpin militer Jepang memerintahkan organisasi tersebut dibubarkan dna dilarang. Ketiga belas organisasi tadi dikatakan di bawah pengaruh Parindra.
Perintah pemimpin militer tersebut menimbulkan kegelisahan dalam mayarakat. Dalam pada itu muncullah kelompok lain yang menawarkan persatuan, untuk menjaga kerukunan dan menghilangkan perselisihan antarbekas anggota ke 13 organisasi tadi. Borneo sinbun tidak mengungkapkan lebih lanjut ketiga belas organisasi yang dimaksudkan itu. Tetapi mengatakan kemudian muncullah sebuah organisasi baru yang berpura-pura memihak. Organisasi itu diberi nama “Nissinkai” yang pembentukannya diusahakan oleh Pangeran Agung, Sekretaris Sultan Pontianak. Dr Rubini, Ng Ngiap Soen, Pattiasina. Mereka memilih Noto Soedjono sebagai pemimpinnya. Maksud organisasi itu tetap yakti melawan Jepang. Mereka melalui operator radio sering mengikuti siaran radio Amerika dan Inggris.
Pada perkembangan berikutnya dalam “Nissinkai” bergabung pula pewaris Kesultanan Pontianak Pengeran Adipati dan para panembahan seluruh Kalimantan Barat, kaum cerdik pandai dan pemuka masyarakat.

Hubungan dengan Banjarmasin
Besar kemungkinan gerakan “Nissinkai” di Kalimantan Barat yang berpusat di Pontianak itu mempunyai hubungan dengan gerakan yang ada di Kalimantan Selatan yang berpusat di Banjarmasin. Hal itu ditandai oleh datangnya utusan Banjarmasin ke Pontianak dalam tahun 1944. Utusan itu terdiri dari Dr Susilo dan Makaliwe. Mengenai Makaliwe ini pun tidak jelas. Ada keterangan yang mengatakan beliau adalah dr Makaliwe yang namanya diabadikan dengan nama jalan di daerah Grogol, Jakarta.
Setibanya di Pontianak, kedua utusan Banjarmasin itu mendapat keterangan, bahwa di Banjarmasin telah terjadi penangkapan-penangkapan oleh Jepang. Berita itu disampaikan kepada pimpinan “Nissinkai”. Organisasi ini kemudian segera membentuk pasukan yang diberi nama Pasukan Suka Rela atau pasukan Penyerbuan Bersenjata. Mereka merencanakan penyerbuan ke markas Keibitai, merebut senjata dan melancarkan gerakan serentak di seluruh Kalimantan Barat pada permulaan Zyunigatu tahun 18 Syowa, sebagai hasil rapat di gedung “Medan Sepakat”, (sekarang Jl Jendral Urip, gedung PPM) Pontianak dua hari sebelumnya yang dihadiri 69 orang. Tetapi saying, sebelum gerakan dilancarkan, mereka telah ditangkap oleh dinas rahasia Jepang. Mereka semuanya, termasuk kedua orang utusan dari Banjarmasin tersebut diangkut oleh Kompeitai dan dibunuh tanggal 28 Juni 1944.

Mengabadikan semangat perjuangan
Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Barat Kadarusno yang memimpin pemugaran makam-makam pahlawan di daerha itu, ketika meresmikan monument perjuangan Mandor, mengatakan usaha ini bukanlah berarti memuja makam-makam atau menanamkan dan mengabadikan rasa dendam terhadap bangsa Jepang, tetapi usaha ini bermaksud mengabadikan sejarah perjuangan bangsa yang mengandung patriotisme dan semangat kepahlawanan serta mengabadikan pengorbanan yang pernha diberikan oleh pejuang-penjuang itu.
Mandor kini tidak lagi dianggap sebagai tempat angker, tetapi sebaliknya merupakan salah satu tempat atau obyek pariwisata. Turis dari dalam dan luar negeri semakin sering berkunjung ke sana, termasuk turis dari Jepang. Monumen perjuangan Mandor kiri berperanan pula menilai keadaan dimasa yang lalu dan menjadi pula monument pangkal tolak hubungan baru antara rakyat Indonesia di Kalimantan Barat dengan rakyat Jepang yang juga mengalami kesangsaraan semasa Perang Dunia II yang amat dahsyat itu.
(tulisan pernah dimuat pada rubric Spektrum/Karangan Khas pada 26 Juli 1977: di Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA. Penulis dahulu merupakan wartawan yang juga Kepala LKBN ANTARA Biro Pontianak).
Foto: By Lukas B Wijanarko/Borneo Tribune