Thursday, June 28, 2007

Wujudkan “Makam Pahlawan” Mandor (bagian 4)


Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak

30 Juli 2005 satu team berangkat ke Makam Juang Mandor. Tujuan keberangkatan untuk mengecek sekali lagi kondisi sebenarnya daerah “paling” bersejarah tersebut dalam “genocida” di Kalbar.
Genocida atau pembunuhan besar-besaran yang dilakukan Dai Nippon Jepang itu dalam kurun waktu 1942-1945. Jumlah korban ada beberapa pendapat, namun yang umum dipakai adalah 21.037 jiwa.
Mereka yang berangkat ketika itu adalah mereka yang punya kepedulian secara akademis maupun pers seperti Turiman dan istri, Andreas Acui Simanjaya, Andi Muzammil (kini almarhum), Stefanus Akim, Asriyadi Alexander Mering dan Leo Prima. Selain mendokumentasikan gambar-gambar terbaru, juga dibuatkan film dokumenternya. Film dokumenter itu masih terarsip hingga sekarang sebagai bagian dari rangkaian sejarah dulu dan sekarang.
Hasil dari ekspedisi sederhana itu sudah dipresentasikan dalam berbagai diskusi di berbagai kelompok masyarakat Kota Pontianak pada khususnya dan Kalbar pada umumnya sehingga akhirnya tampil dalam seminar nasional Agustus 2005 melalui kegiatan HUT RI bersama Pemprov Kalbar.
Demi melihat satu makam yang nyaris tergerus penambangan emas tanpa izin di kawasan Mandor, peserta seminar nasional terhenyak. Secara psikologis peserta koor setuju agar Makam Juang Mandor diberikan perhatian ekstra serius. Salah satu cara yang strategis adalah meningkatkan status “makam juang” menjadi Makam Pahlawan.
Ide tersebut bukan tak masuk akal. Pertama, para tokoh yang tewas adalah pejuang-pejuang bangsa. Betapa tidak diragukan kejuangan Raja Pontianak, Sultan Muhammad, Pangeran Agung, Ade Muhammad Ari (Panembahan Sanggau, Syarief Umar Alqadrie (Demang Siantan dan Sungai Kakap, Raden Abdul Bahry Daru Perdana (Panembahan Sintang), Gusti Abdul Hamid (Panembahan Ngabang), Muhammad Taufik (Pangeran Mempawah), Sawon Wongso Atmodjo (Kepala Jaksa Pontianak), dan lain-lain yang tentu saja tidak cukup dituliskan satu per satu melainkan hanya cukup dalam bentuk buku ensiklopedi para korban Mandor.
Tokoh pers Kalbar yang juga budayawan, HA Halim Ramli ketika menjadi pembicara dalam seminar nasional dua tahun lalu itu bahkan menyatakan bahwa di Petikah, Kabupaten Kapuas Hulu juga ada perjuangan dalam melawan praktik romusha yang dilakukan Jepang. Hanya saja perjuangan di Petikah Kabupaten Kapuas Hulu itu tak tercatat oleh sejarah nasional. Boro-boro bisa masuk kurikulum pendidikan nasional sehingga aklamasi nasional perlunya Makam Pahlawan di Mandor. Oleh karena itu bagi kita semua patut memperjuangkan Mandor dalam segala aspeknya menjadi Makam Pahlawan karena kita bisa membuktikannya. Dengan peningkatan status dari taman makam juang ke Taman Makam Pahlawan praktis alokasi dana Pusat untuk perawatan makam pun akan meningkat-tidak semata-mata ke Kabupaten Landak atau Pemprov Kalbar. Dengan demikian aspek positif “wisata” sejarah dengan segala manfaatnya bagi generasi muda juga dapat dijamin akan terus dipelihara secara sistematis dan sistemik. (Bersambung).


Foto: By Lukas B Wijanarko
Versi cetak diterbitkan Borneo Tribune tanggal 24 Juni 2007

No comments: